{"id":63829,"date":"2026-06-26T02:38:13","date_gmt":"2026-06-26T02:38:13","guid":{"rendered":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/?p=63829"},"modified":"2026-06-26T02:38:13","modified_gmt":"2026-06-26T02:38:13","slug":"pesona-budaya-di-kampung-adat-duarato-dari-tarian-likurai-hingga-ritual-holek-memohon-izin-alam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/2026\/06\/26\/pesona-budaya-di-kampung-adat-duarato-dari-tarian-likurai-hingga-ritual-holek-memohon-izin-alam\/","title":{"rendered":"Pesona Budaya di Kampung Adat Duarato : Dari Tarian Likurai hingga Ritual Holek Memohon Izin Alam"},"content":{"rendered":"<p>Laporan Yan Manek<br \/>\nAtambua, NTTOnlinenow.com &#8211; Keindahan tradisi dan kearifan lokal tersaji lengkap dalam kunjungan rombongan ke Kampung Adat Duarato.<\/p>\n<p>Disambut hangat di pintu masuk kampung adat Duarato, para tamu disuguhkan tarian Likurai dan Hase Hawaka yang dibawakan oleh kaum Makoan.<\/p>\n<p>Irama Likurai dan nyanyian adat mengiringi langkah rombongan memasuki kawasan sakral ini, menciptakan atmosfer magis sekaligus ramah khas masyarakat Belu.<\/p>\n<p>Di halaman perkampungan, anak-anak menyambut dengan atraksi Barut Gete (lempar kemiri), simbol kegembiraan dan penyambutan tulus. Rombongan kemudian diajak berkeliling menyaksikan denyut nadi kehidupan warga.<\/p>\n<p>Suguhan Siri Pinang (En boal Gege molo lok) diberikan kepada rombongan, Loro Lamaknen, Vetor, dan Nai di Dasa Rai Lamaknen sebagai tanda penghormatan tertinggi dan penerimaan tamu ke dalam lingkaran keluarga adat.<\/p>\n<p>Kehidupan sehari-hari masyarakat Duarato tampak harmonis melalui aktivitas tradisional yang masih lestari. Para perempuan terlihat asyik melakukan Gugul Hili Tei Lili Pan Mone (memintal benang) sambil berpantun dengan laki-laki.<\/p>\n<p>Pantun-pantun jenaka dan penuh makna itu bukan sekadar hiburan, melainkan cara unik untuk menghilangkan kelelahan dan mempererat solidaritas antarwarga. Aktivitas lain seperti Takasien (menganyam tanasak), Paol Gao (menumbuk jagung), Tais Selu (menenun kain), dan Suta Hulun (menggulung benang) menunjukkan kemandirian dan ketekunan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup secara tradisional.<\/p>\n<p>Di balik keindahan visual, Kampung Adat Duarato juga menjadi ruang deliberasi penting. Para tetua dari Suku Uma Metan Purbelis terlihat duduk bersila membahas tata cara &#8220;Masuk Minang&#8221; (Mone matas reu gomo Adat pana gitin Dale), sebuah prosesi adat pernikahan yang sarat nilai filosofis. Sementara itu, tetua Suku Sobo Wai Oelleu menggelar musyawarah mengenai pembangunan rumah adat (Tita mit reu hoto men gie), menegaskan bahwa pelestarian fisik bangunan suci tetap menjadi prioritas bersama.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"alignnone wp-image-63830 size-full\" src=\"http:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Kampung-Adat-Duarato.jpg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"445\" srcset=\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Kampung-Adat-Duarato.jpg 800w, https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Kampung-Adat-Duarato-300x167.jpg 300w, https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Kampung-Adat-Duarato-768x427.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p>Kearifan lokal juga tercermin dari pengolahan hasil alam di Suku Loe Bau Reu Hatak. Warga melakukan Barut Gue (pukul kemiri), pencelupan benang dengan pewarna alami (Futus Ginik), serta pengolahan pangan tradisional seperti Kopi Gao (tumbuk kopi), Paol Botu (jagung bunga), dan Hoi Gijek (kacang goreng). Di Suku Bau Reu Lakoo, tradisi serupa terus dijaga sebagai identitas budaya yang tak tergantikan.<\/p>\n<p>Puncak kunjungan ditandai dengan Mot Mil Gine, En Gawa Gini Gie (makan bersama secara adat) di pelataran rumah adat Suku Sobo Wai Oelleu. Momen Sadan Duarato ini bukan sekadar pesta makan, melainkan ritual pemersatu yang menguatkan ikatan sosial dan spiritual antarwarga serta tamu.<\/p>\n<p>Yang paling memukau adalah tradisi Holek atau pengambilan madu hutan. Sebelum memanen madu dari sarang lebah di atas pohon tinggi, warga melantunkan nyanyian dan berpantun khusus. Ini adalah bentuk komunikasi sakral untuk meminta izin kepada alam semesta, mencerminkan filosofi hidup yang menghormati lingkungan dan menjaga keseimbangan ekosistem. Ritual ditutup dengan Tei Lete (tebe bersama), simbol kesepakatan dan doa keselamatan bagi seluruh peserta.<\/p>\n<p>Kampung Adat Duarato tidak hanya menawarkan wisata budaya, tetapi juga pelajaran berharga tentang bagaimana manusia dapat hidup selaras dengan alam, leluhur, dan sesama melalui tradisi yang terjaga turun-temurun.<\/p>\n<p>Bupati Belu Willybrodus Lay dalam acara ritual Ukun Naran Bunaq menyampaikan, kegiatan budaya hari ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan Festival Fulan Fehan IV yang akan digelar pada Sabtu mendatang.<\/p>\n<p>&#8220;Sebelum Festival Fulan Fehan IV hari ini kita ritual adat di kampung adat Duarato yang tadi sudah berlangsung khidmat. Sebelumnya ritual adat pertama di Dirun dan hari ini di Duarato,&#8221; ucap dia.<\/p>\n<p>Menurut Willy Lay, melalui kegiatan Festival Fulan Fehan ini memperkuat nilai-nilai budaya, seni dan adat sebagai identitas warga Belu. Termasuk ritual tradisi selalu dijaga dilestarikan agar tidak tergerus perkembangan zaman.<\/p>\n<p>&#8220;Kepada seluruh warga Belu untuk meneruskan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam tradisi leluhur kita kepada generasi muda sehingga mereka bisa mengenal dan memahami. Saya juga berharap mari bersama-sama kita membangun Rai Belu tercinta baik dari budayanya, pekerjaannya maupun lainnya,&#8221; pinta dia.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Laporan Yan Manek Atambua, NTTOnlinenow.com &#8211; Keindahan tradisi dan kearifan lokal tersaji lengkap dalam kunjungan rombongan ke Kampung Adat Duarato.<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":63831,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[20,2],"tags":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v14.3 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Pesona Budaya di Kampung Adat Duarato : Dari Tarian Likurai hingga Ritual Holek Memohon Izin Alam - NTTONLINE<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow\" \/>\n<meta name=\"googlebot\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<meta name=\"bingbot\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/2026\/06\/26\/pesona-budaya-di-kampung-adat-duarato-dari-tarian-likurai-hingga-ritual-holek-memohon-izin-alam\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Pesona Budaya di Kampung Adat Duarato : Dari Tarian Likurai hingga Ritual Holek Memohon Izin Alam - NTTONLINE\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Laporan Yan Manek Atambua, NTTOnlinenow.com &#8211; Keindahan tradisi dan kearifan lokal tersaji lengkap dalam kunjungan rombongan ke Kampung Adat Duarato.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/2026\/06\/26\/pesona-budaya-di-kampung-adat-duarato-dari-tarian-likurai-hingga-ritual-holek-memohon-izin-alam\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"NTTONLINE\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/alex.dimoe\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-06-26T02:38:13+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Kampung-Adat-Duarato1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"445\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/\",\"name\":\"NTTONLINE\",\"description\":\"Pelopor Media Online Pertama Di NTT\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id-ID\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/2026\/06\/26\/pesona-budaya-di-kampung-adat-duarato-dari-tarian-likurai-hingga-ritual-holek-memohon-izin-alam\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id-ID\",\"url\":\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Kampung-Adat-Duarato1.jpg\",\"width\":800,\"height\":445},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/2026\/06\/26\/pesona-budaya-di-kampung-adat-duarato-dari-tarian-likurai-hingga-ritual-holek-memohon-izin-alam\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/2026\/06\/26\/pesona-budaya-di-kampung-adat-duarato-dari-tarian-likurai-hingga-ritual-holek-memohon-izin-alam\/\",\"name\":\"Pesona Budaya di Kampung Adat Duarato : Dari Tarian Likurai hingga Ritual Holek Memohon Izin Alam - NTTONLINE\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/2026\/06\/26\/pesona-budaya-di-kampung-adat-duarato-dari-tarian-likurai-hingga-ritual-holek-memohon-izin-alam\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2026-06-26T02:38:13+00:00\",\"dateModified\":\"2026-06-26T02:38:13+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/#\/schema\/person\/7c35a5b2b0f2a4f822981b3273872be8\"},\"inLanguage\":\"id-ID\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/2026\/06\/26\/pesona-budaya-di-kampung-adat-duarato-dari-tarian-likurai-hingga-ritual-holek-memohon-izin-alam\/\"]}]},{\"@type\":[\"Person\"],\"@id\":\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/#\/schema\/person\/7c35a5b2b0f2a4f822981b3273872be8\",\"name\":\"alex\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id-ID\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e146e9c2235067853d80a7f166b95e54?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"alex\"}}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63829"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=63829"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63829\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":63832,"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63829\/revisions\/63832"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/media\/63831"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=63829"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=63829"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=63829"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}