Pelanggan Resah, Jaringan Telkomsel di Batas RI-RDTL Sering Gangguan
Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Dalam dua pekan terakhir di wilayah Kabupaten Belu yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste sering terjadi terganggu jaringan telekomunikasi dan jaringan internet.
Keresahan pun timbul di kalangan masyarakat akibat sering terjadinya gangguan jaringan telekomunikasi. Tidak terkecuali Kapolres Belu, AKBP Yandri Irsan juga merasa resah dengan gangguan jaringan tersebut.
“Kalau kedaulatan NKRI di perbatasan Belu harga mati. Tapi kedaulatan jaringan telekomunikasi atau signal kita tidak ada, jaringannya sering hilang muncul,” sebut Kapolres Yandri kepada awak media, Selasa kemarin.
Dikatakan, gangguan akses jaringan atau signal dan internet telkomsel di wilayah Kota Atambua dan Kabupaten Belu secara keseluruhan sering terjadi pada jam atau saat tertentu. Hal ini pertanda bahwa Negara Indonesia belum berdaulat atas jaringan telekomunikasi di perbatasan Belu.
“Akhir-akhir ini jaringan dari Timor Leste sering nyusup sampai Kota Atambua. Terlebih pada jam tertentu di malam hari, sehingga jaringan Telkomsel hilang. Kita mau internet juga susah karena jaringan signalnya tidak ada,” ujar Yandri.
Baca juga : Kolaborasi KP 17 dan Inkai Belu Latih Atlet Jelang Kejurda
Dikatakan, hal tersebut tidak disadari oleh pihak Perusahaan Telkomsel dan Pemerintah Pusat, kalau jaringan telekomunikasi Indonesia di tapal batas Belu masih dijajah jaringan luar negeri (menerobos masuk wilayah Indonesia, red).
Apabila hendak bepergian ke perbatasan Mota’ain, jelas Yandri handphonenya selalu dimatikan sebelum tiba di wilayah Desa Silawan perbatasan Negara Indonesia dan Timor Leste itu, karena takut kena roaming.
“Sinyal kita di Atambua lemah. Kalau mau ke Mota’ain HP saya matikan terlebih dahulu karena otomatis takut roaming,” kata dia.
Dikatakan, dirinya juga bingung dengan kondisi tersebut, masa di wilayah Indonesia sendiri bisa terkena roaming. Sebagai penyedia layanan hal ini yang belum disadari pihak Telkomsel dan Pemerintah Indonesia.
“Sebagai penyedia layanan itu tidak disadari Telkom dan Pemerintah Pusat. Kita disini internet juga susah, kalau bisa signal kita di perbatasan Belu jangan lemah. Hal ini sudah saya sampaikan,” ucap Yandri.

