Program Full Day School Sulit Diterapkan di NTT
Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Program Full Day School yang digulirkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan sangat sulit di terapkan di sebagian besar sekolah-sekolah di daerah terpencil seperti di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Hal ini disampaikan anggota DPRD NTT, Patris Lali Wolo kepada wartawan di Kupang, Rabu (24/8).
Menurut Patris, program full day school yang diwacanakan mestinya terlebih dahulu melalui kajian secara komprehensif mencakup seluruh provinsi di Indonesia.
Patris mengatakan, program full day school harus ditinjau kembali sebelum ditetapkan sehingga peserta didik tidak menjadi kelinci percobaan dalam penerapan sebuah program.
“Jangan sampai wacana penerapan program itu hanya berpatokan pada sekolah-sekolah di ibu kota kabupaten/kota dan atau di kota- kota besar seperti Jakarta,” kata Patris.
Patris mengungkapkan, kajian yang mesti dilakukan itu antara lain, soal waktu bermain anak, jarak tempuh dari sekolah ke rumah, dan kesejahteraan guru. Jika anak-anak harus bersekolah dari pagi sampai sore, maka tumbuh kembang anak SD sebagai masa-masa emas dikorbankan. Di usia SD, selain belajar mereka juga masih harus bermain. Sebab anak SD memerlukan waktu untuk banyak mengenal lingkungan sekitar dengan cara bermain.
“Jika anak dijejali dengan pelajaran dari pagi sampai sore, dipastikan daya serap anak tidak maksimal,” ujar Patris.
Sementara itu, lanjut Patris, jarak tempuh dari sekolah ke rumah atau sebaliknya terutama di daerah-daerah terpencil masih sangat jauh, bahkan lebih dari lima kilometer. Jika mereka pulang dari sekolah sudah sangat sore, tentunya dapat mengancam keselamatan mereka dalam perjalanan.
Patris menyampaikan, guru pun tidak mungkin mendampingi anak murid secara maksimal, karena energi pasti terkuras. Dengan demikian, materi yang diajarkan kepada para peserta didik pun menjadi tidak efektif. Hal ini ditambah lagi dengan daya serap para murid yang dipastikan tidak utuh.
Apalagi, lanjutnya, tingkat kesejahteraan guru tidak diperhatikan atau dikaji secara matang, terutama guru kontrak atau honor yang gajinya sangat minim. Untuk menutupi kekurangan dimaksud, para guru mengerjakan usaha ekonomi produktif pada sore harinya setelah pulang sekolah.
“Wacana full day school harus dikaji lebih komprehensif dari berbagai aspek. Dikuatirkan, jika dipaksakan untuk diterapkan, kualitas pendidikan menjadi turun,” tandas Patris.

