Menelisik Masa Depan Literasi NTT Membaca adalah perlawanan

Bagikan Artikel ini

Oleh Irfan
Membaca merupakan sebuah sarana downloading ilmu pengetahuan yang sangat besar sumbangsihnya bagi kerja-kerja kebudayaan dewasa ini. Sulit untuk dibantahkan walaupun bersifat sangat debatable. Ada semacam ungkapan yang sering kita dapati, seperti halnya “untuk mengetahui Dinosaurus tak perlu harus hidup di zaman purba” cukup baca bukunya. Bagi seorang pelajar, entah apalah namanya nnti, bagi milenial hari ini membaca lebih tinggi dan afdol derajatnya dan jika di support leh kopi, rokok dan ada semacam setengah kewajiban untuk di foto dan kemudian di bagikan ke medsos. Sedikitnya membaca di malam hari tentu lebih berharga dari pada bermain game sepanjang hari. Dengan membaca orang menjadi tenang alias tidak gampang ngamuk atau kagetan, memiliki jangkauan cakrawala berfikir yang luas dan juga mampu mengasah daya intusi yang mapan.

Imam Syafi’i dalam kitab Diwan-nya berkata:
Barang siapa yang tidak belajar di waktu mudanya, bertakbirlah 4 kali atas kematiannya

Survei Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis pada 2019, Indonesia menempati ranking ke-62 dari 70 negara berkaitan dengan tingkat literasi.

Dalam menggembleng tingkat membaca, setiap orang tentu punya caranya masing-masing untuk melampaui dirinya sendiri. Di sisi yang lain gerakan lietrasi yang sangat masif dan cenderung tak terbendung bisa juga hanya melahirkan penulis yang buruk dan juga pembaca yang kurang jenius. Ini hanya sebagai cek and balances. Kita tentu tidak harus berlebar panjang dalam sisi ini yang hanya akan membawa kita pada differentisme murahan.

Kita bersaja dulu bolehkan?

Ata Mbani

Ku dengar teriakan Pongga Si…..
Suara lantang tapi sunyi
Menggertak tapi tak menjelma api
Tangan-tangan terkepal kaku
Kaki-kaki kaku terpaku

Saya hanya ingin bilang, bahwa dalam survey baru-baru ini NTT cukup mendapat angin segar sebab sudah mampu bertengger di posisi 8 dalam skala nasional prihal membaca. semoga banyak hal-hal besar yang bisa di lahirkan di Provinsi yang banyak orang menyebutnya dengan kepanjangan “Nanti Tuhan Tolong” ini. Pelan namun pasti dapat memudarkan stigma yang melabeling pada NTT tukang minum mabuk baku pukul. Shifting Paradigm harus terus di galakakkan menuju NTT yang lebih mapan. Berangkat dari tenaga pendidik yang kemudian bisa meresapi dan mengrefleksikan apa yg sudah Paulo Freire jelaskan dalam Pendidikan Kaum Tertindas.

Semoga saja NTT tidak mabuk dalam hasil survey di atas. Membaca bukanlah hilir perjuangan, dia hanya sebagai hulu. Kita jangan sampai terjebak di edisi menghapal dan mengutip tapi berangkat pada fase menalar dan menemukan.