Perkuat Budaya Tulis, GMIT Gelar Lomba Essay Peringati Lima Abad Reformasi
Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Panitia Pelaksana Hari Ulang Tahun (HUT) ke-70 Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) dan 500 Tahun Reformasi menggelar Lomba Essay Reformasi. Salah satu tujuannya adalah untuk memperkuat budaya tulis khususnya di kalangan GMIT dan masyarakat NTT pada umumnya.
Ketua Panitia Pelaksana HUT ke-70 GMIT dan 500 Tahun Reformasi, Winston Neil Rondo sampaikan hal ini kepada wartawan di Kupang, Selasa (31/10/2017).
Menurut Winston, kegiatan Lomba Essay Reformasi merupakan salah satu dari sekian banyak kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-70 GMIT dan 500 tahun Reformasi. Kegiatan ini dikhususkan untuk kaum muda-mudi, berusia 18 sampai 25 tahun.
“Maksud dari kegiatan ini adalah untuk memunculkan perspektif kaum muda mengenai makna Reformasi bagi GMIT memasuki usia 7 (tujuh) dekade,” ungkap Winston.
Winston yang juga anggota DPRD NTT dari fraksi Demokrat ini menjelaskan, pelaksanaan lomba essay reformasi ini dirancang dengan mengacu pada beberpa tujuan utama diantaranya, untuk mendorong para muda-mudi untuk merefleksikan makna gerakan reformasi secara relevan dengan konteks pelayanan GMIT.
“Selain itu, untuk mendukung para muda-mudi berkontribusi menambah literatur teologi GMIT dan untuk memperkuat budaya tulis di kalangan GMIT dan masyarakat NTT,” jelasnya.
Dia menyampaikan, kegiatan lomba essay ini diikuti oleh 7 orang peserta/penulis, dengan judul tulisan yang bervariasi. Masing-masing tulisan dinilai oleh 3 orang juri yang berkompeten.
Ketiga juri tersebut yakni, Pdt.John Camble Nelson (dosen Fakultas Teologi UKAW), Pdt.Maria Litelnoni-Johannes (Ketua UPP Pengambangan Teologi dan Pembinaan Anggota Gereja-MS GMIT), dan Matheos Viktor Messakh (Jurnalis Senior).
Penilian difokuskan pada 5 aspek refleksi, yang terdiri dari, pemahaman tentang GMIT dan gerakan reformasi, analisa konteks pelayanan GMIT (internal dan eksternal), refleksi kritis tentang spirit gerakan reformasi yang relevan dengan situasi GMIT, daya dorong untuk pengembangan atau perubahan pelayanan GMIT, kemampuan mengidentifikasi sumber informasi penting untuk perubahan pelayanan sesuai visi dan misi GMIT.
“Setelah melalui proses penilaian dari para juri, dari 7 tulisan yang masuk, 4 tulisan dinyatakan berhak untuk mendapatkan penghargaan, sedangkan 3 tulisan perlu perbaikan serius,” katanya.
Baca juga : Dua Menteri Hadiri Pertemuan Diaspora GMIT di Kupang
Selain menilai tiap tulisan, lanjut dia, para juri juga memberikan catatan kritis dan usulan perbaikan. Adapun keempat essay terbaik sesuai hasil penilian para juri, yaitu:
Essay berjudul “PAEDOCOMMUNION (Re-konstruksi Doktrin Sola Gratia dan Sola Scriptura terhadap Pemberlakuan Sakramen Perjamuan Anak; Sebuah Pertimbangan)”, yang ditulis oleh Buce Alexander Ranboki.
Kekuatan utama dari Essay ini adalah kejernihan argumentasinya. Calvin memang tidak konsekwen; kemungkinan besar dipengaruhi oleh perdebatannya dengan kaum Lutheran mengenai consubstansi. Para juri memberi nilai 1.350. (seribu tiga ratus lima puluh) atas tulisan ini.
Essay berjudul “MENELADANI MARTIN LUTHER DAN MENYEMBUHKAN GMIT”, yang ditulis oleh Jear Niklas Dominggus Karniatu Nenohai.
Tulisan ini membahas tentang “kasih” menurut Luther, disandingkan dengan kasih orang Samaria yang Murah hati dalam cerita Injil Lukas. Penulis melakukan upaya itu untuk mendorong perhatian GMIT terhadap persoalan Human Trafiking dan persoalan sekolah GMIT. Para juri memberi nilai 1.301. (seribu tiga ratus satu) atas tulisan ini.
Essay berjudul “MENJADI GEREJA YANG SENANTIASA MEREFORMASI DIRI”, ditulis oleh Charles Anthon La’a, S.Th.
Tulisan ini mengetengahkan uraian historis tentang Reformasi dan mengangkat beberapa tantangan reformasi abad 21. Ada sejumlah daftar tentang “pergumulan masyarakat” dan kritik terhadap trend pembangunan fisik. Para juri memberi nilai 1.285. (seribu dua ratus delapan puluh lima) atas tulisan ini.
Essay berjudul “MENCARI BENTUK PELAYANAN GMIT DALAM KONTEKS PERDAGANGAN ORANG”, ditulis oleh Cornelis Selan.
Tulisan ini membuktikan bahwa perdagangan orang sebagai masalah serius yang sedang dihadapi GMIT sekarang ini. Penulis dengan gamblang menyampaikan sejumlah fakta secara visual. Ini membantu pembaca melihat persoalan secara riil. Para juri memberi nilai 1.193. (seribu seratus sembilan puluh tiga) atas tulisan ini.
“Sebagai kelanjutan dari perlombaan ini, dan juga sesuai tujuan kegiatan, kami akan mengembalikan semua tulisan yang telah berproses, disertai catatan kristis dari para juri,” tandasnya.
Winston berharap, para penulis akan memperbaiki tulisannya dan disampaikan kepada Majelis Sinode untuk koleksi tulisan perspektif kaum muda mengenai makna reformasi bagi GMIT memasuki 7 dekade usia pelayanan.

