Orang Tua Mahasiswi Unimor Korban Penghamilan Dosen Cabul WT , Mengaku Dipukul dan Dipaksa Berdamai

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – WT, Dosen Program Studi Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol), Universitas Timor (Unimor) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), sempat diamankan Kepolisian Sektor Insana dari amukkan warga desa Tualeu Kecamatan Insana Tengah Januari lalu kaitan dengan kasus dugaan penghamilan terhadap AB (21) Mahasiswi Unimor Jurusan Fakultas Pertanian (Faperta).

Setelah sempat diamankan beberapa jam, terduga penghamilan terhadap mahasiswa Unimor yang dicegat dibebaskan dan kasusnya didamaikan di Polsek Insana.

Baca juga : Dosen Fisipol WT, Terduga Penghamilan Mahasiswi Unimor Dibebastugaskan dari Pelaksanaan Tri Dharma 

Salah satu anggota keluarga korban, Oktovianus membenarkan perdamaian tersebut.

“Betul, WT ditahan keluarga korban di Tualeu saat datang melayat. Ia ditahan karena beberapa kali mengabaikan panggilan keluarga dan Pemerintah Desa kaitan dengan penyelesaian kasus dugaan penghamilan itu. Namun bukannya sadar, WT malah melapor balik keluarga yang menahannya dengan tuduhan Pengancaman, perbuatan tidak menyenangkan dan Penghinaan. Masalahnya, pelapor memanfaatkan Laporan Polisi Nomor LP : 05 / 1 / 2021 / Sek Insana tanggal 29 Januari 2021 untuk mendesak korban dan keluarganya berdamai dalam dua kasus”, kata Oktofianus.

Dijelaskan lebih lanjut, ada dua kasus yang berkaitan.

“Pertama, dalam kasus dugaan Pengancaman, perbuatan tidak menyenangkan dan Penghinaan di desa Tualeu terhadap terduga, WT. Kedua, dugaan penghamilan terhadap AB. Dan setelah ada pemanggilan dari Polsek Insana, mereka memilih menempuh jalur damai. Korban penghamilan tidak dihadirkan dalam urusan perdamaian kasus pertama. Orang tua korban, juga dipaksa bahkan dipukul oknum pihak keluarga dan dipaksa berdamai”, jelas Oktovianus.

Hal senada diungkap Nikolaus Lasa orang tua AB. Ia menyesalkan sikap salah satu anggota keluarganya, Martinus Abi Suni yang memaksanya berdamai dalam kasus yang mengorbankan AB, anak kandungnya.

Orang tua korban juga menolak permintaan WT untuk berdamai dalam dua kasus, lantaran menilai kasus yang dilaporkan berbeda permasalahannya dengan kasus pertama.

“Dia menuntut berdamai dalam kasus yang dia laporkan. Ketika pihak terlapor bersedia berdamai, dia menuntut kami juga untuk ikut berdamai dalam kasus pertama, kasus penghamilan anak saya”, kata Nikolaus Lasa.

Ia kecewa dengan perdamaian tanpa penyelesaian kasus, tidak ada pengakuan siapa yang menghamili anak perempuannya, AB.

“Seolah anak saya melahirkan tanpa ada pelakunya. Padahal sudah secara terang – terangan dibeberkan kronologi penghamilan itu. Tidak ada niat baik sejak awal dari WT untuk mengurus kasus itu secara kekeluargaan. Dia terus membantah dan dia memanfaatkan kasus kedua untuk menakut – nakuti kami agar ikuti kemauannya berdamai dalam kasus dugaan penghamilan “, tandas Nikolaus.

Usai berdamai, sesuai rencana pihak pelapor dan terlapor akan bertemu Rektor Unimor menyampaikan perdamaian “sepihak” tersebut.

“Kami akan bertemu Rektor nanti, tapi pertemuan itu untuk menjelaskan bahwa kasus tersebut sudah didamaikan dan dianggap tidak ada masalah. Ini perdamaian macam apa, saya dipukul, dipaksa berdamai, ditakuti dengan kasus kedua dan tidak ada pengakuan siapa pelaku penghamilan. Yang dihamili ini anak kandung saya, kalau dia (Red, Dosen WT) bukan pelaku, kenapa takut dan menghindar dari panggilan pemerintah desa dan keluarga korban”, kesal Nikolaus.

Mendukung pengakuan ayah kandung korban AB, Keluarga korban lainnya malah berharap, WT melaporkan saja tindak pidana pencemaran nama baik oleh AB, agar jelas apa peran WT dalam kasus penghamilan tersebut.

“Kami tidak setuju dengan perdamaian itu, bahkan tidak hadir di Polsek. Aneh saja, penyelesaian masalah tanpa menghadirkan korban dan korban juga tidak tahu menahu soal perdamaian itu. Bapaknya AB dipaksa bahkan dipukul untuk mau berdamai”, kata salah satu anggota keluarga yang enggan disebutkan namanya.

Korban yang turut menyesal ikut mengaku keluarga dan orang tuanya diancam bahkan dipukul untuk berdamai.

“Ada pemaksaan ke bapak dari om Martinus. Mereka kasihtau bahwa pak WT bawa pengacara lima orang. Saya kaget dengar sudah berdamai, saya tidak tahu mereka berdamai tanpa ada pengakuan dari WT atau permintaan maaf atas perbuatan dia. WT itu bapak kandung dari anak yang baru saya lahirkan”, aku AB, ketika diwawancarai Senin (01/03/2021) per telepon.

Berita sebelumnya : Lolos Dari Kasus Video Call Seks, WT Dosen Fisip Unimor Kembali Tersandung Kasus Menghamili Mahasiswi Faperta 

Sebelumnya, pada tahun 2019 lalu viral pemberitaan kasus Video Call Seks (VCS) sang dosen dengan korbannya sejumlah mahasiswi.

Para mahasiswi mengaku menjadi korban rayuan gombal oknum dosen hingga di kalangan mahasiswi setempat oknum dosen tersebut dibaptis dengan nama Dorus. Oknum dosen ini sering merayu mahasiswi untuk melakukan Video Call Seks.

Tangkapan layar (Screenshot) percakapan cabul via aplikasi WhatsApp (WA) itu pernah beredar luas di kampus. Bahkan sudah viral di masyarakat kota Kefamenanu, termasuk wartawan juga mendapatkan kiriman tangkapan layar percakapan mesum tersebut.

Keterangan Foto : Korban AB (21) dan Dosen AB.