Teko Oktovianus Oemanas Beberkan Jumlah Jam Mengajar Guru, Pembagian SK di Rumah Bupati H-1 Pilkada TTU

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Oktovianus Oemanas, S.Pd guru IPA di SMPN OPO Kecamatan Biboki Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) mengungkapkan kekecewaannya terhadap Pemerintah Kabupaten TTU, dalam hal ini Bupati Raymundus Sau Fernandes, S.Pt.

Pasalnya, ia sudah tercatat sebagai Tenaga Kontrak Daerah sejak tahun 2017 namun hingga tahun 2020 namanya tidak terdaftar sebagai penerima SK.

“Saya atas nama pribadi sangat kecewa dengan Bupati Raymundus, pasalnya di SMPN Opo tempat saya mengajar guru kontrak berjumlah 14 orang. 13 orang sudah diberi SK kenapa saya sendiri yang tidak”, kesal Oktovianus, saat diwawancarai NTTOnlinenow.com Kamis (24/12/2020).

Menyoali jumlah jam mengajar sebagai ketentuan penerimaan SK, Okto menjelaskan semua guru kontrak jam mengajarnya harus mencapai 18 jam.

“Kalau soal jam mengajar harus 18 jam. Di SMPN Opo teman – teman cuman mengajar 6 jam tapi terima SK”, tandas Okto.

Adapun beberapa nama guru kontrak yang jam mengajarnya tidak memenuhi syarat, tapi tercatat sebagai penerima SK diantaranya,

Maria Selfiana Abi dan Maria Yulastri Kobeksi. Keduanya mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di satu kelas. Jumlah jam mengajar hanya 6 jam. Vinsensius Saijao SE, menjabat sebagai Bimbingan Konseling di dua kelas dengan jumlah jam mengajar hanya 4 jam per minggu. Yohana Ukat guru Bahasa Indonesia, mengajar di dua kelas dan jam mengajar hanya 12 jam. Yohanes Manbait Mataubana mengajar IPS dan PKN hanya 14 jam.

Kemudian, Aurelius Seran mengajar Tik 14 jam. Ermalinda Sako mengajar IPA di satu kelas, 6 jam dan seni budaya tiga kelas 9 jam, total 14 jam.

Oktovianus membeberkan nama – nama guru kontrak penerima SK yang tidak sesuai ketentuan dengan dilampirkan data lengkap.

Tidak hanya itu, ia juga mempertanyakan sikap seorang Bupati Raymundus yang menahan SK sejumlah guru kontrak dan baru diserahkan pada H-1 Pilkada TTU lalu.


“Ada beberapa teman guru yang saya kenal, mereka baru terima SK Tanggal 8 Desember sekitar pukul 23.00 wita di rumah pribadi pak Raymundus. Diantaranya, Maria Fatima Usfinit guru di SDN Lanaus, Darius Meko Luti mengajar di SMPN Sanam dan Rudymptus Haumen mengajar di SDN Fatubai. Gaji teko ini di bayar menggunakan APBD, kenapa Pembagian SK bukan Di OPD PKO seperti beberapa teman yang sudah terima SK di akhir bulan November dan awal bulan Desember.
Ada lagi yang aneh guru atas nama Yustina Timo bukan guru kontrak daerah tapi tiba – tiba dikasih SK”, kesal Okto.

Ungkapan Oktovianus dibenarkan sejumlah guru kontrak. “Iya, kami baru pulang terima SK di rumah pak Raymundus”, aku beberapa guru kontrak dari SDN Lanaus, SMPN Sanam dan SDN Fatubai.

Oktovianuspun meminta tanggapan Bupati Raymundus untuk bisa menjelaskan kepadanya dan guru kontrak lain, alasan tidak diberikan SK. Sementara mereka sudah masukkan berkas perpanjangan SK, kemudian sudah mengikuti evaluasi dan wawancara.

“Kami minta Ketua DPR bersama anggota untuk tolong perjuangkan nasib kami para guru kontrak yang sampai saat ini belum terima SK. Kami sangat menyayangkan sikap bupati Raymundus Fernandes dimana sebelum perhelatan politik beliau bicara memperjuangkan nasib teko namun sendiri mengingkari pernyataannya dengan mengorbankan nasib guru lainnya”, pinta Okto.

Keterangan Foto : Jumlah jam mengajar guru yang tidak memenuhi persyaratan (lingkaran merah)