Frans Watu: Jokowi Perlu Evaluasi Badan Intelejen Negara

Bagikan Artikel ini

Jakarta, NTTOnlinenow.com – Sekretaris Jenderal Kibar Indonesia Frans Watu merasa berduka, sedih dan kecewa terkait insiden bom di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur. Menurut Frans, aparat keamanan harusnya lebih siap setelah terjadinya insiden di Mako Brimob dan tewasnya Intel Brimob asal Alor NTT Bripka Anumerta Marhum Frencje dan penangkapan dua wanita yang akan melakukan aksi amaliah penusukan terhadap anggota Brimob di Mako Brimob (11/5/2018).

“Kejadian demi kejadian ini bukan suatu kenbetulan. Ini merupakan grand desain yang dilakukan kelompok teroris dan kelompok radikal, Pak Jokowi harus mengevaluasi badan intelejen kita agar menjelang Asian Games dan memasuki tahun politik negeri ini tetap sejuk dan damai,” kata Frans Watu di Jakarta, Minggu (13/5).

Frans juga meminta Presiden Joko Widodo melakukan evaluasi terhadap badan intelejen dan pimpinan penegak hukum. Apalagi, ulah teroris beraksi berturut-turut, ini gambaran ketidakmampuan intelejen dan aparatur penegak hukum.
“Badan Intelijen kita yang harus bekerja lebih keras. Saya tidak mengkritisi hal lain, tetapi fokus konsentrasi pada misi bidang tugas yang telah diamanatkan,” katanya.

“Sekali lagi saya katakan presiden harus bertindak tegas kali ini, repositioning siapa saja yang perlu. Buktikan negara hadir untuk atasi itu. Bisa mengatasi bahaya terorisme ini,” imbuhnya.

Diketahui, Polda Jawa Timur menjelaskan hasil identifikasi sementara di 3 gereja yang meledak di Surabaya ada enam korban tewas dan 35 korban mengalami luka. Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera menjelaskan dari enam korban tewas di Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB) di Ngagel ada tiga orang, GKI Diponegoro satu orang dan GPPS Sawahan Arjuno ada satu orang.
Frans sebelumnya menyebutkan korban yang meninggal di GKI Diponegoro merupakan ibu-ibu. Sementara, Frans sebelumnya juga menyebutkan korban di Gereja Santa Maria di antaranya satu jemaat dan satu pelaku.

 

Pernyataan Sikap Kibar

Kibar Indonesia dengan tegas mengutuk insiden Surabaya dan meminta Presiden Jokowi bertindak tegas sehingga Negara hadir dan menjamin keamanan bagi rakyatnya.

Presiden perlu memastikan semua stakeholder dibawahnya bekerja dengan serius dan professional. Presiden perlu memanggil Menkopolhukam, Kepala BIN dan Kepala Kepolisian untuk memastikan kinerja ketiga lembaga ini.

DPP Kibar Indonesia menyatakan sikap :
1. Mengecam dengan keras perbuatan brutal teroris yang mengatasnamakan agama.
2. Menyatakan turut berbelasungkawa dan duka cita yang mendalam bagi korban yang tertimpa musbah tersebut.
3. Mendukung langkah aparat keamanan untuk segera menangkap pelaku teroris dan membumi hanguskan jaringannya.
4. Menghimbau seluruh elemen bangsa untuk tetap bersatu, mari kita lawan radikalisme dan mengawal pemerintahan Joko Widodo demi tegaknya Pancasila, UUD 45, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI sebagai konsensus bangsa dan bernegara.
5. Mendorong DPR agar segera menuntaskan UU Anti Teroris jika tidak kami minta Presiden Joko Widodo mengeluarkan Perpu agar pihak keamanan dapat bekerja maksimal menuntaskan teroris di bumi Indonesia.