{"id":60319,"date":"2025-07-18T04:25:09","date_gmt":"2025-07-18T04:25:09","guid":{"rendered":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/?p=60319"},"modified":"2025-07-18T04:25:09","modified_gmt":"2025-07-18T04:25:09","slug":"degradasi-sekolah-dalam-melestarikan-budaya-lokal-di-kabupaten-belu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/2025\/07\/18\/degradasi-sekolah-dalam-melestarikan-budaya-lokal-di-kabupaten-belu\/","title":{"rendered":"Degradasi Sekolah Dalam Melestarikan Budaya Lokal di Kabupaten Belu"},"content":{"rendered":"<p>Oleh : Patrisius Kia Boli<\/p>\n<p>Budaya lokal merupakan salah satu komponen utama yang memberi jati diri dan identitas khas bagi suatu komunitas atau masyarakat. Budaya lokal sering kali lahir dari dorongan spiritual dan ritus-ritus yang telah berlangsung secara turun-temurun dan sangat penting bagi kehidupan sosial masyarakat di wialayah perbatasan. Kabupaten Belu merupakan wilayah yang sangat kaya dengan ragam budaya lokal, mulai dari adat istiadat, bahasa daerah, tarian tradisional seperti Likurai dan Bidu, ritual keagamaan, hingga kerajinan tangan dan pakaian adat khas. Budaya-budaya ini bukan sekadar warisan leluhur, tetapi juga identitas kolektif masyarakat yang membedakan dari kelompok lain serta membentuk karakter, solidaritas, dan kebanggaan daerah mulai ditelan oleh budaya asing.<\/p>\n<p>Perkembangan teknologi membentuk dominasi budaya melalui media sosial telah mengancam keberlanjutan budaya lokal yang menjadi kekayaan masyarakat. Oleh sebab itu, sekolah menjadi senjata utama yang memiliki peran strategis untuk menjaga kelestarian dan penguatan budaya lokal yang kian diasingkan dari kehidupan sehari-hari. Melalui proses pembelajaran di kelas, kegiatan ekstrakurikuler, penggunaan bahasa daerah, hingga integrasi nilai budaya dalam kurikulum. Jika optimal, sekolah mampu menumbuhkan kecintaan dan kebanggaan generasi muda terhadap budaya sendiri serta membentengi dari pengaruh globalisasi yang cenderung mengikis kearifan lokal.<\/p>\n<p>Namun, menjadi prihatin bahwa secara khusus sekolah menengah pertama di Belu belum berfungsi maksimal sebagai laboratorium yang merawat eksistensi budaya lokal. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian (Pati dan Yanes, 2025) yang mengungkapkan bahwa terdapat 54% sekolah tidak melakukan integrasi budaya lokal termasuk bahasa daerah dalam kurikulum, sehingga berpotensi menghilangkan identitas sebagai ciri khas. Sungguh prihatin bahwa dalam merumuskan hingga melaksanakan budaya sekolah belum sesuai kebutuhan khususnya berfungsi mejaga kelestarian budaya lokal, kesalahan ini menyadarkan bahwa tidak salah apabila siswa bahkan remaja pada hari ini tidak mencintai tarian, pakaian, bahasa dan nilai kearifan lokal karena pendidikan di sekolah tidak relevan.<\/p>\n<p>Minimnya Integrasi Budaya Lokal di Kurikulum :<\/p>\n<p>Kurikulum menjadi roh dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah sehingga perlu adaptif terhadap perubahan yang terjadi di masyarakat. Kurikulum yang dirumuskan belum menjawab kebutuhan sehingga terkesan kaku hanya sebagai pelengkap administrasi. Hal tersebut, nampak pada luaran kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikur yang masih sangat minim melakukan integrasi dengan unsur budaya lokal. Hal tersebut dibuktikan oleh penelitian (Pati dan Yanes, 2025) menunjukkan terdapat 57,3% guru tidak mengaitkan unsur budaya lokal dalam kegiatan belajar mengajar sedangkan data lain mendeskripsikan bahwa terdapat 68,4% peserta didik merasa bangga dengan pelaksanaan budaya lokal. Artinya bahwa minat siswa untuk belajar dan mengetahui identitas daerah sangat tinggi hanya sekolah tidak memberikan ruang yang terbuka, sehingga potensi mempercepat siswa kehilangan jati diri.<br \/>\nHasil penelitian ini membangun kesadaran dinas pendidikan, kebudayaan dan sekolah yang lama bersifat apatis agar segera melakukan pendekatan kolaboratif untuk menyusun strategi pendidikan berbasis budaya lokal di Kabupaten Belu. Apabila tidak progresif dalam memberikan solusi akan berimplikasi terhadap hilangnya budaya lokal yang berpengaruh terhadap perilaku siswa yang tidak beralandasakan kearifan lokal.<\/p>\n<p>Dampak Kemunduran Peran Sekolah Dalam Merawat Budaya Lokal<\/p>\n<p>Jika dibiarkan, degradasi peran sekolah ini akan mendorong semakin terkikisnya identitas budaya lokal masyarakat Belu. Nilai-nilai luhur, norma, dan tradisi yang seharusnya menjadi penguat karakter generasi penerus bangsa akan tergantikan oleh budaya global yang belum tentu selaras dengan kearifan lokal. Dalam jangka panjang, dikhawatirkan akan terjadi kehilangan jati diri dan pudarnya keunikan budaya Belu di tengah arus modernisasi. Tanpa fungsi pendidik berbasis budaya lokal generasi muda lebih mudah melupakan asal-usul, tradisi, dan nilai-nilai luhur warisan leluhur sehingga berpengaruh Kurangnya regenerasi pelaku budaya menyebabkan berbagai praktik tradisi, seperti seni, bahasa daerah, hingga upacara adat, tidak lagi dipahami dan diteruskan kepada generasi berikutnya.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"alignnone wp-image-60320 size-full\" src=\"http:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/budayal.jpg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"445\" srcset=\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/budayal.jpg 800w, https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/budayal-300x167.jpg 300w, https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/budayal-768x427.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p>Selain itu, Hilangnya kearifan lokal yang selama ini menjadi pedoman perilaku masyarakat, mengurangi daya tahan masyarakat terhadap tantangan perubahan zaman dan membuka peluang terjadi Konflik identitas lebih mudah muncul karena lemahnya pemahaman terhadap akar dan nilai budaya sendiri. Anak-anak yang dididik tanpa muatan lokal dengan mudah mengadopsi budaya global lewat media sosial dan internet, yang seringkali bertentangan dengan nilai budaya Belu berdampak membuat pola pikir, gaya hidup, dan nilai anak-anak makin jauh dari budaya sendiri.<\/p>\n<p>Minimnya peran sekolah bukan sekadar persoalan internal pendidikan, namun berimplikasi luas terhadap kelangsungan budaya daerah. Penguatan kembali pendidikan budaya di sekolah sangat penting untuk memastikan generasi muda Belu tetap memiliki akar, keunikan, dan karakter kuat di tengah kemajuan zaman. Tanpa intervensi yang efektif, degradasi peran sekolah hanya akan mempercepat hilangnya budaya lokal di Kabupaten Belu, serta menempatkan generasi muda pada risiko kehilangan jati diri dan akar budayanya sendiri.<\/p>\n<p>Revitalisasi peran sekolah<\/p>\n<p>Peran sekolah mutlak diperlukan untuk membangun kesadaran dan membangkitkan kembali komitmen seluruh komponen pendidikan dalam menjaga warisan budaya. Sekolah perlu Mengintegrasikan muatan budaya lokal secara sistematis dalam proses kegiatan belajar mengajar pada semua mata pelajaran yang relevan dengan materi dan kegiatan ekstrakurikuler secara khusus pada bidang tarian, jurnalistik, olahraga dan podcast untuk mengekspor budaya lokal.<\/p>\n<p>Akan lebih berhasil apabila melibatkan komunitas dan pelaku budaya dalam pendidikan di sekolah. Selain itu, melalui kegiatan khusus sekolah seperti adakan panggung budaya untuk pertunjukkan dan menciptakan lomba menulis artikel budaya lokal sesuai dengan kebutuhan siswa berdasarkan hasil penelitian (Pati dan Yanes, 2025), sebagai output dari proses belajar yang telah dilalui. Data tersebut, memberikan evaluasi kepada kebijakan dinas pendidikan dan kebudayaan hanya mengadakan lomba tarian pertunjukkan yang terkesan bersifat hiforia dan tidak diikuti dengan lomba menulis artikel perihal kekayaan budaya lokal yang secara substansi lebih jauh dalam penanaman cinta terhadap budaya sendiri.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Patrisius Kia Boli Budaya lokal merupakan salah satu komponen utama yang memberi jati diri dan identitas khas bagi<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":60321,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[35],"tags":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v14.3 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Degradasi Sekolah Dalam Melestarikan Budaya Lokal di Kabupaten Belu - NTTONLINE<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow\" \/>\n<meta name=\"googlebot\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<meta name=\"bingbot\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/2025\/07\/18\/degradasi-sekolah-dalam-melestarikan-budaya-lokal-di-kabupaten-belu\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Degradasi Sekolah Dalam Melestarikan Budaya Lokal di Kabupaten Belu - NTTONLINE\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh : Patrisius Kia Boli Budaya lokal merupakan salah satu komponen utama yang memberi jati diri dan identitas khas bagi\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/2025\/07\/18\/degradasi-sekolah-dalam-melestarikan-budaya-lokal-di-kabupaten-belu\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"NTTONLINE\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/alex.dimoe\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-07-18T04:25:09+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/patrisius.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"445\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/\",\"name\":\"NTTONLINE\",\"description\":\"Pelopor Media Online Pertama Di NTT\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id-ID\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/2025\/07\/18\/degradasi-sekolah-dalam-melestarikan-budaya-lokal-di-kabupaten-belu\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id-ID\",\"url\":\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/patrisius.jpg\",\"width\":800,\"height\":445},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/2025\/07\/18\/degradasi-sekolah-dalam-melestarikan-budaya-lokal-di-kabupaten-belu\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/2025\/07\/18\/degradasi-sekolah-dalam-melestarikan-budaya-lokal-di-kabupaten-belu\/\",\"name\":\"Degradasi Sekolah Dalam Melestarikan Budaya Lokal di Kabupaten Belu - NTTONLINE\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/2025\/07\/18\/degradasi-sekolah-dalam-melestarikan-budaya-lokal-di-kabupaten-belu\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2025-07-18T04:25:09+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-18T04:25:09+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/#\/schema\/person\/7c35a5b2b0f2a4f822981b3273872be8\"},\"inLanguage\":\"id-ID\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/2025\/07\/18\/degradasi-sekolah-dalam-melestarikan-budaya-lokal-di-kabupaten-belu\/\"]}]},{\"@type\":[\"Person\"],\"@id\":\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/#\/schema\/person\/7c35a5b2b0f2a4f822981b3273872be8\",\"name\":\"alex\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id-ID\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e146e9c2235067853d80a7f166b95e54?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"alex\"}}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60319"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=60319"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60319\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":60322,"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60319\/revisions\/60322"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/media\/60321"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=60319"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=60319"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=60319"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}