AS Warga Belu di Polisikan Terkait Dugaan Gelapkan Uang Rp3,3 Miliar

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – WMK bersama putranya RMK, MMK warga Fatubenao, Kelurahan Fatubenao, Kecamatan Kota, Kabupaten Belu melaporkan AS alias Hery atas dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan ke Polres Belu, Senin (7/6/2021).

Pelapor didampingi kuasa hukumnya Patrianus Brandon Maubere dan Sili Nahak melaporkan AS terkait dugaan penipuan uang Rp 3,3 miliar sejak 2 Juli 2020 lalu untuk melunasi utang (Pinjaman-Kredit). Adapun nomor laporan Polisi ; LP/B/89/VI/2021/SPKT Polres Belu/Polda NTT.

Patrianus Brandon Maubere salah satu kuasa hukum RMK menuturkan, pihaknya melaporkan AS alias Hery ke Polisi dengan dugaan tindak pidana penipuan atau penggelapan uang milyaran milik kliennya WMK sejak bulan Juni 2020 lalu.

Jelas dia, AS alias Hery datangi kliennya di kediaman di Fatubenao menawarkan 3 bidang tanah milik adiknya inisial HLAS alias Anton yang akan dilelang Bank NTT Cabang Atambua. Sehingga ditawarkan apakah klien kami tertarik untuk melakukan pembelian terhadap rumah tersebut sebelum Bank melakukan lelang senilai Rp.3,3 miliar.

“Setelah sepakat, klien kami WMK dan keduanya anaknya menghubungi AS alias Hery menginfokan bahwa uangnya sudah disediakan bisa diambil. Tanggal 6 Juli AS datangi kediaman klien kami ambil uang Rp 1 milyar untuk panjar lelang sehingga Bank NTT bisa batalkan lelang itu, karena sesuai dengan pengumuman agenda lelang itu adalah pada tanggal 8 Juli,” papar Maubere.

Lanjut dia, pada tanggal 10 Juli AS kembali datangi rumah kliennya WMK untuk mengambil sisa uang pembayaran sebesar Rp 2,3 milyar. Kemudian uang diserahkan kepada saudaranya HALS alias Anton yang kemudian mereka bersama-sama ke Bank NTT Cabang Atambua untuk melakukan pembayaran pelunasan.

Setelah pembayaran (pelunasan), sekitar 21 Juli 2020 pihak Bank NTT menginformasikan ke AS alias Hery dan HALS alias Anton bahwa pihaknya harus ke Notaris berinisial AB untuk menyelesaikan perikatan kredit yang terdahulu dan juga penyerahan sertifikat.

Pada saat itu pihak Bank NTT menghubungi kliennya melalui istri kliennya WMK sebagai pihak yang menebus hutangnya HALS di Bank NTT menginfokan untuk bersama-sama ke Notaris karena sertifikat sudah diserahkan atau dikembalikan ke HALS.

“Klien kami ke Notaris AB ternyata sertifikat sudah diserahkan ke HALS karena perikatannya sudah selesai tanpa melibatkan klien kami sebagai orang yang menebus utang HALS. Menurut Notaris AB, HALS alias Anton mengaku bahwa pembelinya adalah saudaranya HALS alias Anton di Surabaya,” terang Maubere.

Terkait itu, kliennya menyampaikan kepada Notaris AB bahwa sesungguhnya klien pihaknyalah yang menebus utang HALS alias Anton di Bank NTT Cabang Atambua sehingga kliennya meminta Notaris AB untuk menghubungi HALS alias Anton untuk mengembalikan serftifikat.

Notaris AB menghubungi HALS alias Anton dan sertifikat dikembalikan. Kemudian Notaris AB menghubungi klien kami bahwa sertifikat sudah dikembalikan jadi bisa diaturkan jadwal bertemu di kantor untuk disepakati seperti apa penyelesaiannya.

“Saat pertemuan itu terjadilah pembicaraan dan ternyata HALS alias Anton tidak mengakui bahwa klien kami menebus utangnya, yang diakui klien kami membeli Ruko milik HALS alias Anton seluas 541 meter persegi. Sedangkan yang ditawarkan AS alias Hery adalah bukan Ruko, tapi utang HALS alias Anton di Bank NTT. Akhirnya tidak ada sepakat di notaris untuk dilanjutkan proses jual beli sehingga di tunda hingga bulan Desember,” beber Maubere.

Pada bulan Desember kedua pihak ini kembali bertemu di kantor Notaris AB untuk penyelesaian lebih lanjut. Saat itu HALS alias Anton menjanjikan akan mengembalikan uang milyaran milik kliennya dan dibuatkan kesepakatan bersama oleh Notaris AB.

“Kesepakatan itu ada dua, point pertama terkait jual beli 3 sertifikat dengan cara tebus utang Bank. Poin kedua HALS alias Anton bersedia mengembalikan uang klien kami 3,3 milyar. Tapi HALS alias Anton menolak poin pertama akhirnya tidak sepakat,” ujar dia.

Tetapi juga sebelum ada draf kesepakatan itu, HALS alias Anton sudah menjanjikan akan menggantikan uang klien kami pada bulan April 2021, tetapi tidak menentukan tanggalnya berapa dan itu juga dibuat dalam surat kesepakatan oleh Notaris AB dengan tanggal jatuh tempo pada 30 April 2021.

Karena sudah terjadi kesepakatan maka, pada bulan April klien kami menanykan kejelasan HALS alias Anton untuk mengembalikan uang klien pihaknya tetapi tidak ada kejelasan dari HALS alias Anton, dia mengatakan bilang tidak punya uang untuk kembalikan sekarang.

“Sebagai kuasa hukum kliennya minta untuk memberikan somasi kepada HALS alias Anton supaya menepati janjinya. Somasi pertama 2 Mei 2021 tapi tidak ada tanggapan, somasi kedua 23 Mei 2021 tapi tidak ada tanggapan sama sekali. Karena tidak ada tanggapan tanggal 31 Mei kita mendatangi HALS alias Anton di kediamannya untuk diselesaikan kejelasannya seperti apa,” ucap dia.

“Tetapi respon HALS alias Anton bahwa dia akan ganti uangnya tetapi tidak bisa tentukan waktu. Atas dasar itulah kami sekarang menempuh jalur hukum untuk meminta kejelasan terkait haknya klien kami,” tambah Maubere.

Senada Silvester Nahak yang juga salah satu kuasa hukum mengatakan, pihaknya mengapresiasi pihak kepolisian Polres Belu yang telah menerima laporan pihaknya. Diharapkan, pihak penyidik serius dan transparan dalam penanganan kasus kliennya.

“Persoalannya sederhana, yaitu pengembalian uang milik klien pihaknya yang sudah berniat baik membantu HALS alias Anton. Hari ini kita menempuh jalur pidana, setelaj itu kita akan tempuh jalur perdata demi hak-hak klien pihaknya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak terlapor AS alias Hery dan HALS alias Anton belum berhasil dikonfirmasi.