Sejak Tahun 2004, Siswa SDN Bele Tidak Terima Rapor dan Ijasah. Harus Bayar Rp 50 Ribu

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Para orang tua siswa di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Bele, Desa Maurisu Selatan Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) resah akibat ulah oknum guru yang mengharuskan membayar Rp30 ribu per murid untuk pengambilan rapor di setiap tahunnya.

“Kita sesalkan pungutan – pungutan liar di sekolah ini yang tidak sesuai aturan. Mau ambil rapor saja harus bayar, apalagi ijasah. Kita harus bayar Rp30 ribu dulu baru terima ijasah anak,” kata Veronika Abuk, salah satu orang tua siswa kepada NTTOnlinenow.com Minggu (13/12/2020).

“Ini sudah mengarah ke pungutuan liar (pungli),” sambung orang tua siswa lainnya.

Para orang tua siswa mengeluh tidak pernah mengetahui perkembangan dunia pendidikan anak.

“Anak – anak ke sekolah sejak pagi dan mereka belajar sampai siang di sekolah. Tapi nilai saja kita tidak tahu, darimana kita tahu mampukah anak – anak menyerap ilmu yang diterima di sekolah.

Yang lebih menyedihkan, anak – anak lulusan SDN Bele selalu dipertanyakan kualitas pendidikannya. Mereka ternyata tidak bisa baca tulis. Beberapa Sekolah Menengah Tingkat Pertama yang menerima siswa lulusan SDN Bele sering mengeluh dan mempertanyakan hal itu’, lanjut Veronika Abuk.

Beberapa keluhan orang tua siswa SDN Bele yang disampaikan ke NTTOnlinenow.com diantaranya,

Pertama, anak – anak yang sudah duduk di bangku kelas IV bahkan kelas VI tidak tahu membaca dan menulis.

Kedua, Raport para siswa tidak pernah diterima sejak duduk di bangku kelas I sampai kelas VI, termasuk ijasah. Semua wajib bayar.

Ketiga, Surat tanda tamat belajar (Ijasah) dari SDN Bele belum didapat sejak SDN Bele dibuka hingga tahun 2020. Yang terjadi, untuk mendaftar masuk ke Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) hanya dipakai surat keterangan lulus saja.
Sementara guru – guru di tingkat SLTP menuntut ijasah.
Ketika orang tua siswa bertanya ke Kepala SDN Bele, Soleman Tabun jawabnya selalu belum selesai ditulis. Sementara untuk ambil ijasah wajib menyetor Rp50 ribu.

Keempat, Beasiswa anak didik tidak pernah diterima. Sesuai pengumuman dari Kepala Sekolah, Soleman Tabun per siswa mendapat Beasiswa sebesar Rp450 ribu. Namun hingga kini, seluruh siswa yang sudah tamat dan yang masih mengecap pendidikan di bangku SDN Bele, tidak pernah menerima uang beasiswa yang menjadi hak mereka.

Kelima, Plt Frido Meko, mantan bendahara SDN Bele diangkat jadi Kepala Sekolah SDN Bele padahal jarang masuk kerja. Diketahui, selama Soleman Tabun menjabat sebagai Kepala Sekolah dan Frido Meko sebagai bendahara, setiap ada pencairan dana bos hanya keduanya yang berhak.mengatur tanpa permah ada pertanggungjawaban dan tidak tidak diketahui guru bawahan.

Keenam, Komite sekolah sejak tahun 2004 hanya berfungsi sampai tahun 2010. Selanjutnya hingga tahun 2020, tidak berfungsi.

Ketujuh, Hampir setahun selama masa pandemi Covid 19 melanda, seluruh siswa tidak mendapat APD. Sekolah ketiadaan wadah mencuci tangan.

Kedelapan, SDN Bele ibarat kandang kambing. Kelas – kelas penuh dengan kotoran kambing.

Kesembilan, terdapat beberapa oknum guru yang tidak aktif mengajar, diantaranya Yunorius Jua, dan Isak Fobia. Tapi tidak pernah dikenai tindakan tegas, akibatnya proses belajar mengajar amburadul dan peserta didik terlantar.

Berbagai masalah yang terjadi di SDN Bele tidak sempat dibawa dalam Rapat bersama pihak Cabang Dinas di Bele beberapa waktu lalu.
Sejumlah orang tua murid, batal menyampaikan keluhan mereka lantaran tidak diberi ruang.

Sejumlah guru yang ditemui media ini di Bele, turut menyampaikan beberapa masalah yang harus segera mendapat perhatian pihak Dinas Kabupaten.

“Oleh Kepala Cabang Dinas pernah menegaskan bagi guru yang sudah pensiun tidak berhak cair dana bos. Sebaliknya Kepala Sekolah sendiri telah pensiun di tanggal 28 September tapi tanggal 1 Oktober masih ada pencairan dana bos”, ungkap seorang guru.

Lanjut guru lainnya,” Kabid Tendik mengharuskan guru – guru tinggal di dekat sekolah, sementara rumah guru tidak pernah ada sejak dulu hingga sekarang. Kabid tidak mau mendengar masalah rapor dan ijasah yang tidak pernah diterima oleh para siswa, lalu apakah masalah ini harus didiamkan saja”? Lanjut para guru bertanya.

Terkait rangkaian masalah di atas, Plt. Kepala Dinas Kepemudaan dan Olah Raga TTU, Yoseph Mokos belum berhasil dikonfirmasi.
Beberapa kali dihubungi NTTOnlinenow.com hingga Rabu 16 Desember melalui telpon selulernya, namun tidak aktif.