25 Pelajar di Belu Ikut Lomba Puisi Bahasa Kemak Dirubati, Cara Melestarikan Kebudayaan Daerah

Bagikan Artikel ini

Laporan Yan Manek
Atambua,NTTOnlinenow.com-Suku Kemak Dirubati di Kabupaten Belu perbatasan RI-RDTL terus berupaya menjaga bahasa daerah di tengah modernisasi sehingga tidak punah dan tetap dilestarikan melalui lomba puisi bahasa Kemak Dirubati.

Kegiatan melibatkan 23 peserta dari 5 SMAN dan SMKN yang basis penuturan bahasa Kemak dan 1 siswi SD peserta favorit asal Desa Sadi bertajuk “Peran Generasi Muda Dalam Melestarikan Kekebudayaan Suku Kemak” berlangsung di rumah adat Bey Leto, Kuneru, Kelurahan Manumutin, Kecamatan Kota Atambua, Jumat (8/10/2026).

Hadir dalam kegiatan itu, Ketua Perkumpulan Korel Dirubati Ana yang juga Tokoh Adat Suku Kemak Dirubati, Djoese S. Martins Naibuti, Anggota DPRD NTT, Kepala Kantor Cabang Dinas Wilayah II Provinsi NTT, Kadis Pariwisata Belu, Kepala UPTD SMA/SMK cabang Belu, Camat Kota, serta tamu undangan lainnya.

Menurut Djose Naibuti, kegiatan lomba puisi bahasa Kemak Dirubati yang diselenggarakan hari ini lahir lahir dari sebuah evaluasi bahwa bahasa-bahasa daerah kita sudah mulai banyak yang terancam punah karena penuturnya berkurang.

“Dan salah satu aktor yang penting yang berperan dalam melestarikan kebudayaan adalah generasi muda. Oleh karena itu, butuh skenario, strategi untuk mengajak keterlibatan generasi muda, salah satu yang dipilih adalah lomba puisi,” ujar dia.

Jelas Djose, tujuan lomba puisi bahasa Kemak Dirubati ini untuk melestarikan kebudayaan daerah khususnya suku Kemak pada umumnya di perbatasan Belu. Karena bahasa Kemak sendiri kurang lebih ada sembilan dialeg.

Tujuan berikutnya adalah, bagaimana kedepan puisi-puisi ini akan didokumentasikan dan direncanakan menjadi sebuah buku, dan bagaimana kita melatih generasi-generasi muda untuk mencintai budayanya, merasa memiliki dan berupaya untuk melestarikan.

“Selain lestarikan budaya suku Kemak, lomba puisi ini juga melatih jiwa kepemimpinan anak-anak sekalian untuk berani tampil, berani bicara di depan umum dan berani menyampaikan pesan-pesan tentang kebudayaan, tentang kemanusiaan melalui berbagai event,” sebut dia.

Lanjut Djose, kepada Pemerintah tentunya sangat dibutuhkan dukungannya untuk bagaimana mendata seluruh aset-aset budaya kita untuk dilestarikan.

“Selain itu kalau bisa kedepan ini dijadikan event rutin dan dijadikan kurikulum-kurikulum watan lokal di seluruh jajang pendidikan mulai dari SD dan seterusnya,” pinta dia.

Sementara itu, Bupati Belu Willybrodus Lay diwakili Kepala Dinas Pariwisata, Januari Nona Alo menyampaikan apresiasi kepasa keluarga suku Kemak Dirubati terutama Bapak Djose Naibuti yang menginisiatif kegiatan lomba puisi bahasa Kemak Dirubati bagi pelajar SMAN/SMKN di Belu.

Ini kegiatan perdana, sebelumnya dua tahun lalu juga digelar lomba pidato bahasa Kemak di tempat ini. Hari ini peserta hanya lima sekolah, karena lima sekolah ini yang penutur bahasa Kemak, jadi tidak libatkan sekolah lain karena bukan penutur bahasa Kemak,” terang dia dalam sambutannya sekaligus membuka kegiatan lomba.

Nona Alo juga mengucapkan terima kasih untuk Bapak Jose sebagai seorang putra Belu secara khusus putra Kemak yang sangat fokus untuk bidang budaya. Dan dari tangan Bapak Jose juga sudah terbit Kamus Bahasa Kemak.

“Harapan kita semoga generasi muda yang ada mengikuti lomba ini, ada yang sudah dua kali bisa mencontohi semangat Bapak Djose. Karena, terus terang, untuk penutur bahasa daerah ada beberapa bahasa daerahnya hampir punah, karena penuturnya tidak ada lagi,” ungkap dia.

Lebih lanjut Nona Alo menyampaikan terima kasih, lewat tangan Pak Djose bahwa untuk masyarakat Kemak sudah dua warisan budaya tak benda yaitu Matekio dan Saosele diakui di 2026 dan satu saat bisa juga Kemak-Kemak lainnya bisa diusulkan.***