Fatukoa Jadi Tempat Relokasi Korban Badai Seroja

Bagikan Artikel ini

Kupang, NTTOnlinenow.com – Lahan seluas 10,9 hektare di Kelurahan Fatukoa Kota Kupang tengah dipersiapkan sebagai tempat relokasi rumah bagi korban terdampak rusak berat akibat Badai Seroja pada bulan April lalu.

Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman (PRKP) Kota Kupang, Beni Sain, menyebut survei dan evaluasi di lapangan akan dilakukan segera.

Beni memastikan sertifikat lahan yang direncanakan sebagai wilayah relokasi ini adalah milik Pemerintah Kota Kupang saat ini.

“Kalau sertifikat dari penjual ada cuma belum cek lagi di lapangan. Lima sertifikat kita beli dari warga dan itu sudah dari jaman lalu sudah jadi sekarang milik Pemkot,” kata Beni.

Pengecekan batas akan dilakukan terutama di lahan 10,9 hektare itu, sebut Beni, terdapat kantor lurah dan salah satu sekolah tingkat SMA.

“Untuk 10,9 hektare tapi perlu pengecekan batas ulang. Itu tanah Pemkot Kupang,” tegasnya lagi.

Ia menyampaikan rumah relokasi yang dibutuhkan sebanyak 328 unit rumah dan sementara dibangun sebanyak 173 unit rumah. Sisanya membutuhkan lahan selain di Manulai II sehingga Fatukoa dipilih untuk relokasi.

Sebelumnya, Kepala Bidang Perumahan Dinas PRKP, Densi Dethan menyebut, ratusan hunian tetap (huntap) di Kelurahan Manulai II dibangun pada 4 segmen atau 4 bidang tanah secara terpisah. Keseluruhan luasnya mencakup 2,9 hektar lahan.

Rumah layak huni yang dibangun ini sesuai dengan standar teknis Kementerian PUPR yaitu tipe 36 dan diperkirakan selesai Desember tahun ini. Peletakan batu pertama dilakukan pada 5 Juli lalu di segmen satu dan hingga dengan 31 Agustus kemarin 38 unit rumah itu yang rampung.

“Kalau yang baru terbangun 38 rumah dari total 173 unit rumah berarti masih 135 rumah lagi. Sampai dengan akhir tahun. Paling tidak minggu kedua Desember semuanya rampung,” tukasnya.

Sementara itu, anggota komisi III DPRD Kota Kupang, Adrianus Talli mengatakan, karena pemerintah pusat yang akan membangun rumah untuk relokasi warga yang rumahnya tidak bisa ditempati lagi akibat badai seroja, maka pemerintah daerah wajib untuk menyediakan lahan.

“Saya pikir lahan di kota Kupang ini sangat banyak kalau mau didata, tetapi memang lahan yang sengaja dibiarkan oleh pemerintah yang kemudian diokupasi oleh masyarakat. Jadi kalau masalahnya hanya lahan saya pikir lahan di Kota Kupang ini sangat cukup,” ujarnya.

Jadi, kata Adi, jika pemerintah menganggap bahwa lahan di Kelurahan Fatukoa itu pantas untuk dibangun rumah relokasi maka tentunya sangat didukung agar diproses secepatnya. (YM)