Diperiksa Polisi, Dominikus Kopong Bilang Tidak Ada Paket Proyek di Unimor Sebesar Rp5 M Tapi Mengiyakan Sebagai PPK.

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Aparat penyidik Tipikor Polres TTU, telah memanggil dan memeriksa Dominikus Kopong, salah satu pejabat di Universitas Negeri Timor (Unimor) pada Senin (03/05/2021).

Dominikus Kopong yang pernah menjabat sebagai Pembantu Rektor 2 Universitas Timor, disebut-sebut sebagai PPK dalam proyek
Pembuatan maket gedung Rektorat Unimor Tahun 2015 lalu.

“Jadi betul memang ada pemeriksaan terhadap PPK, Dominikus Kopong. Saat diperiksa, yang bersangkutan mengaku tidak tahu menahu soal pembuatan maket (Detail Engineering Design/DED) pembangunan gedung Rektorat Unimor tahun 2015,” jelas Kasatreskrim Polres TTU AKP Sujud Alif Yulamlam kepada NTTOnlinenow.com, Rabu (05/05/2021).

Dominikus Kopong yang kini menjabat sebagai Ketua Senat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unimor, terkesan mengelak. Kepada penyidik, Dominikus Kopong mengatakan tidak ada paket tersebut di Unimor, namun diiyakan tahun 2015 dia sebagai PPK.

“Meski demikian, kami masih akan terus dalami kasus yang menelan dana begitu besar”, kata Kasatreskrim Alif Yulamlam.

Kasatres menjelaskan, ada beberapa pertanyaan yang tidak bisa dijawab PPK sehingga PPK disuruh pulang untuk pelajari lagi dokumennya.

Yang tidak bisa dijawab PPK itu, seputar pekerjaan dalam proyek pembuatan maket. Domi Kopong mengaku sebagai PPK dalam proyek Pembuatan Maket Gedung Rektorat Unimor TA 2015″, jelas Kasatres.

“Karena terus mengelak dan tidak bisa menjawab beberapa pertanyaan, kami menyuruh PPK nya pulang untuk pelajari lagi dokumen proyek. Dan Pak Dominikus Kopong akan dipanggil untuk diperiksa lagi,” jelas Kasatreskrim Sujud Alif Yulamlam.

Pelapor Robertus Kefi, yang dikonfrontir wartawan soal bantahan dan upaya mengelak dari PPK, mengatakan bantahan dilakukan karena Domi Kopong semakin tersudut dan terjepit.

“Penyidik Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) sudah ahlinya dan sangat berpengalaman dalam menangani kasus-kasus proyek. Semakin PPK mengelak, justru masuk jebakan.” imbuh Robert Kefi.

Sebuah kegiatan proyek pengadaan barang maupun jasa yang dibiayai oleh negara melalui APBN, lanjut Kefi, itu otaknya ada di PPK. Dan PPK yang menyimpan semua dokumen terkait proyek yang ditanganinya.

“PPK yang tahu kontrak, tahu sumber dana, masuk keluar uang dan sebagainya. Sedangkan pokja-pokja sifatnya membantu saja. Jadi kalau Pak Domi Kopong bilang tidak tahu menahu, itu bohong besar,” tandas Kefi.

Informasi yang diperoleh, lanjut Robert Kefi, penyidik menyuruh Dominikus Kopong pulang, kemungkinan karena tidak membawa dokumen proyek seperti kontrak dan Lembar Hasil Audit (LHA).

“Kemungkinan, penyidik Tipikor suruh pulang agar kembali lagi bawa kontrak dan LHA” jelas Kefi.

Soal bantahan Dominikus Kopong tentang tidak ada kegiatan pembuatan maket proyek pembangunan gedung Rektorat Unimor, Kefi menegaskan, jika tidak ada, kenapa bukti fisik maket proyek ada di ruang lobi Rektorat Unimor.

“Bukti fisik maket proyek ada di ruang lobi Rektorat Unimor”, kata Robert.

Sebelumnya diberitakan, aparat penyidik Polres Timor Tengah Utara (Polres TTU) mulai melakukan penyelidikan kasus pembuatan maket (Detail Engineering Design/DED) proyek pembangunan Rektorat Universitas Timor (Unimor) Tahun Anggaran (TA) 2015 senilai Rp 5.285.000.000,

Realisasi keuangan untuk pembuatan maket ditaksir paling banyak Rp 200 juta. Sisa uang yang dikembalikan hanya Rp 600 juta saja. Sedangkan sisa uang hampir Rp 5 miliar itu hilang entah kemana.

Kasus ini sementara diselidiki setelah dilaporkan Robert Kefi pekan lalu ke Polres TTU.