RDP Klarifikasi Excavator Tak Dihadiri Bupati Belu. Warga : Kami Menyesal Kenapa Tidak Mau Bertemu
Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Rapat Dengar Pendapat (RDP) lintas Komisi bersama umat dan pengurus Pastoral Paroki Stella Maris Atapupu guna mengklarifikasi polemik bantuan excavator dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia berujung penyesalan.
Pasalnya, RDP yang dilaksanakan DPRD Belu guna klarifikasi bantuan exca itu tidak dihadiri Bupati Belu, Willybrodus Lay justru menghadirkan mantan Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Belu Egi Nurak yang mana tidak terlibat dalam proses administrasi bantuan dari awal karena saat menjabat seluruhnya telah selesai.
Pantauan media, RDP berlangsung di ruang sidang utama Dewan dipimpin Wakil Ketua II Cypri Temu didampingi Mantan Kadis Perikanan Belu Egi Nurak dihadiri anggota DPRD Belu, Pastor Paroki Atapupu Romi Yoris Giri,Pr bersama umat pengurus dewan pastoral Atapupu, Senin (14/9/2020).
Dalam RDP tersebut, warga hanya ingin meminta klarifikasi dari Bupati Belu terkait status barang tersebut. RDP yang sebelumnya direncanakan pada pukul 10.00 Wita tersebut terpaksa diundur lantaran Bupati Belu, Willy Lay belum hadir. Namun, pukul 11.30 Wita RDP tersebut digelar.
RDP berlangsung alot, anggota dewan mempertanyakan kehadiran Bupati Belu yang tidak memenuhi undangan RDP. Selain itu juga pertanyakan mantan Kadis Perikanan Frans Asten yang terlibat dalam proses administrasi bantuan exca justru hadirkan mantan Kadis Egi Nurak yang menjabat kemudian.
Beberapa anggota Dewan meminta pihak Setwan untuk mengkonfirmasi Bupati Belu. Namun sayang, hasilnya tidak memuaskan forum. Hasil konfirmasi Kesetretariat DPRD Belu, Bupati Belu tidak bisa menghadiri RDP tanpa alasan yang jelas.
“Barusan hasil konfirmasi dari pihak sekretariat dan menyampaikan bahwa undangan kita sudah diterima. Hasil klarifikasi bahwa saudara bupati lagi sibuk, jadi tidak bisa menghadiri RDP ini. Karena itu diwakili oleh dinas teknis,” ucap Cypri.
Persoalan tidak hadirnya Bupati Belu memenuhi undangan Dewan dalam RDP tersebut dan pertemuan terus dilanjutkan bersama dinas teknis menuai protes dari beberapa Anggota DPRD Belu.
Eduard Boymau mengatakan, terkait bantuan alat excavator ini sudah salah peruntukannya. Masyarakat tidak menerima bantuan alat tersebut, karena itu lihat dulu dokumen pasti ada pihak yang bermain, juga dilihat mekanismenya seperti apa.
“Saya setuju, warga atau umat ini jangan dipermainkan. Ini orang bilang susu sapi nama kerbau. Mereka yang cape dapatkan bantuan ini dari Jakarta, terus mereka tidak tahu dan ini saya tidak tahu sistem penyerahannya seperti apa,” ujar dia.
“Saya mau bilang kalau benar ini terjadi pada dinas teknis, ini kejahatan pelayanan pada masyarakat. Karena itu, saya tidak setuju kalau ada rekomendasi aman-aman saja, tapi diperiks. Ada orang yang bermain didalam ini, harus ditelusuri biar jelas. Proposal jelas peruntukannya, tapi datang diperuntukan untuk lain, ini sudah salah peruntukan,” sambung Boymau.
Tambah Anggota DewanElvis Pedrosa, inti dari tuntutan umat paroki yaitu klarifikasi dari Pemerintah dalam hal ini Bupati Belu. Kemudian, persoalan sudah ada penyerahan dari pusat ke tini nelayan dan peruntukannya untuk kelompok nelayan.
Kemudian, beredar saat pak Bupati memberikan klarifikasi di media sosial, seharusnya klarifikasi itu dilakukan di dewan terhormat. Kemudian, persoalan almarhum Romo Maxi sudah menyerahkan exca ke pemerintah itu tidak dibuktikan dengan sebuah berita acara kesanggupan atau ketidaksanggupan.
“Untuk itu, saya sepakat dengan teman-teman meminta Pak Bupati secara resmi untuk mengklarifikasi ini. Kasihan mereka orang tua sering dibully seperti yang kita tahu. Ini mennyakitkan dan ini yang membuat umat paroki kesal,” ujar Elvis.
Menanggapi itu, Aje salah satu umat paroki Atapupu mengatakan, kedatangan kami hari untuk bertemu dengan Bupati Belu guna mengklarifikasi persoalan bantuan excavator, tapi beliau tidak bisa hadir karena terhalang dengan adanya kesibukan lain.
“Kami datang untuk bertemu dengan pak bupati. Tapi, kami menyesal sekali, pak Bupati sebagai orang tua kami, datang bertemu kami sebagai rakyat saja tidak mau. Kami adalah rakyat-rakyatnya, kami adalah anak-anaknya. Hari ini kami datang mengeluh untuk bertemu dengan beliau, tapi beliau punya kesibukan-kesibukan urus bangsa ini terutama Belu ini, tidak apa-apa, tapi selanjutnya kami tidak akan mau bertemu lagi,” tegas Aje.
“Jadi masalah ini mau seperti apa, kami serahkan kepada para anggota DPR dan pihak pemerintah, silakan diatur sesuai dengan aturan yang berlaku,” ucap dia dengan nada kesal.

