Dilaporkan Hamili Mahasiswinya, Dosen Fisip Universitas Timor, WT Bilang Itu Fitnah

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – WT, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Timor (Fisip – Unimor) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dilaporkan ke Ketua Program Studi Biologi Fakultas Pertanian kaitan dengan kasus dugaan penghamilan salah satu mahasiswi Unimor.

Wilfridus dilaporkan Nikolaus Lasa, Martinus Suni Abi dan Maria Tubani. Ketiganya adalah keluarga dari AB (21)mahasiswi Fakultas Pertanian yang diduga dihamili WT.

Atas pengaduan keluarga korban yang ditujukan ke Ketua Program Studi Biologi Fakultas Pertanian, WT membantah.

Bantahan WT disampaikan secara tertulis kepada Rektor dan Ketua Program Studi Biologi Universitas Timor.

“Saya Wilfridus Taus, S.Sos., bukan pelaku atau oknum yang menghamili saudara AB”, jawab WT.

Meskipun sebanyak tiga kali dilayangkan surat panggilan kepada WT dari Pemerintah Desa Lanaus untuk diurus masalah tersebut secara kekeluargaan, WT tidak mengindahkan bahkan menyangkal bahwa dirinya tidak pernah dipanggil pihak keluarga korban.

“Perlu diketahui bahwa orang tua dan keluarga korban tidak pernah memanggil saya sebanyak tiga kali untuk memberikan klarifikasi, sebab saya bersama istri saya, Maria Yovita Luti, baru di informasikan oleh keluarga istri pada hari kamis tanggal 13 Nopember 2020 lalu jam 22 00 wita, setelah mendapet informasi demikian. Pada hari Jumat pagi (14/11/ 2020), saya bersama istri pergi ke Desa Lanaus untuk bertemu dengan orang tua dan keluarga korban. Setibanya di Desa Lanaus, saya dan istri diinformasikan oleh perantara atau penghubung bahwa sebelum bertemu orang tua dan keluarga korban, saya harus memberikan jawaban. Jika menjawab YA maka bisa bertemu orang tua dan keluarga korban tetapi apabila menjawab TIDAK, maka tidak perlu membuang – buang waktu untuk bertemu orang tua dan keluarga korban”, jelas WT dalam surat klarifikasinya.

Baca juga : Kasus Penghamilan Mahasiswi Unimor. Abaikan Surat Panggilan Kades, Dosen WT Terancam Dipolisikan


WT berdalil dia dan istrinya tidak diberi kesempatan menemui keluarga korban untuk memberikan klarifikasi.

“Saya bersama istri tidak diberi kesempatan untuk menemui keluarga korban guna memberikan klarifikasi. Tetapi orang tua dan keluarga korban melalui perantara / penghubung memaksakan saya untuk memberikan jawaban YA sehingga saya tetap pada prinsip bahwa saya tidak melakukan tindakan penghamilan seperti yang dituduhkan oleh pelapor, dan saya bersama istri kembali ke rumah di Desa Oesena Kecamatan Miomaffo Timur”, jelas WT.

Mengaku beberapa kali tidak mengindahkan surat panggilan Pemerintah Desa Lanaus, namun WT mengatakan pernah berkomunikasi dengan pihak Pemdes dalam hal ini Kepala Desa Lanaus bahwa dirinya dan istrinya tidak bisa bertemu korban dan keluarga korban. Lantaran belum ada kepastian dan kejelasan atas hasil mediasi dari pertemuan itu karena memang WT dan orang tua serta keluarga korban belum diminta keterangan tentang siapa pelaku atau oknum yang menghamili AB.

“Tanggal 16 November, saya telpon kepala desa Lanaus dan saya sampaikan bahwa saya bersama istri tidak bisa menghadiri panggilan dari kepala desa Lanaus untuk bertemu keluarga korban karena saya merasa bahwa belum ada kepastian dan kejelasan atas hasil mediasi dari pertemuan itu. Karena memang saya dan orang tua serta keluarga korban belum dimintai keterangan tentang siapa pelaku atau oknum yang menghamili AB. Selain alasan di atas, kenyamanan dan keselamatan jiwa saya dan keluarga juga menjadi pertimbangan, sebab di dalam surat panggilan Kepala Desa tidak ada tembusan ke pihak kepolisian”, tandas WT.

Pada point terakhir dalam surat klarifikasi WT, ia kembali menegaskan laporan keluarga korban tidak benar dan telah mencemarkan nama baiknya sebagai seorang dosen.


“Atas tuduhan pelapor bahwa saya adalah oknum yang menghamili mahasiswu AB, itu TIDAK BENAR. Saya TIDAK mengakui tuduhan yang dialamatkan kepada saya dan tuduhan ini belum ada pembuktian secara medis dan jelas bahwa korban selama ini tidak tinggal bersama saya dan istri, di Desa Oesena Kecamatan Miomaffo Timur.

Saya bersama istri menganggap bahwa laporan itu sebagai bentuk penghinaan dan pencemaran nama baik saya dan keluarga. Bahkan telah mengganggu keharmonisan keluarga dan pastinya laporan itu telah mengganggu aktifitas kerja saya sebagai dosen di kampus. Dugaan saya, ada orientasi negatifistis dari para pelapor terhadap perjalanan kinerja kerja saya sebagai dosen di Universitas Timor”, ungkap WT sesuai surat klarifikasinya yang diterima NTTOnlinenow.com pada Rabu (16/12/2020).

Sebelumnya, pada Oktober 2019 lalu terkuak dalam pemberitaan, kasus video call sex sang dosen WT dengan sejumlah mahasiswi yang menjadi korban pelecehan seksual di rumah WT. Pengakuan para korban pelecehan mengatakan, mahasiswi yang ingin berkonsultasi terkait penyusunan skripsi dan lain – lain jika ke rumah WT, dilarang membawa teman, pacar atau suami. Mereka yang berkepentingan langsung, wajib datang seorang diri menemui WT.

Mencuatnya berita kasus video call sex ini, membuat sejumlah korban pelecehan alumni Unimor turut buka suara. Kebanyakan para korban yang mengaku mengalami hal serupa, sudah bekerja di luar NTT. Mereka mengaku pelecehan seksual yang dialami terjadi di rumah WT, yang beralamat di Kusi RT 015 RW 007, Desa Oesena Kecamatan Miomaffo Timur.

Namun lolos dari kasus Video Call Seks, WT kembali tersandung kasus dugaan penghamilan terhadap AB, mahasiswi Unimor jurusan Biologi, Fakultas Pertanian di akhir tahun 2020.
Foto Ilustrasi