Dipersulit Dapatkan Dokumen Pengadaan Alkes, Alasan Utama Kejari TTU Geledah RSUD . TSK Segera Ditetapkan.

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Kajari Timor Tengah Utara (TTU) mengaku kesulitan mendapatkan dokumen Pengadaan Alat Kesehatan (Alkes) senilai Rp 11 Miliar lebih di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kefamenanu.

Dokumen yang diminta ke pihak RSUD setempat akan dipakai sebagai bukti dalam proses penyidikan yang sedang berlangsung.  Namun sayangnya, sulit didapatkan.

“Terkait penggeledahan di RSUD Kefamenanu, kami bukan melakukan sesuatu yang bersifat gagah – gagahan. Alasan utama dilakukan penggeledahan, kami secara kooperatif, secara lisan sudah sampaikan baik – baik. Minta tolong pihak RSUD serahkan data dokumen sebagai bukti bagi kami di tingkat penyidikan. Tetapi dari pihak RSUD beralasan, untuk mendapatkan dokumen – dokumen itu harus melalui persetujuan secara bertingkat, mulai dari Direktur sampai dengan Bupati. Kalau kami menunggu ini sampai kapan? Sehingga kami mengambil langkah melakukan penggeledahan”, kata Robert menyampaikan alasan penggeledahan.

Baca juga : Kajari TTU Pimpin Penggeledahan RSUD Kefamenanu, Terkait Dugaan Korupsi Pengadaan Alkes Rp 11 M

Robert menjelaskan, ada tiga sasaran penggeledahan, yakni RSUD Kefamenanu, Dinas Kesehatan dan Bagian Keuangan. Tetapi dalam penggeledahan di RSUD, semua dokumen yang dibutuhkan didapat di sana.

“Dalam penggeledahan di RSUD, kami mendapatkan semua dokumen yang dibutuhkan termasuk dari Dinkes dan Keuangan. Sehingga terhadap pelaksanaan di Dinkes dan Keuangan kami batalkan”, jelas Robert.

Ia berkomitmen menyelesaikan masalahnya sampai di persidangan.

“Kami punya komitmen untuk menyelesaikan perkara ini sampai di persidangan. Hasil penyidikan menunjukkan ada bukti kuat terjadi kerugian negara dalam proses ini. Yaitu ada barang yang dilaksanakan tidak sesuai dengan spesifikasi, bahkan ada barang yang sama sekali tidak dilaksanakan. Sehingga estimasi kerugian keuangan negara dari penyidik saat ini ada Rp 500 juta. Mungkin nilainya relatif kecil, tetapi jika dibandingkan dengan nilai proyek untuk pekerjaan Rp1,4 M, kalau dia makan Rp 500 juta berarti sepertiga dari nilai proyek itu dia ambil. Itu jahat namanya!
Apalagi alat kesehatan berupa Bank Darah itu berkaitan dengan nyawa, keselamatan banyak orang.
Ada barang yang tidak sesuai spesifikasi tidak pernah dimanfaatkan sama sekali. Bahkan sejak pengadaan barang, tidak pernah diperiksa, tim teknisnya juga tidak pernah datang untuk melakukan percobaan jadi semuanya menjadi barang yang mubasir. Beberapa jenis item barang sudah dalam kondisi rusak berat”, beber Robert geram.

Untuk tingkat penyidikan, Robert mengungkapkan, sudah ada 11 orang yang diperiksa. Diantaranya, pihak Dinas, PPK, rekanan, Bendahara, Panitia penerima hasil pekerjaan , panitia pelelangan, pokja akan menyusul Dirut RSUD.

“Dalam waktu dekat saya tetapkan tersangka. Maaf, targetnya belum bisa disebutkan”, tandas Robert menutup wawancara.

Bukti dokumen yang berhasil diperoleh tim penyidik Kejaksaan Negeri TTU saat melakukan penggeledahan di RSUD Kefamenanu terkait dokumen dalam proyek Pengadaan Alkes 2015 senilai Rp 11 Miliar lebih, diantaranya dokumen terkait proses lelang, dokumen kontrak, serta dokumen-dokumen pencarian uang kepada rekanan.

Dokumen-dokumen tersebut sangat dibutuhkan dalam pembuktian di tingkat penyidikan.

Data yang berhasil dihimpun NTTOnlinenow.com, pada tahun 2015 Rumah Sakit Umum Daerah Kefamenanu mengadakan kegiatan Pengadaan Alat Kesehatan yang sumber dananya berasal dari APBD DAK Tambahan dan APBD DAU.

Dengan perincian, Belanja Modal Pengadaan Alat Kesehatan ICU Non E-Katalog, Belanja Modal Pengadaan Alat Kesehatan Ponek Khusus Maternal Non, Belanja Modal Pengadaan Alat-Alat Kesehatan Ponek Khusus Neonatal Non E-Katalog, Belanja Modal Pengadaan Alat Laboratorium Centrifuge Non E-Katalog, Pengadaan Alat Kesehatan IGD Non E-Katalog, Pengadaan Alat Kesehatan UTD Non E-Katalog dan Pengadaan Alat Kesehatan Kedokteran Gigi.

Pengadaan Alat Kesehatan Kedokteran Gigi, masih belum terkumpul. Informasi akurat dikarenakan pada saat pemeriksaan, pihak yang dimintai keterangan lupa mengenai informasi terkait. Pihak-pihak yang ditunjuk sebagai rekanan dalam pengadaan Alkes tersebut, di antaranya PT Mahira Anugerah Abadi dengan direktur Ferry Oktaviano, PT Kita Citra Mandiri dengan direktur Didi Darmadi, PT Maju Rahayu, direktur Agus Samroni, PT Nusa Timor Abadi dengan direktur Veby Yulence Anin-Dite, PT Karya Imanuel Mulia dengan kuasa direktur Onky J. Manafe, dan CV Berkat Mandiri dengan kuasa direktur Febrianti EML Manafe.

Sementara dalam pengadaan alat kesehatan pada RSUD Kefamenanu tahun 2015, dr.I Wayan Niarta yang pada saat itu menjabat sebagai Direktur RSUD Kefamenanu bertindak sebagai Kuasa Penggunaan Anggaran, PPK, Yoksan M.D.E Bureni, Skm, PPHP Meiqiel E Selan, Perencana Antonia Katona, dan Pokja yang terdiri dari pojka 1. Chrysogonus Bifel S.Ipl,
Yufentus Reku S.Ip, Yustinus Binsasi S.H, Gregoriussen R. Asten S. Si dan Silvester Lapit, S Ip

Foto : Tim penyidik Kejaksaan Negeri TTU dipimpin Kajari Robert Jimmy Lambila, S.H, M.H saat melakukan pengggeledahan di RSUD Kefamenanu, Rabu (10/03/2021).