GARDA TTU, Desak Jaksa Periksa Pengacara Robert Salu Dalam Dua Kasus Yang Diduga Menyesatkan APH

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Setelah mendesak Kejaksaan Negeri Timor Tengah Utara (TTU) memeriksa mantan Bupati Raymundus Sau Fernandes, terkait status DPO terpidana Willybrodus Sonbay alias Willy dalam kasus korupsi jalan perbatasan Kefamenanu – Nunpo, kali ini Gerakan Rakyat Peduli Demokrasi dan Keadilan (GARDA) TTU kembali mendesak jaksa memeriksa pengacara Robertus Salu.

Pandangan GARDA TTU, keduanya diduga kuat mengetahui keberadaan sang DPO tapi secara sadar melindungi dan keduanya dinilai telah menghalangi kerja jaksa penyidik dalam upaya pemberantasan korupsi di TTU.

Ketua Garda TTU, Paulus Modok didampingi Sekretaris Willem Oki mengatakan, Kejari TTU patut memanggil dan memeriksa Robertus Salu.

“Selain Raymundus Fernandes, Robertus Salu juga patut dimintai pertanggungjawaban hukum terkait terpidana Willybrodus Sonbay yang selama ini tidak menjalankan hukuman. Kami mendesak tim jaksa untuk memeriksa pengacara Robertus Salu yang juga diduga keras secara sadar dan mau membiarkan sang DPO Willybrodus Sonbay berkeliaran bebas di kota Kefamenanu selama dua tahun lebih ,’ jelas Ketua Garda TTU, Paulus Bau Modok, S.E, kepada NTTOnlinenow.com di Kefamenanu, Selasa (23/02/2021).

Berita sebelumnya : DPO Kasus Korupsi Jalan Perbatasan Sering Kawal Bupati TTU, Direktur Lakmas NTT Minta Polisi dan Jaksa Tangkap Willy Sonbay 

Dijelaskan Modok lebih lanjut, sebagai seorang pengacara apalagi saat itu bertindak sebagai Kuasa Hukum terpidana Willybrodus Sonbay dalam kasus korupsi jalan perbatasan, Robertus Salu jelas – jelas telah menghalangi jaksa dalam memberantas tuntas kasus korupsi di TTU.

“Saat itu Robertus Salu adalah kuasa hukumnya Willybrodus Sonbay. Seharusnya Robert Salu juga punya tanggungjawab hukum untuk bisa menyampaikan informasi tentang keberadaan Willy yang masuk DPO selama dua tahun ini, bukan malah melindungi koruptor”, tandas Modok berulang kali.

Dalam kasus kedua, kasus penganiayaan terhadap Margorius Bana di desa Oelneke Kecamatan Musi, dengan terlapor mantan Bupati Raymundus Sau Fernandes. Disitu Robert Salu juga bertindak sebagai Kuasa Hukum mantan orang nomor 1 di TTU. Dalam proses hukum yang berjalan, terpidana Willybrodus Sonbay dihadirkan sebagai saksi yang meringankan terlapor.

Baca juga : Pegiat Anti Korupsi TTU, Desak Jaksa Periksa Raymundus Fernandes 

Diungkapkan Modok, Sebagai pengacaranya Raymundus, Robertus Salu telah membuat penyesatan terhadap pihak Kepolisian TTU karena mengajukan Willy Sonbay sebagai saksi yang meringankan Raymundus Sau Fernandes dalam kasus penganiayaan di Oelneke. Disitu, Robert Salu dengan tahu dan mau, secara sadar mengajukan Willy dalam kasus itu padahal Willy merupakan DPO terpidana.

“Kenapa polisi mau saja dibodohi, dimana wibawa Institusi Kepolisian? Pihak Polres TTU disesatkan oleh seorang Robert Salu. Kasus SP3 itu juga menjadi tanda tanya karena Willy sebagai terpidana tidak punya hak hukum untuk memberikan kesaksian yang meringankan. Kita lihat saja, jika SP3 itu digugat atau diadukan ke tingkat atas. Karena ada saksi yang tidak diakui hak nya secara hukum tapi berani dihadirkan untuk bersaksi palsu”, tantang Modok.

Senada dengan pernyataan Modok, Sekretaris GARDA TTU, Willem Oki turut menyesalkan pihak Kepolisian yang disesatkan oleh pengacara seperti Robertus Salu.

“Kita sesalkan pihak Kepolisian Resort TTU yang mau saja disesatkan oleh Robert Salu sebagai pengacara. Robert membawa terpidana yang tidak mempunyai hak hukum untuk memberi kesaksian meringankan untuk Raymundus sampai kasusnya di SP3. Inikan namanya pihak Kepolisian ikut dibodohi. Jadi sebenarnya apa yang disampaikan terpidana Willy dalam memberi keterangan di Polres sebagai saksi yang meringankan Ray itu adalah keterangan palsu”, protes Willem Oki.

Adapun fakta yang memperlihatkan DPO terpidana Willy Sonbay mengawal Raymundus Fernandes.
Pertama, Pada tanggal 7 Desember 2020 lalu Willy Sonbay terlihat mengawal Raymundus Sau Fernandes dalam bentrok antar massa di Desa Oelneke, Kecamatan Musi.

Kedua, pada tanggal 3 Februari 2021, Raymundus Sau Fernandes mengajukan Willy Sonbay sebagai saksi meringankan untuk memberikan keterangan tambahan di Mapolres TTU atas kasus penganiayaan yang dilakukannya. Dan Willy Sonbay datang ke Mapolres TTU disaksikan banyak orang dan para penyidik Polres TTU.

Selain fakta kehadiran Willy mengawal Raymundus Fernandes, menurut Sekretaris Garda TTU, Willem Oki, Robertus Salu juga patut diperiksa lantaran sebagai pengacara sesuai informasi berada di TKP penganiayaan tapi ikut memberikan pernyataan palsu di beberapa media Online bahwa Raymundus Fernandes tidak berada di TKP saat kejadian penganiayaan terjadi.

“Kita paham tugas seorang pengacara. Tapi dalam dua kasus ini, wajar kita ragukan profesionalismenya yang lebih berpihak pada tindak kejahatan penguasa dengan mengabaikan nilai – nilai kebenaran sesuai fakta. Sudah menyesatkan pihak kepolisian dengan mengajukan terpidana sebagai saksi, masih melakukan pemutarbalikkan fakta, pembohongan publik, terutama dalam kasus tindak pidana “kejahatan” yang melibatkan Ray Fernandes”, ungkap kedua aktifis.

Keterangan Foto : Ketua Garda TTU, Paulus Modok dan Sekretaris Willem Oki.