Peran Keluarga, Sekolah dan Gereja dalam Memberikan Pendidikan Seks pada Anak Usia Dini

Bagikan Artikel ini

Jakarta, NTTOnlinenow.com – Di Indonesia, kasus kekerasan pada anak didominasi oleh tindak kekerasan seksual yang terjadi pada anak usia dini. Melihat hal tersebut, maka dirasakan penting adanya upaya-upaya peningkatan kesadaran baik di lingkungan keluarga, sekolah dan gereja terhadap pentingnya pendidikan seks diberikan kepada anak sejak usia dini.

Hal tersebut menjadi pokok diskusi dalam webinar yang digelar oleh Program Studi Magister Pendidikan Agama Kristen Universitas Kristen Indonesia (Prodi MPAK UKI) yang bertajuk “Peran Keluarga, Sekolah dan Gereja dalam Memberikan Pendidikan Seks pada Anak Usia Dini” pada Sabtu, 16 Januari 2021 dan menghadirkan beberapa pembicara.

“Anak-anak merupakan karunia Tuhan yang seharusnya dijaga dan dilindungi, karena dalam diri anak melekat harkat, martabat dan hak-hak sebagai manusia yag harus dijunjung tinggi. Hak asasi anak merupakan bagian dari hak asasi manusia yang termuat dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak-hak Anak. Anak merupakan harapan dan potret masa depan bangsa dan negara, maka dari itu setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang,” terang Direktur Program Pascasarjana UKI Dr. Bintang R. Simbolon, M.Si, dalam keterangan tertulis yang diterima NTTOnlinenow.com.

Terlepas dari hak asasi anak untuk tumbuh dan berkembang, anak sering kali mendapatkan tindak kekerasan baik dalam keluarga maupun lingkungan sekitar. Dalam rapat terbatas yang diadakan di Istana Merdeka, Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa dari beberapa jenis kekerasan yang dilaporkan, ternyata kekerasan seksual menempati posisi teratas diikuti kekerasan psikis maupun fisik. Menurut data Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), pada tahun 2019 ditemukan sebanyak 350 perkara kekerasan seksual pada anak.

“Adalah penting bagi masyarakat, orang tua dan gereja untuk memahami isu-isu kekerasan seksual pada anak, penyebab dan akibat dari kekerasan seskual anak serta tindakan-tindakan pencegahan yang dapat dilakukan melalui pendidikan dalam keluarga, sekolah dan gereja. Diperlukan kerja sama yang baik antar pihak untuk mencegah tindak pelecehan seksual pada anak,” jelas Ketua Program Studi MPAK UKI Dr. Djoys Anneke Rantung, M.Th.

Dengan memberikan pendidikan seks usia dini diharapkan anak dapat memperoleh informasi yang tepat mengenai seks. “Pendidikan seksual seharusnya diberikan sejak dini ketika anak sudah mulai bertanya tentang perbedaan kelamin antara dirinya dan orang lain, berkesinambungan dan bertahap disesuaikan dengan kebutuhan dan umur anak serta daya tangkap anak,” terang Sally I Kailola, S.Hut. Sementara itu, Pricylia E.Rondo S.S, menyampaikan bahwa peran orang tua dalam memberikan pemahaman tidaklah mudah. Tetapi, seperti apapun itu haruslah menjelaskan kepada mereka secara sederhana sesuai dengan umur mereka.

Umbu Rido Bin Yan, S.Th menitikberatkan tentang pentingnya sekolah dalam pendidikan seksual kepada anak. “Peranan guru dalam melaksanakan pembelajaran dalam pendidikan seks pada anak dimulai memberikan pemahaman akan kondisi tubuhnya, pemahaman akan lawan jenisnya dan pemahaman untuk menghindarkan dari kekerasan seksual. Guru juga bisa mengenalkan anak akan identitas diri dan keluarga, serta mengenal anggota-anggota tubuh anak. Pendidikan seksual ini merupakan upaya pencegahan agar anak tidak terkena kekerasan seksual,” ujarnya.

Selanjutnya untuk peran gereja, Yoan Olivia Yolanda, S.Th menegaskan bahwa gereja harusnya dapat terlibat dalam membangun kecerdasan anak, dan membentuk moral dan kerohanian anak usia dini. Mengingat Alkitab telah memberikan contoh pendidikan seksual maka gereja harus mengajarkan seksualitas kepada warganya agar kehidupan seksualitasnya sesuai dengan tujuan penciptaan Tuhan yang menjadikan manusia laki-laki dan perempuan dalam ikatan yang kudus, baik dan indah sesuai dengan waktu dan cara Tuhan.