BNNK Belu Terus Bangun Sinergitas Dengan Seluruh Stakeholder Cegah Penyebaran Narkoba

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Dalam upaya Pencegahan dan Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN), Badan Narkotika Nasional Kabupaten Belu terus membangun sinergitas dengan seluruh stakeholder.

Sinergitas dengan berbagai instansi juga terus dibangun BNNK Belu dalam mencegah penyebaran Narkoba di Kabupaten Belu, Malaka dan TTU wilayah perbatasan RI-RDTL yang masuk wilayah kerja BNNK Belu.

“Kami terus bangun sinergitas dengan berbagai instansi dalam mencegah penyebaran narkoba juga kepada Pemkab Belu, Polres, Kejaksaan dan instansi lainnya,” ujar Kepala BNNK Belu, Muhammad Rizal dalam Press release di aula kantor, Selasa (29/12/2020).

Dijelaskan, dalam tahun 2020 BNNK Belu sesuai data temuan terdapat satu kasus sindikat penyelundupan dan dua kasus pengguna narkotika. Satu kasus sindikat penyelundupan 5 gram tembakau jenis gorila dari Timor Leste pada April 2020 lalu. Penanganan kasus sindikat ini iserahkan kepada BNN Provinsi NTT untuk di proses hukum.

Selain itu lanjut Muhammad BNN Belu juga melakukan rehabilitasi terhadap dua warga Belu sebagai pengguna narkotika. Dua warga pengguna yang berinisiatif mendatangi BNN untuk melakukan rehabilitasi atau pemulihan.

Sesuai data setahun penanganan narkotika di kabupaten Belu bukan berarti minim kasus jumlah sindikat penyelundupan maupun pemakai narkotika. Konteks wilayah perbatasan RI-RDTL tentunya berpotensi, karena itu pihaknya terus berupaya lakukan pencegahan dan penindakan.

Terkait itu, dia meminta kepada warga masyarakat di daerah perbatasan dan instansi teknis untuk bersama terus berkolaborasi bekerjasama dalam upaya mencegah dan memberantas penyalahgunaan dan peredaran narkotika di wilayah perbatasan negara RI-RDTL.

Koordinator Bidang Pencegahan BNN Belu, Gregorius Bau mengatakan, dalam menangani persoalan peredaran narkoba, pihaknya terus melakukan langkah pencegahan. Termasuk ada tes urine tetapi dukungan pemerintah kabupaten perlu dimaksimalkan lagi, salah satunya perlu dukungan peraturan daerah.

“Kita terus melakukan langkah pencegahan seperti advokasi, tatap muka, sosialisasi, pengadaan media kampanye. Terdapat 78 pegiat pemerhati narkoba, pembentukan desa desa Silawan sebagai desa binaan. Sehingga dari syarat ouput dari 7 target 24 program nasional, Belu melebihi standar 7 program nasional,” jelas Bau.


Bersamaan Koordinator Bidang Rehabilitas Victorius Fahik mengatakan layanan rawat jalan di Kabupaten Belu. Rehabilitas berbasis rawat nginap untuk sementara di RS Halilulik. Ada pula sejumlah puskesmas yang direncanakan dalam target perencanaan BNN.

Selain rawat jalan rehabilitasi, tahun ini sudah membentuk tim kader berbasis masyarakat. Kader rehabilitasi berbasis masyarakat. Sehingga masyarakat diajak untuk proaktif bisa melaporkan pasien pengguna sehingga butuh pencegahan melalui rehabilitasi.

“Selama ini warga belum semuanya di edukasi secara baik, karena itu mau lapor tapi takut sebab narkoba akan berurusan dengan pidana,” kata Manek.

“Peran kelompok masyarakat dalam P4GN terus dilakukan sehingga masyarakat bisa mengerti dan sadar akan bahaya narkoba,” sambung dia.

Untuk diketahui, data rilisan pasien yang direhabilitasi tiga tahun belakangan, untuk tahun 2018 sebanyak 3 pasien. Tahun 2019 sebanyak 8 pasien dan tahun 2020 sebanyak 2 pasien. Sedangkan kasus tindak pidana narkotika tahun 2018 sebanyak 0 kasus, tahun 2019 sebanyak 1 kasus dan tahun 2020 sebanyak 1 kasus.