Orang Tua TKI Berharap Pemerintah Indonesia Sikapi Kasus Hilangnya Piter di Afrika

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Gabriel Ulu Tunabenani dan Ana Gusmao Kristina Lopes didampingi beberapa kerabat mendatangi Kantor Polres Belu, Sabtu (6/3/2021) siang guna melaporkan putranya Piter Tunabenani yang dikabarkan hilang di Afrika pasca menerima informasi dari salah satu teman kerjanya.

Menurut Gabriel Ulu Tunabenani dan Ana Gusmao Kristina Lopes, mereka kaget setelah melihat foto anaknya yang dikirim oleh salah seorang teman anaknya pada tanggal 5 Maret 2020.

Sebab, foto tersebut menunjukan gambar putranya Piter Tunabenani yang sedang bekerja di kapal ikan di Afrika Selatan sedang terlibat bentrok dan pada bagian wajahnya terlihat ada luka sobekan benda tajam dan berlumur darah.

Setelah melihat foto anaknya tersebut Ana sang Ibu langsung menelfon ke nomor anaknya, namun no handphone yang dihubungi sudah diluar jangkauan. Merasa khawatir Ana kembali menghubungi nomor yang mengirimkan foto anaknya.

Dalam komunikasi tersebut Ana baru mengetahui bahwa anaknya bersama 6 crew kapal ikan asal Indonesia lainya sedang dalam pencarian badan SAR negara setempat dan telah memasuki hari ke tujuh.

Ana menyampaikan, sesuai informasi yang diperoleh dari Panji teman Piter yang juga bekerja di kapal lainnya di Afrika mengisahkan, Piter dan enam warga negara Indonesia, terlibat perkelahian dengan crew kapal asal Filipina dan Vietnam, saat kapal lepas jangkar dari pelabuhan Pos Moretius Afrika selatan.

Sempat diteriaki oleh rekan kerjanya sesama warga Indonesia yang melihat kejadian tersebut, namun Kapten kapal tetap melaju ke tengah laut.

Diketahui, foto Piter berlumur darah dibagikan sendiri oleh korban dalam grup WhatsApp crew kapal anak Indonesia setalah 20 menit kemudian. Dibawah foto tersebut Piter membuat cuitan bahwa dirinya dibacok oleh mandornya yang adalah warga negara Vietnam dengan benda tajam berupa parang.

Setelah melihat postingan tersebut, Panji TKI asal Indonesia dan TKI lainya langsung berusaha hubungi Piter namun nomor hpnya sudah diluar jangkauan. Masih berada di pelabuhan Afrika selatan Pos Moretius Panji dan beberapa TKI Asal Indonesia lainnya langsung melaporkan kejadian itu ke KBRI di Afrika Selatan.

Panji menyampaikan, hasil laporan tersebut langsunh ditindak lanjuti pihak KBRI, dengan bantuan badan SAR dan kepolisian setempat kapal tersebut ditemukan sedang berlabuh di salah satu pulau kosong Afrika Selatan dan berhasil digiring kembali ke pelabuhan Pos Moretius Afrika Selatan namun ke 7 warga negara Indonesia termasuk Piter tidak ditemukan dalam kapal itu, hanya crew Asal negara Filipina dan Vietnam yang ada.

Atas desakan para TKI di Afrika, KBRI bersama badan SAR dan kepolisian setempat kembali melakukan upaya pencarian karena sudah lima hari Piter dan crew asal Indonesia tidak ditemukan. Panji memilih menghubungi orang tua Piter karena upaya pencarian sudah tidak lakukan oleh pihak KBRI di Afrika.

Usai mendengar cerita Panji rekan TKI korban, dan menghuni agen perekrut Piter, ibu korban Ana langsung mendatangi Polres Belu melaporkan kasus yang dialami anaknya. Selain itu, Ana juga meminta Kepolisian Polres Belu dapat membantu mengkomunikasikan kasus tersebut ke Polda NTT Atau Mabes Polri.

Direncanakan, Senin (8/3/2021) besok Ana bersama keluarga akan mendatangi Pemerintah Daerah Belu dan DPRD Belu untuk meminta menyampaikan aspirasi sekaligus bantuan guna membantu komunikasi dengan PT yang merekrut anaknya dan juga ke pihak KBRI di Afrika agar proses pencarian harus tetap dilakukan.

Ana berharap, Pemerintah Pusat bisa membantu dan mendorong pencarian terhadap 7 warga negara Indonesia yang hilang kontak di negara Afrika termasuk Piter anaknya. Karena selain mereka direkrut resmi dan dilengkapi pasport dan visa kerja mereka juga adalah bagian warga negara Indonesia yang harus dilindungi.

“Kami tidak mungkin ke Jakarta..Sekarang kami hanya menunggu belas kasihan dari Pemerintah Pusat dan Bapak Presiden Jokowi. Semoga melalui pemberitaan ini, kami mohon Bapak segara berikan tanggapan serius,” tutup Ana.