Perlunya Peningkatan Budidaya Tanaman Biofarmaka di Provinsi Nusa Tenggara Timur
OLEH JOSEPHIN N. FANGGI
Tanaman biofarmakaadalah tanaman yang bermanfaat untuk obat-obatan, kosmetik dan kesehatan yang dikonsumsi atau digunakan dari bagian-bagian tanaman seperti daun, batang, bunga, buah, umbi (rimpang) ataupun akar.
Kegunaan tanaman biofarmaka adalah seperti kunyit untuk menghentikan pendarahan, obat gatal, radang umbai usus buntu, radang rahim, keputihan, obat sakit perut dan gangguan liver, kencur secara empiris digunakan untuk batuk, infeksi bakteri, disentri, selera makan, tonikum, masuk angin, sakit perut, obat asma dan anti jamur, jahe sebagai obat tradisional dan fitofarmaka karena adanya gigerolnya, mengatasi nyeri pada tulang ( adanya bahan aktif dari ekstrak), lengkuas untuk eksim, panu, gabag, koreng, radang lambung dan radang anak telinga, sereh untuk membantu mengurangi gangguan lambung, insomnia, gangguan pernafasan, demam, nyeri, infeksi, rematik dan edema, lidah buaya untuk membantu penyembuhan luka bakar, menjaga kesehatan rambut, menjaga kesehatan rongga mulut, melembapkan kulit, kaya akan kandungan vitamin C sehingga baik untuk kesehatan karena dapat berperan sebagai antioksidan dan membantu melawan inflamasi atau peradangan, serta meningkatkan daya tahan tubuh.Kegunaan tanaman biofarmaka untuk meningkatkan imun tubuh menyebabkan tanaman ini sangat baik dikonsumsi pada saat pandemi Covid-19 ini.
Tanaman biofarmaka dapat diolah menjadi berbagai jenis produk seperti kunyit kuning atau yang familiar di masyarakat dengan sebutan kunir bisa digunakan sebagai obat tradisional atau herbal, jamu, bumbu masak di dapur, juga bisa dibuat sebagai bahan dasar pembuatan pakan ternak organik. Lalu jahedapat digunakan sebagai bumbu masak, pemberi aroma, rasa pada makanan seperti roti, kue, biskuit, kembang gula dan berbagai minuman. Jahe juga dapat digunakan pada industri obat, minyak wangi, industri jamu tradisional, dan dapat diolah menjadi asinan jahe, acar, lalap, bandrek, sekoteng, sirup, permen, manisan.
Tanaman biofarmaka sangat mudah tumbuh. Berdasarkan Publikasi Nusa Tenggara Timur Dalam Angka 2021, pada tahun 2020, produksi jahe adalah sebesar 759 754 kg, lengkuas sebesar 269 996 kg, kencur sebesar 62 645 kg, kunyit sebesar 498 986 kg, lidah buaya sebesar 12 767 kg, dan temulawak sebesar 134 810 kg.
Berdasarkan Publikasi Buletin Statistik Perdagangan Luar Negeri Ekspor Menurut Kelompok Komoditi dan Negara Oktober 2021 diperoleh data bahwa ekspor tanaman obat, aromatik, dan rempah-rempah pada Januari-Oktober 2021 adalah 252.192,0 ton. Ekspor terbanyak adalah ke negara Thailand (108.453.516 ton), diikuti China (26.668.682 ton), Iran (25.310.945 ton), India (22.586.091 ton), dan masih banyak lagi yang dapat dilihat pada publikasi ini.
Sejalan dengan data di atas maka dalam https://www.kompas.com/food/read/2020/09/21/081000475/berapa-besar-peluang-ekspor-jamu-dan-tanaman-obat-indonesia-di-dunia-?page=all tertera bahwa bahan baku alias tanaman biofarmaka banyak diminati negara Thailand karena mereka tidak bisa memproduksinya sendiri. Bahan baku seperti jahe, temulawak, serai, beras kencur, dan lain-lain tidak bisa tumbuh dengan mudah di sana.Tanaman biofarmaka dari Indonesia yang diekspor ke negaralainnya seperti kunyit diekspor dari Ponorogo ke India, Jamu Rumpun Padi yang diekspor dari Wonosobo ke Suriname, Belanda, dan Malaysia.
Saran adalah perlunya peningkatan budidaya dan pengolahan tanaman biofarmaka menjadi produk yang bermanfaat dan enak mengingat sangat bermanfaat terutama dalam masa pandemi Covid-19 untuk meningkatkan imunitas tubuh.Penanaman yang mudah membuka potensi bagi Provinsi NTT untuk membudidayakannya. Hasil olahannya juga sangat bermanfaat karena praktis ketika dikonsumsi.Pembentukan kemitraan antara petani dengan pengusaha dan eksportir, pengadaan bimbingan,pendampingan dan pembinaan kepada masyarakat untuk melakukan teknik budidaya yang tepat dan perlakuan pemanenan dan pascapanen yang tepatdalam rangka meningkatkan kualitas tanaman biofarmakasehingga bisa dijual ke pasaran, serta pengolahan dari bahan baku menjadi produk siap pakai sangat diperlukan.
OLEH : JOSEPHIN N. FANGGI
STATUS : ASN DI BPS PROVINSI NTT

