Ribut Jual Beli Tanah Pantai Beta ke Pihak Asing

Bagikan Artikel ini

Laporan Raymon Tiwa
Camat Paga Dukung karena abrasi
Maumere, NTTOnlinenow.com – Agak aneh kebijakan Camat Paga Ansel Laka, S.Sos ini terhadap perebutan tanah Pantai Beta seluas 5000 M2, Dekat Pantai Koka, Desa Mbengu, Kecamatan Paga. Betapa tidak, di jaman pemerintah kita mengandalkan devisa dari periwisata, malah mendukung para pihak yang konflik rebutan tanah pariwisata ini untuk dijual ke pihak asing dengan menyetujui untuk jual kepada Hold (WN Amerika yang menikah dengan Ina (WNI) ke pihak asing. Apalagi di pantai tersebut juga terdapat situs SumurJepang dengan kedalaman sekitar 10 meter dan berdiameter 1 meter serta tempat peristirahatan tentara Jepang di bukit meja sekitar 100 meter dari pantai berpasir puti itu.

Persetujuan jual beli antara Antonius Guta dengan para pihak ditentang Frederikus Nggaji alias Odin (37) adalah ponaan kandung Antonius Guta dengan alasan lokasi tersebut berpindah tangan. Karena itu, Odin pun bersurat kepada Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Sikka Maumere Kamis (20/8) agar tanah yang juga memeilik situs pariwisata itu tidak diterbitkan sertifikat atas nama pihak manapun.

Selain itu, atas saran paralegal (red-konsultan hukum) dari Pusat Bantuan Hukum Maumere, agar lokasi tersebut segera dipagar. “Kami sudah membuat pagar di Lokasi konflik itu untuk melindungi kelapa dan pisang yang ada di dalamnya,” kata Odin ketika mendatangi Kantor Posbakum Maumere di Maumere Sabtu (21/8).
Tindakan antisipasi Odin ini karena terlihat banyak pihak di sana yang turut mendukung agar tanah tersebut di jual ke Mr Hold oleh bapak besarnya Antonius Guta.

Modusnya berawal dari kaki tangan Mr Hold melalui perantara alias kaki tangannya Ina, isteri Mr Hold mendekati Odin untuk membeli tanah tersebut. Dengan diimingi uang ratusan juta, perantara Mr Hold ini menjamin bahwa uang hasil jual beli tanah dibagi sama rata ke pihak keluarga dan tentu juga untuk dirinya.

Namun perantara Mr Hold ini keliru, karena Odin bukan mata duitan. Odin menolak. Rupanya perantara Mr Hold ini belum berpuas diri, ia mulai mengadu domba keluarga Odin dengan mendekati Antonius Guta, bapak besar Odin untuk mengambil lokasi tersebut dengan dasar bahwa Antonius Guta adalah ahliwaris sah dari tanah tersebut meski sudah digarap Nikolaus Mau, adik kandung Antonius Guta.

Atas provokasi ini terjadilah keributan antara Antonius Guta dan ponaannya Odin. Karena tidak ada jalan keluar maka persoalan tersebut dibawah kepada Kunu lai (red-istilah tua-tua adat setempat).

Maka pada Minggu (8/8/2021) Odin mengaku dipanggil pihak Kunu Lai atas laporan Antonius Guta. Urun rembug dilakukan di rumah Herman Ndato (salah satu Kunu Lai) berakhir damai dan disepakati konflik tersebut diselesaikan dalam keluarga besar Roi Rati (dalam rumpun keluarga dari para pihak).

Walau semula Camat Paga, Ansel Laka sepihak dengan Odin karena di dalamnya ada situs pariwisata peninggalan Jepang, tetapi beberapa hari setelah kesepakatan itu sampai ke telinga Camat Paga dari Aparat Desa Mbengu, ia berubah pikiran dan meminta Odin menghadap ke kantor Camat dengan perintah agar Odin menjual tanah tersebut karena pantai itu sudah Abrasi.

Atas perubahan sikap Camat Paga tersebut Odin pun mengadu ke Pihak Posbakum Maumere untuk meminta perlindungan. Sebab, seperti dikatakan kepada Camat Paga sebelumna bawa lokasi itu akan dikelola sendiri. Menurut Odin, tanah pantai tersebut jika dikelola dengan baik akan tidak saja menguntungkan dirinya dan keluarganya tetapi juga masyarakat sekitar untuk menjual air kelapa dan buah-buahan.

Jadi tanah Sengketa

Tindakan Camat Paga bersama Kepala Desa Mbengu, Kecamatan Paga yang mendukung Antonius Guta (68 th) untuk menjual kepada Hold yang adalah warga Amerika, sementara tanah tersebut masih dalam sengketa dengan Frederikus Nggaji (37 th) yang adalah keponakan kandung Antonius Guta. Odin adalah pengelola lanjutan tanah tersebut dari ayahnya Nikolaus kini sudah meninggal.

Namun, saat ini lahan garapan ang menjadi hak milik ayahnya itu mulai terganggu dengan keinginan bapak besarnya Antonius Guta untuk menjualnya kepada Mr Hold. Peristiwa ini bermula dari keingingan Mr. Hold untuk membeli tanah melalui perantara yang bernama Inn, berdomisili di Nita. Oleh Inn menghubungi Odin, panggilan Frerderikus Nggaji meminta untuk melepas tanah pantai seluas 5000 m2 tersebut. Tapi permintaan itu ditolak, walau diiming-imingi dengan uang ratusan juta rupiah.

Sebab, Odin beralasan tanah pantai tersebut adalah warisan dari opanya Rudolfus Roi dan dikelola anak kandungnya Nikolaus Mau (alm) dan selanjutnya dikelola Odin anak kandung Nikolaus Mau, cucu kandung dari Rudolfus Roi. Tanah pariwisata itu menurut Odin adalah milik keluarga besar Ro’i Rati, Dusun Maulo’o Desa Mbengu Kecamatan Paga Kabupaten Sikka.

Sesungguhnya tanah tersebut diklaim Agustinus Guti kakak kandung Nikolaus Mau (alm) sebagai tanah miliknya sendiri bukan warisan bersama. Pada hal semasa ayah mereka Rudolfus Ro’i tinggal bersama putera keduanya Nikolaus Mau. Terlebih saat sakit hingga meninggalnya di tangan ayah Odin, Nikolaus Mau (alm).

Bahkan menurut Odin, semasa hidup kakeknya menyuruh ayah Odin untuk menggarapnya dengan menanam sekitar 30 (tiga puluh) pohon kelapa dan 7 (tujuh) rumpun pisang tanah pantai tersebut. Apalagi semasa kakeknya masih hidup, Agustinus Guti putera pertama kakeknya terus mendesak agar tanah itu dijual saja ke pihak lain. Tapi kakeknya bersikeras menolak keinginan anak pertamanya. Malah kakeknya menyuruh anak nomor duanya, Nikolaus Mau agar segera menggarapnya dengan menanam sejumlah pohon kelapa dan sejumlah rumpun pisang.

Rupanya keinginan Bapak Besar Odin ini terus berlanjut ketika ayahnya Nikolau Mau meninggal. Dengan rayuan banyak uang, Mr Hold berniat membeli lahan tersebut kepada Odin. Namun uang tidaklah menjadi harapan Odin, permintaan untuk dilepas tanah itu ditampiknya.

Rupanya, Mr Hold melalui kaki tangannya Ina (Isteri Mr Hold) mengalihkan bujukan ke bapak besar Odin, Agustinus Guta dengan mengklaim bahwa itu tanah milik sah bapak besarnya bukan milik bersama.

Maka terjadilah konflik antara bapak-anak ini. Pihak tua adat Kunu Lai masyarakat setempat terpaksa turun tangan. Pembicaraan berlangsung di Kantor Desa Mbengu, Kecamatan Paga. Kesepakatan damai yang terjadi di kantor desa itu dan masalah diserahka kepada keluarga besar Ro’i Rati untuk diselesaikan secara kekeluargaan.

Namun ceritera makin panjang ketika bapak besarnya Antonius Guta keluar dari kesepakatan dan ingin mengambil alih tana tersebut dengan memprovokasi tua-tua adat serta aparat pemerintah desa Mbengu dan Camat Paga.

Indikasi dari siasat Antonius Guta ini adalah dengan keluar dari kesepakatan. Walau kesepakatan damai sudah diinformasi kepada Camat Paga dan turut mendukung dengan memanggil Odin agar mencari situs pariwisata guna disuray pemerintah untuk dilestarikan jadi tempat wisata.