Kajari TTU Pimpin Penggeledahan RSUD Kefamenanu, Terkait Dugaan Korupsi Pengadaan Alkes Rp 11 M

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Rabu (10/03/2021) sekitar pukul 13.45 Wita, tim penyidik Kejaksaan Negeri Timor Tengah Utara (TTU), mendadak mendatangi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kefamenanu.

Kedatangan tim penyidik dengan mengenakan rompi khusus pemberantasan korupsi dipimpin langsung Kajari TTU Roberth Jimy Lambila, bersama Kasi Intel Kejari TTU, Benfrid C. Foeh, Kasi Barang Bukti, Rezza Faundra Afandi, Kasi Pidum, Santi Efraim dan jaksa lainnya itu dalam rangka pengungkapan dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan (Alkes) di RSUD.

“Hari ini kita melakukan penggeledahan di RSUD TTU,” tegas Robert Jimmy Lambila, S.H, M.H.

Penggeledahan tersebut terkait dugaan adanya korupsi Pengadaan Alkes tahun 2015.

“Kita butuh sejumlah dokumen penting”, jelasnya lagi.

Pantauan NTTOnlinenow.com, setibanya di RSUD Kefamenanu, tim penyidik Kejari TTU langsung melakukan penggeledahan di ruangan Dirut RSUD, ruangan bendahara pengeluaran dan ruangan administrasi lainnya, mencari dokumen terkait proyek pengadaan Alkes di RSUD tahun 2015.

Dari proses penggeledahan itu, tim penyidik Kejari berhasil mengamankan sejumlah dokumen yang berkaitan dengan pengadaan Alkes tahun 2015.

Kajari TTU, Roberth Jimy Lambila kepada sejumlah wartawan, usai melakukan penggeledahan mengatakan, dirinya bersama tim penyidik Kejari TTU mendatangi RSUD Kefamenanu untuk melakukan penggeledahan guna mencari tambahan dokumen terkait proyek pengadaan Alkes pada tahun 2015 yang diduga sarat korupsi. Kegiatan penggeledahan tersebut sudah mendapatkan izin resmi dari Wakil Ketua Pengadilan Tipikor Kupang.

“Penggeledahan ini untuk melengkapi bukti-bukti terkait kasus dugaan tindak pidana korupsi pengadaan Alat Kesehatan (Alkes) di tahun 2015 lalu,” jelas Kajari Robert Lambila.

Terhadap kasus tersebut, lanjut Robert Lambila, hasil penyelidikan awal penyidik menyimpulkan bahwa pengadaan Alkes di RSUD Kefamenanu tahun 2015 lalu, kurang spek dan juga ada yang fiktif.

Sementara untuk dugaan kerugian negara, lanjut Robert Lambila, dari kekurangan spek terhadap sejumlah alkes dan ketiadaan alkes tersebut diperkirakan merugikan negara ratusan juta rupiah.

“Ada Alkes yang fiktif, ada yang kurang spek. Untuk kerugian negara saat ini diperkiraan mencapai Rp 500 juta lebih,” jelasnya.

Data yang berhasil dihimpun NTTOnlinenow.com, pada tahun 2015 Rumah Sakit Umum Daerah Kefamenanu mengadakan kegiatan Pengadaan Alat Kesehatan yang sumber dananya berasal dari APBD DAK Tambahan dan APBD DAU.

Dengan perincian, Belanja Modal Pengadaan Alat Kesehatan ICU Non E-Katalog, Belanja Modal Pengadaan Alat Kesehatan Ponek Khusus Maternal Non, Belanja Modal Pengadaan Alat-Alat Kesehatan Ponek Khusus Neonatal Non E-Katalog, Belanja Modal Pengadaan Alat Laboratorium Centrifuge Non E-Katalog, Pengadaan Alat Kesehatan IGD Non E-Katalog, Pengadaan Alat Kesehatan UTD Non E-Katalog dan Pengadaan Alat Kesehatan Kedokteran Gigi.

Dalam pengadaan Alkes tahun 2015, Dirut RSUD Kefamenanu dijabat oleh dokter I Wayan Niarta. Pagu dana pengadaan Alkes RSUD, senilai Rp.11.000.000.000.

Sementara Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Yoksan M.D.E Bureni Skm dan Panitia Pemeriksa Hasil Pekerjaan diketuai oleh Meiqiel E. Selan.