{"id":42453,"date":"2021-08-07T12:42:26","date_gmt":"2021-08-07T12:42:26","guid":{"rendered":"http:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/?p=42453"},"modified":"2021-08-07T12:46:03","modified_gmt":"2021-08-07T12:46:03","slug":"42453","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/2021\/08\/07\/42453\/","title":{"rendered":"Goethe-Institut Memprakarsai Percakapan di antara Koleksi-Koleksi Galeri Nasional Indonesia, MAIIAM Contemporary Art Museum, Nationalgalerie \u2013 Staatliche Museen zu Berlin, dan Singapore Art Museum"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta, NTTOnlinenow.com &#8211; Goethe-Institut, Galeri Nasional Indonesia, MAIIAM Contemporary Art Museum,<br \/>\nNationalgalerie \u2013 Staatliche Museen zu Berlin dan Singapore Art Museum meluncurkan<br \/>\nCollecting Entanglements and Embodied Histories, sebuah proyek jangka panjang yang<br \/>\nmemungkinkan terjadinya percakapan pertemuan, serta pertukaran gagasan, wacana, dan karya<br \/>\ndi antara koleksi sejumlah lembaga yang terlibat. Percakapan ini akan menjadi empat pameran<br \/>\nyang berbeda di Chiang Mai, Singapura, Berlin dan Jakarta, dengan kurator Anna-Catharina<br \/>\nGebbers, Grace Samboh, Gridthiya Gaweewong dan June Yap. Para kurator merumuskan<br \/>\nlandasan proyek ini secara bersama-sama. Kemudian, masing-masing kurator membuat sebuah<br \/>\npameran yang menjelajahi kekhasan kisah di balik koleksi yang mereka oprek dan memamerkan<br \/>\nkarya-karya dari koleksi keempat lembaga yang terlibat.<\/p>\n<p>Collecting Entanglements and Embodied Histories bertujuan menelusuri bermacam cerita, kontra-<br \/>\nsejarah, dan bagian sejarah yang hilang, yang gaung semangatnya masih jelas terdengar sembari<br \/>\nmencari bentuk\u2014bentuk pengisahan baru. Proyek ini menjelajahi pertautan kisah-kisah dalam<br \/>\nproses pembangunan bangsa, pembentukan identitas perorangann, serta bagaimana perwujudan<br \/>\nkeduanya hadir dalam karya-karya seni dan sejarah pameran.<\/p>\n<p>\u201cProyek ini berangkat dari serangkaian percakapan dengan dan di antara para kurator yang<br \/>\nbermula pada tahun 2017. Kami memperlapang ruang percakapan ini agar dapat berlanjut, karena<br \/>\nkami melihat betapa pentingnya upaya penelusuran kembali kelindan sejarah yang berdampak<br \/>\nterhadap proses pembangunan bangsa sembari merenungkan sangkut-pautnya dengan<br \/>\nkenyataan hidup kita hari ini,\u201d kata Dr. Stefan Dreyer, Direktur Goethe-Institut Wilayah Asia<br \/>\nTenggara, Australia dan Selandia Baru.<\/p>\n<p>Mulai sekarang sampai Maret 2022, pemirsa dapat mengikuti program publik bulanan yang diampu oleh para kurator dan disiarkan di Youtube dan Facebook setiap Kamis terakhir dalam sebulan pada pukul 17.00 waktu Jakarta dan Bangkok (UTC+7) \/ pukul 18.00 waktu Singapura (UTC+8) \/ pukul 12 waktu Berlin (UTC+2).<\/p>\n<p>ERRATA, Chiang Mai, MAIIAM Contemporary Art Museum (30 Juli \u2013 1 November 2021)<br \/>\nERRATA adalah babak pertama dalam rangkaian pameran Collecting Entanglements and<br \/>\nEmbodied Histories. Pameran ini menyajikan hampir 100 karya dari 38 perupa dan 4 arsip.<br \/>\nErrata, sebuah istilah yang merujuk pada lembaran yang disisipkan dalam publikasi cetak untuk<br \/>\nmengindikasikan pembetulan kesalahan, dalam konteks pameran ini menjadi metafora untuk<br \/>\nkoleksi MAIIAM sebagai sebuah errata terhadap sejarah seni modern dan kontemporer Thailand.<br \/>\nPameran ini dikurasi oleh Gridthiya Gaweewong, bersama Anna-Catharina Gebbers, Grace<br \/>\nSamboh dan June Yap.<\/p>\n<p>Selama pameran berlangsung, audiens dapat mengikuti program publik yang berlangsung secara<br \/>\ndaring maupun luring. Pada tanggal 29 Juli 2021, kurator Gridthiya Gaweewong telah memandu<br \/>\nThe \u2018Body\u2018 is Not Just Flesh, diskusi daring bersama seniman Arahmaiani, Kawita Vatanajyankur<br \/>\ndan Sutthirat Supaparinya dengan moderator Zoe Butt. Program ini tersedia untuk disaksikan di<br \/>\nkanal Youtube dan Facebook Goethe-Institut Thaland, serta di halaman Facebook Galeri Nasional<br \/>\nIndonesia, Goethe-Institut Indonesien, Goethe-Institut Singapore, Hamburger Bahnhof \u2013 Museum<br \/>\nf\u00fcr Gegenwart \u2013 Berlin, MAIIAM Contemporary Art Museum dan Singapore Art Museum.<\/p>\n<p>Gridthiya Gaweewong, Direktur Artistik Jim Thompson Art Center, Bangkok, Kurator Tamu<br \/>\nMAIIAM Contemporary Art Museum, Chiang Mai, berkomentar: \u201cPameran ini mengungkapkan<br \/>\nkerumitan praktik seni dengan kisah-kisah kecil melalui seni rupa pertunjukan, karya berbasis<br \/>\nmedia dan karya multidisipliner, terutama dari seniman, khususnya perempuan, yang<br \/>\nmenggunakan tubuh mereka dan kamera untuk menangkap dan memberi wujud kepada sejarah<br \/>\nyang saling terjalin.\u201d<\/p>\n<p>The Gift, diadakan oleh Singapore Art Museum (20 Agustus \u2013 7 November 2021)<br \/>\nBabak kedua rangkaian pameran ini mengeksplorasi gagasan pertukaran, pengaruh dan jejak<br \/>\nmelalui subyek pemberian, atau hadiah. Mulai dari kegiatan sosial sampai pertunjukan budaya<br \/>\ndan konsep filsafat, tindakan memberi hadiah yang tampak biasa itu sesungguhnya ambivalen<br \/>\ndan bersifat paradoks, dan dengan demikian menjadi sumber pesona, kekesalan, serta<br \/>\nperdebatan. Berbeda dengan transaksi ekonomi, hadiah itu lebih dari sekadar objek yang<br \/>\ndipertukarkan. Hadiah mewujudkan keluasan hati sang pemberi, yang kerap menimbulkan<br \/>\nkewajiban di pihak penerima, dan tanpa disengaja mungkin bahkan menjadi beban yang berat.<br \/>\nPameran ini dikurasi oleh June Yap, bersama Anna-Catharina Gebbers, Grace Samboh dan<br \/>\nGridthiya Gaweewong dan diadakan di National Gallery Singapore.<\/p>\n<p>June Yap, Direktur Kuratorial, Koleksi dan Program, Singapore Art Museum, berpesan: \u201cDengan<br \/>\nberlandaskan konsep pemberian hadiah yang berkesan sederhana, pameran ini dikurasi untuk<br \/>\nmengamati hal-hal berwujud dan tidak berwujud pada dan di sekitar objek, karya seni dan<br \/>\nriwayat, serta bagaimana hal-hal itu saling terjalin. Sama seperti pemberian, hubungan kita<br \/>\ndengan objek, karya seni dan riwayat tidak dapat dipertimbangkan tanpa memperhatikan<br \/>\nhubungan antar orang. Dalam konteks pandemi, paradoks pemberian juga dapat dilihat sebagai<br \/>\ntercermin dalam paradoks mengenai kontak yang diharapkan di tengah ketiadaannya, tetapi juga<br \/>\nmengandung risiko besar.\u201d<\/p>\n<p>Nation, Narration, Narcosis, Hamburger Bahnhof \u2013 Museum f\u00fcr Gegenwart \u2013 Berlin (4 November 2021 \u2013 3 Juli 2022)<\/p>\n<p>Dikurasi oleh Anna-Catharina Gebbers bersama Grace Samboh, Gridthiya Gaweewong dan June<br \/>\nYap, pameran di Berlin ini mengeksplorasi hubungan di antara bentuk-bentuk seni yang kritis &#8211;<br \/>\nkhususnya seni rupa pertunjukan, seni media berbasis waktu, dan instalasi &#8211; dan protes politik,<br \/>\ntrauma sejarah, dan kisah-kisah sosial. Berbagai mitos dan cerita yang menyertai proses<br \/>\npembangunan bangsa, yang biasanya bersifat brutal, dipatahkan oleh kisah lain dalam karya-<br \/>\nkarya pada pameran ini. Konsep negara yang terkandung dalam nama \u201cGaleri Nasional\u201d<br \/>\nberhadapan dengan gagasan dengan bentuk lain dari komunitas, solidaritas dan rasa<br \/>\nkebersamaan, diawali dengan konsep Beuys mengenai patung sosial (social sculpture).<\/p>\n<p>Pameran ini mempertemukan karya-karya lebih dari 50 seniman, arsip berbagai gerakan seniman<br \/>\nserta intervensi oleh para penggagas kolektif budaya. Selain karya-karya Joseph Beuys di<br \/>\nHamburger Bahnhof ditampilkan juga karya dan dokumen dari koleksi beberapa Museum<br \/>\nNasional di Berlin dari zaman imperialisme sampai masa kini, serta karya-karya pinjaman dari<br \/>\nmuseum mitra di Chiang Mai, Jakarta dan Singapura, serta dari para seniman.<\/p>\n<p>Anna-Catharina Gebbers, Kurator Koleksi untuk Seni Kontemporer di Nationalgalerie im<br \/>\nHamburger Bahnhof &#8211; Museum f\u00fcr Gegenwart &#8211; Berlin, menjelaskan: \u201cNationalgalerie \u2013 Staatliche<br \/>\nMuseen zu Berlin dapat didirikan pada tahun 1871 terutama karena adanya sumbangan kolektor<br \/>\npribadi dan bankir asal Berlin, Joachim Heinrich Wilhelm Wagener, kepada raja Prusia, dengan<br \/>\nsyarat bahwa sebuah galeri nasional harus didirikan di Berlin. Tuntutan akan pendirian sebuah<br \/>\ngaleri nasional berhubungan erat dengan tidak adanya ikatan dan sentimen kenegaraan. Museum<br \/>\nsebagai tempat representasi persatuan spiritual dikaitkan dengan harapan untuk mencapai<br \/>\npersatuan politik sebagai negara yang sudah lama didambakan. Tetapi pembentukan negara ini<br \/>\ntidak bertepatan dengan era imperialisme yang baru tumbuh, di mana kepemilikan atas daerah<br \/>\njajahan dipandang sebagai masalah wibawa nasional dan diperebutkan secara brutal. Kini, Galeri<br \/>\nNasional di Berlin menampung salah satu koleksi terbesar karya-karya Joseph Beuys, seniman<br \/>\npencetus konsep yang mencakup tindakan manusia yang diarahkan untuk membangun struktur<br \/>\ndan wujud masyarakat.&#8221;<\/p>\n<p>Tetapi dari konsep masyarakat manakah kita seharusnya bertolak? Bagaimana narasi-narasi<br \/>\nlinear yang dikaitkan dengan nasion dan negara dapat dilengkapi dengan bentuk-bentuk<br \/>\nkomunitas yang lain, dengan narasi-narasi plural dan dengan kesimultanan dan kesetaraan cara<br \/>\nberpikir yang berbeda-beda? Dan peran seperti apa yang dapat diemban oleh institusi museum<br \/>\ndalam masyarakat plural di masa mendatang?\u201d<\/p>\n<p>Para Sekutu yang Tidak Bisa Berkata Tidak, Jakarta, Galeri Nasional Indonesia (28 Januari \u2013 28 Februari 2022 \u2013 TBC)<br \/>\nSekitar masa Konferensi Asia-Afrika (Bandung, 1955), pameran berorientasi geopolitik mulai<br \/>\nmerebak di seluruh dunia. Di antaranya tercatat Sao Paulo Biennale (perdana 1951), Alexandria<br \/>\nBiennale (perdana 1955), dan Biennial of Graphic Arts (Ljubljana, perdana 1955). Satu dasawarsa<br \/>\nkemudian ASEAN dibentuk. Memasuki tahun 1981, pameran keliling di antara negara-negara<br \/>\nanggota ASEAN mulai berlangsung. Pada masa itu juga terjadi lonjakan pameran internasional<br \/>\nyang tidak berkiblat ke Barat seperti Fukuoka Asian Art Triennale (perdana 1979), Asian Art<br \/>\nBiennale (Bangladesh, perdana 1981), Australia and the Regions Exchange (perdana 1983), dan<br \/>\nHavana Biennale (perdana 1984).<\/p>\n<p>Lingkup Gerakan Nonblok (didirikan 1961) mungkin terlampau luas untuk upaya seperti itu, atau<br \/>\nkita bisa berasumsi bahwa Sao Paulo Biennale mencakup \u201ckawasan\u201d tersebut, mengingat<br \/>\npendekatan awal yang digunakan untuk menemukan seniman dan mengirim karya adalah kerja<br \/>\nsama antarpemerintah. Apa yang dapat kita pelajari dari berbagai pertukaran tersebut? Apakah<br \/>\npertukaran-pertukaran itu semata gerak-gerik simbolik? Seperti apa hubungan para seniman?<\/p>\n<p>Betulkah terjadi pertukaran di antara para perorangan seniman ini? Pameran ini dikurasi oleh<br \/>\nGrace Samboh, bersama Anna-Catharina Gebbers, Gridthiya Gaweewong dan June Yap.<\/p>\n<p>Grace Samboh, peneliti dan kurator, menerangkan: \u201cGaleri Nasional Indonesia (Galnas) menjadi<br \/>\nrumah untuk lebih dari 1898 karya seni modern dan kontemporer. Pada umumnya, Galnas<br \/>\nmewadahi pameran eksternal dan menjalankan program-program yang diprakarsai oleh<br \/>\nDirektorat Seni dan Budaya. Baru dalam tujuh tahun terakhir Galnas mulai memasang koleksinya<br \/>\ndalam galeri permanen. Minat saya sebagai kurator sederhana saja. Saya ingin memanfaatkan<br \/>\ninfrastruktur yang sudah ada. Saya ingin melihat bagaimana negara menyapa masyarakat serta<br \/>\npekerja seni sembari menghidupkan koleksi mereka melalui ajang pameran, seminar dan<br \/>\nperagaan koleksi. \u201c<\/p>\n<p>Untuk kabar terkini mengenai pameran dan program publik dalam rangka Collecting<br \/>\nEntanglements and Embodied Histories, silakan kunjungi collectingentanglements.net.<\/p>\n<p><strong>Tentang Goethe-Institut<\/strong><br \/>\nGoethe-Institut adalah lembaga kebudayaan internasional Jerman yang mempromosikan kerja<br \/>\nsama kebudayaan di seluruh dunia. Lembaga ini mendorong pengetahuan mengenai bahasa<br \/>\nJerman dan menyampaikan gambaran menyeluruh tentang Jerman dengan menyediakan<br \/>\ninformasi terkait kehidupan kultural, sosial, politik di negara tersebut. Program-program budaya<br \/>\ndan pendidikan yang diselenggarakan oleh Goethe-Institut menyokong dialog antarbudaya dan<br \/>\nmemfasilitasi keterlibatan kultural. Dengan berfokus pada produksi, penerimaan , dan<br \/>\nperenungan artistik bersama, Goethe-Institut memprakarsai dan mengorganisasi proyek-proyek<br \/>\nyang mendukung mobilitas global orang-orang yang bekerja di bidang seni dan budaya serta<br \/>\nmemperkuat jaringan lintas-budaya dari perspektif global.<\/p>\n<p><strong>Tentang Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi serta Galeri Nasional Indonesia<\/strong><br \/>\nGaleri Nasional Indonesia adalah museum seni modern dan kontemporer Indonesia yang<br \/>\nmengelola karya-karya seni dalam koleksi negara di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan<br \/>\npada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Berlokasi di jantung ibu kota<br \/>\nIndonesia di Jakarta Pusat, ruang-ruang pameran Galeri Nasional Indonesia diklasifikasikan<br \/>\nsebagai bangunan warisan budaya. Galeri Nasional Indonesia menyimpan karya-karya seniman<br \/>\nterkemuka dari Indonesia dan luar negeri, termasuk Raden Saleh, S. Sudjojono, Affandi, Basoeki<br \/>\nAbdullah, Hendra Gunawan, Henk Ngantung, Barli Sasmitawinata, Trubus, Popo Iskandar, Srihadi<br \/>\nSoedarsono, Jim Supangkat, Nyoman Nuarta, Heri Donoo, Wassily Kandinsky, Hans Hartung,<br \/>\nVictor Vassarely, Sonia Delauney, dan banyak lagi.<\/p>\n<p><strong>Tentang MAIIAM Contemporary Art Museum<\/strong><br \/>\nMAIIAM Contemporary Art Museum merupakan museum pribadi yang diprakarsai oleh Eric Booth,<br \/>\nputra tiri Jean Michael Beurdeley dan putra kandung mendiang istrinya Patsri Bunnag, yang pada<br \/>\nawal tahun 1990-an memulai koleksi karya seniman-seniman kontemporer Thai yang aktif di<br \/>\nskena seni lokal dan internasional. MAIIAM dibangun pada tahun 2016 dan kegiatannya mencakup<br \/>\nbukan saja pameran koleksi permanen mereka, tetapi juga pameran temporer karya-karya seni<br \/>\ndi kawasan serta pameran yang berkeliling dunia. Museum itu menjadi destinasi budaya yang<br \/>\nbaru di Chiang Mai dan memperkuat lanskap seni dan budaya yang mulai aktif tiga dasawarsa<br \/>\nlalu berkata kehadiran ruang-ruang alternatif dan aktivisme penuh semangat dari kolektif-<br \/>\nkolektif seniman.<\/p>\n<p><strong>Tentang Hamburger Bahnhof \u2013 Museum f\u00fcr Gegenwart \u2013 Berlin<\/strong><br \/>\nHamburger Bahnhof \u2013 Museum f\u00fcr Gegenwart \u2013 Berlin mengelola koleksi seni kontemporer yang<br \/>\nkomprehensif, yang disajikan dalam berbagai pameran. Hamburger Bahnhof adalah yang<br \/>\nterbesar di antara semua bangunan yang menyimpan khazanah Nationalgalerie yang ekstensif.<br \/>\nBangunan lainnya adalah Alte Nationalgalerie, Neue Nationalgalerie, Museum Berggruen, dan<br \/>\nSammlung Scharf-Gerstenberg. Nationalgalerie berisi sebuah semesta seni dengan rentang masa<br \/>\nmulai tahun 1800 sampai karya-karya baru yang belum lama keluar dari studio. Semua orang<br \/>\nyang memasuki ruang-ruang pameran Nationalgalerie segera menjadi lebih akrab dengan kota<br \/>\nBerlin, karena koleksinya ditampung dan diperagakan di berbagai lokasi dan di berbagai tengara<br \/>\narsitektur yang tersebar di seluruh kota.<\/p>\n<p><strong>Tentang Singapore Art Museum<\/strong><br \/>\nSingapore Art Museum merupakan museum seni kontemporer yang berfokus pada penciptaan<br \/>\nseni dan pemikiran seni di Singapura, Asia Tenggara dan Asia, dan meliputi praktik seni<br \/>\nkontemporer dalam perspektif global. SAM mengadvokasi dan menyediakan akses kepada seni<br \/>\nkontemporer interdisipliner melalui praktik kuratorial berbasis riset yang terus berkembang.<br \/>\nSejak dibuka pada tahun 1996, SAM telah berkembang menjadi salah satu koleksi terpenting<br \/>\nuntuk seni kontemporer di Kawasan Asia tenggara. SAM berupaya membangun dan membina<br \/>\nruang yang menstimulasi dan kreatif di Singapura melalui berbagai pameran dan program publik<br \/>\nsambil memperdalam pengalaman setiap pengunjung. Penjangkauan dan pendidikan, penelitian<br \/>\ndan penerbitan, serta residensi dan pertukaran lintas disiplin termasuk di antara beragam<br \/>\nprogram SAM.<\/p>\n<p><strong>Tentang para Kurator<\/strong><br \/>\n<strong>Anna-Catharina Gebbers<\/strong><br \/>\nAnna-Catharina Gebbers adalah seorang Kurator Koleksi Seni Kontemporer di Nationalgalerie im<br \/>\nHamburger Bahnhof \u2013 Museum f\u00fcr Gegenwart \u2013 Berlin.<\/p>\n<p><strong>Grace Samboh<\/strong><br \/>\nGrace Samboh adalah seorang peneliti dan kurator. Ia turut mendirikan kelompok riset Hyphen<br \/>\n(sejak 2011); menjadi Direktur Proyek untuk RUBANAH Underground Hub, Jakarta (sejak 2019);<br \/>\nmenjadi anggota tim kurator untuk \u201cJakarta Biennale 2021: ESOK\u201d; dan sedang menempuh<br \/>\npendidikan S3 untuk Kajian Seni dan Masyarakat di Universitas Sanata Dharma.<\/p>\n<p><strong>Gridthiya Gaweewong<\/strong><br \/>\nGridthiya Gaweewong turut mendirikan organisasi seni Project 304 pada tahun 1996. Saat ini ia<br \/>\nbekerja sebagai Direktur Artistik Jim Thompson Art Center, Bangkok dan menjadi kurator tamu<br \/>\nMAIIAM Contemporary Art Museum, Chiang Mai.<\/p>\n<p><strong>June Yap<\/strong><br \/>\nJune Yap adalah Direktur Kuratorial, Koleksi dan Program pada Singapore Art Museum, di mana<br \/>\nini membidangi kreasi konten dan penyusunan program museum.<\/p>\n<div id=\"32b991e5d77ad140559ffb95522992d0\"><\/div>\n<p><script async src=\"https:\/\/click.advertnative.com\/loading\/?handle=2600\" ><\/script><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, NTTOnlinenow.com &#8211; Goethe-Institut, Galeri Nasional Indonesia, MAIIAM Contemporary Art Museum, Nationalgalerie \u2013 Staatliche Museen zu Berlin dan Singapore Art<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":42454,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[10],"tags":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v14.3 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Goethe-Institut Memprakarsai Percakapan di antara Koleksi-Koleksi Galeri Nasional Indonesia, MAIIAM Contemporary Art Museum, Nationalgalerie \u2013 Staatliche Museen zu Berlin, dan Singapore Art Museum - NTTONLINE<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow\" \/>\n<meta name=\"googlebot\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<meta name=\"bingbot\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"http:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/2021\/08\/07\/42453\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Goethe-Institut Memprakarsai Percakapan di antara Koleksi-Koleksi Galeri Nasional Indonesia, MAIIAM Contemporary Art Museum, Nationalgalerie \u2013 Staatliche Museen zu Berlin, dan Singapore Art Museum - NTTONLINE\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Jakarta, NTTOnlinenow.com &#8211; Goethe-Institut, Galeri Nasional Indonesia, MAIIAM Contemporary Art Museum, Nationalgalerie \u2013 Staatliche Museen zu Berlin dan Singapore Art\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"http:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/2021\/08\/07\/42453\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"NTTONLINE\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/alex.dimoe\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2021-08-07T12:42:26+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-08-07T12:46:03+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/DolorosaSinagaSolidaritas.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"445\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/\",\"name\":\"NTTONLINE\",\"description\":\"Pelopor Media Online Pertama Di NTT\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id-ID\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"http:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/2021\/08\/07\/42453\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id-ID\",\"url\":\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/DolorosaSinagaSolidaritas.jpg\",\"width\":800,\"height\":445},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"http:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/2021\/08\/07\/42453\/#webpage\",\"url\":\"http:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/2021\/08\/07\/42453\/\",\"name\":\"Goethe-Institut Memprakarsai Percakapan di antara Koleksi-Koleksi Galeri Nasional Indonesia, MAIIAM Contemporary Art Museum, Nationalgalerie \\u2013 Staatliche Museen zu Berlin, dan Singapore Art Museum - NTTONLINE\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"http:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/2021\/08\/07\/42453\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2021-08-07T12:42:26+00:00\",\"dateModified\":\"2021-08-07T12:46:03+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/#\/schema\/person\/7c35a5b2b0f2a4f822981b3273872be8\"},\"inLanguage\":\"id-ID\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"http:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/2021\/08\/07\/42453\/\"]}]},{\"@type\":[\"Person\"],\"@id\":\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/#\/schema\/person\/7c35a5b2b0f2a4f822981b3273872be8\",\"name\":\"alex\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id-ID\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e146e9c2235067853d80a7f166b95e54?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"alex\"}}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42453"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42453"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42453\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":42458,"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42453\/revisions\/42458"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/media\/42454"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42453"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42453"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.nttonlinenow.com\/new-2016\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42453"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}