Membantah Dalam BAP, Tapi Saat Rekonstruksi Mengaku Menusuk Kemaluan BWA dengan Batang Sapu Ijuk

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Rekonstruksi di Rumah Dinas Bupati TTU
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Keterangan pelaku Le Ray dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di depan penyidik Polres TTU, membantah menusuk alat vital korban BWA menggunakan ujung gagang sapu ijuk.

“Tapi saat dalam rekonstruksi di Rumah Dinas Bupati TTU, Le Ray mengaku terus-terang bahwa ia telah menusuk alat vital korban menggunakan gagang sapu ijuk. Gagang sapunya sempat masuk sedikit,’ jelas Direktris Yabiku, Filiana Tahu, pendamping korban BWA, kepada wartawan usai rekonstruksi, Selasa (19/1/2021).

Pengakuan terjadi setelah dalam proses rekonstruksi, Le Ray berusaha merubah alur dan kronologi penganiayaan dan kekerasan seksual yang menimpa korban.

“Tapi korban BWA meralat dan melengkapi fakta atau peristiwa yang terjadi sebenarnya, bahwa Le Ray benar – benar menusuk alat vitalnya dengan ujung gagang sapu ijuk. Le Ray menusuk setelah mencopot paksa dan merobek miniset korban,’ jelas Filiana Tahu.

Setelah dilengkapi dan diralat oleh korban dan dikonfrontir dengan pelaku saat itu juga, pelaku Le Ray akhirnya mengaku terus-terang di hadapan penyidik dan saksi. Bahwa benar ia telah menusuk alat vital korban.

Baca juga : Admin Facebook Suluh Desa Merangkap Pemred, Frids Wawo Lado Sambut Kedatangan BWA dan Saksikan Le Ray Aniaya BWA 

Selain itu di TKP ketiga, yaitu di Ranch dan kebun pepaya milik Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandes, S.Pt, pelaku Le Ray juga mengancam akan memukul kepala korban dengan batu.

“Pelaku memaksa korban bersetubuh di kebun pepaya dengan terlebih dahulu mengancam akan memukul kepala korban dengan batu sebesar kepalan tangan orang dewasa. Korban dalam kondisi sudah tidak berdaya lagi hanya berpikir dia akan mati dibunuh. Dalam kegelapan dia masih berlutut dan bersujud di kaki pelaku sambil menangis memohon ampun. Tapi pelaku terus memaksa memerkosa korban. Ini namanya telah terjadi pemaksaan dan kekerasan seksual,” tandas Filiana Tahu.

Rekonstruksi di TKP ke – 2, yakni rumah dinas Bupati TTU, sempat terhambat karena petugas yang memegang kunci tidak berada di tempat. Terpaksa para penyidik, korban dan pelaku serta saksi mengambil jalan masuk alternatif lain ke ruangan di mana pelaku menyekap dan menyiksa korban.

Keterangan Foto : Direktris Yabiku NTT, Filiana Tahu (berjaket merah) mendampingi korban BWA dalam proses rekonstruksi di Rumah Dinas Bupati TTU