Anak Anak Korban Kekerasan Fisik di Malaka

Bagikan Artikel ini

Kupang,NTTOnlinenow.com – Anak anak hingga saat ini masih menjadi korban kekerasan fisik baik di rumah oleh orangtua maupun di sekolah oleh para guru. Hal tersebut terungkap dalam Siaran Pers yang diterima Redaksi nttonline.com, Jumat (4/2).

‎Dalam Siaran Pers tersebut disebutkan Orang Muda dan anak Anak dari empat desa di Kabupaten Malaka dan empat desa dari Kabupaten Timor Tengah Utara mengikuti Pelatihan Teknik Advokasi 31 Januari sampai 2 Februari 2022 yang diselenggarakan oleh Yayasan Karunia Pengembangan Anak (YKPA) mitra ChildFund Internasional di Indonesia, di Betun- Malaka.

Pada pembukaan dan penutupan pelatihan ini dihadiri Ketua YKPA Tiburtius Foni, Koordinator Projek YKPA, Mikhael Riu dan PIC Program Energy, Martina Berek. Kegiatan ini dibuka Pejabat Bappeda Kabupaten Malaka dengan fasilitator pelatihan Yuliana Ndolu dan Ana Djukana. Dalam pelatihan tersebut orang muda belajar cara mengidentifikasi masalah, faktor penyebab, dampak dan rekomendasi sebagai solusi kepada pemerintah dan pemangku kepentingan.

Pada hari terakhir pelatihan Rabu (2/2) orang muda berdialog dengan para pengambil kebijakan yang terdiri dari pejabat dari Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak Kabupaten Malaka (DPPKBPPPA); Perwakilan Pemerintah Desa Lakekun Utara.

Pada kesempatan dialog tersebut anak anak dan orang muda menyampaikan identifikasi masalah di desa yakni masalah kekerasan fisik terhadap anak; perkawinan anak; pengangguran dan kekerasan seksual. Identifikasi masalah, dampak dan rekomendasi sebagai berikut, masalah Kekerasan Fisik Terhadap Anak dimana ‎ anak- anak sampai saat ini masih menjadi korban kekerasan fisik.

Pelaku kekerasan fisik adalah orangtua di rumah maupun guru di sekolah. Kekerasan fisik yang dialami seperti : cubit, menampar, memukul dengan mistar/ kayu, dll.

Faktor penyebab anak mendapatkan tindakan kekerasan fisik yakni tiidak menurut nasihat orang tua, guru, bermain HP saat di sekolah, tidak mengerjakan tugas sekolah, Pekerjaan Rumah (PR) yang diberikan oleh guru).
Selain itu, penyebabnya terlambat ke sekolah, tidak menghargai guru yang sedang bicara di depan, masalah dalam keluarga, anak anak tidak belajar di rumah. Karena kekerasan fisik tersebut anak anak mengalami dampaknya.

Dampak kekerasan fisik terhadap anak yakni anak- anak merasa tidak nyaman atau tertekan, anak menjadi kurang berani dan tidak percaya diri karena takut disalahkan dan dibentak.
Dampak lainnya yakni anak menjadi kebal dengan kekerasan fisik, anak tidak mau pergi ke sekolah, anak pergi meninggalkan rumah.

Terhadap masalah masalah tersebut anak anak yang mengikuti pelatihan tersebut dalam dialog merekomenadasikan untuk menyelesaikan masalah kepada pertama anak- anak : bila mengalami kekerasan dapat melaporkan ke orang- orang terdekat seperti om, kakek, nenek dan orang yang dipercayai, kedua Dinas Pendidikan dan Kebudayaan agar melakukan edukasi kepada para guru agar tidak melakukan kekerasan terhadap anak, mengembangkan pendidikan ramah anak di sekolah.

Selain itu, memberikan sanksi kepada guru- guru yang melakukan tindakan kekerasan terhadap anak, kepada Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak Kabupaten Malaka (DPPKBPPPA) agar emberikan penyuluhan kepada orangtua agar tidak melakukan kekerasan terhadap anak, membentuk Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Komunitas (PATBM) agar dapat melakukan upaya pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap anak, mendorong pembentukan sekolah ramah anak.

Sedangkan kepada Yayasan Karunia Pengembangan Anak agar memberikan penyuluhan kepada orangtua tentang mengasuh anak tanpa kekerasan, mendorong pembentukan sekolah ramah anak.

Perkawinan Anak
Dalam dialog tersebut orang muda dan anak anak juga menyampaikan hasil identifikasi masalah masalah terungkap masalah perkawinan anak.

Perkawinan anak yang dimaksudkan adalah perkawinan yang dilakukan oleh mereka yang berusia dibawah 19 tahun bahkan 18 tahun. Berdasarkan hasil identifikasi permasalahan , faktor- faktor penyebab terjadinya perkawinan anak yaitu adanya pergaulan bebas di kalangan remaja- orang muda, kurang perhatian dan pengawasan dari orang tua, pemaksaan menikah dari orang tua kepada anak, karena telah melakukan hubungan seks saat pacaran.

Penyebab lainnya yakni kehamilan saat masih dalam masa pacaran, orang tua meninggalkan anak karena pergi bekerja ke luar negeri, putus sekolah. Pernikahan anak ini memberikan dampak anak anak putus sekolah; terjadi aborsi, terjadi kehamilan berisiko yang bisa berdampak kamatian ibu dan bayi.

Dampak lainnya Ibu melahirkan bayi dengan berat badan rendah, terjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di kemudian hari , masa depan suram dan menjadi korban bulying.

Dalam dialog orang muda dan anak anak merekomendasikan untuk penyelesaian masalah kepada kepada Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak Kabupaten Malaka (DPPKBPPPA) Kabupaten Malaka agar : Mendampingi anak korban pernikahan anak; Melakukan edukasi ke masyarakat tentang bahaya pernikahan anak, mendorong untuk pembentukan PATBM di desa- desa yang belum ada PATBM, agar dapat membantu dalam upaya pencegahan dan pendampingan korban perkawinan anak.

Sementara itu, rekomendasi kepada Pemerintah Desa/ Kelurahan, Dusun, , RT/ RW agar melaporkan kasus perkawinan anak ke kelurahan/ desa dan kelurahan / desa melaporkan ke pihak berwajib untuk pencegahan perkawinan anak, mendata kasus perkawinan anak, PATBM di desa agar memberikan pendampingan, memberikan sosialisasi tentang bahaya pernikahan anak.

Sementara itu kepada orangtua dan ‎keluarga agar memberikan nasehat, perhatian dan memantau aktifitas anak, Lembaga Agama dan Lembaga Adat diharapakn menghimbau agar umat tidak menikahkan mereka yang masih berusia anak.(*/non)