Oto Ojek; Moda Transportasi Ketertinggalan

Bagikan Artikel ini

Oleh Flora Bere Leki
Terbatasnya sarana transportasi umum di berbagai wilayah di Nusa Tenggara Timur khususnya wilayah Kabupaten Belu menghadirkan kijang ojek sebagai salah satu pilihan. Kijang /oto ojek adalah sebutan bagi kendaraan roda empat jenis pickup. Pada umumnya, jenis kendaraan truk ringan ini memiliki bak terbuka yang digunakan untuk membawa barang bawaan atau kargo. Namun, di wilayah yang dikenal sebagai wilayah perbatasan ini, fungsi mobil jenis pickup mengalami pergeseran. Tidak sekedar menjadi alat pengangkut barang, pickup justru mendapat tempat yang lebih signifikan yaitu sebagai alat transportasi khalayak umum layaknya bus atau angkot.

Selaras dengan perkembangan moda transportasi ini, jumlah oto ojek pun meningkat cukup tajam. Beberapa faktor turut berkontribusi mulai dari terbatasnya sarana tranportasi masa, kisaran harga mobil pickup yang jauh lebih terjangkau dibanding alat transportasi umum lain misalnya bus dan berbagai promo tawaran kredit yang bersahabat bagi pelaku usaha kecil menengah. Alhasil, pada wilayah-wilayah pusat kegiatan ekonomi dalam wilayah kota Atambua, dengan mudah dijumpai ‘terminal” khusus kendaraan jenis ini. Sebagian besar oto ojek bahkan memiliki trayek khusus.

Sedikit berbeda dari pickup yang digunakan untuk mengangkut barang, pickup yang dijadikan alat transportasi masa ini umumnya dimodifikasi dengan besi penyangga terpal penutup bak dan papan tempat duduk. Tempat duduk yang disediakan adalah papan yang dijajarkan seadanya pada tiang di atas bak. Satu oto ojek biasanya mempunyai 4 sampai 5 buah papan tempat duduk dengan kapasitas tiap papan mencapai 4 penumpang. Jumlah penumpang tentu saja bisa menjadi lebih banyak bergantung pada jumlah permintaan dan persaingan penawaran yang memanfaatkan ketiadaan pengawasan.

Nihilnya pengendalian dan pernertiban oto ojek berdampak pada keselamatan konsumen, pencemaran udara, terbatasnya prospek pemasukan daerah melalui sektor pemberian ijin dan menurunnya martabat wilayah sebagai kota yang layak huni. Kehadiran oto ojek sebagai solusi malah mengokohkan wajah Kabupaten Belu sebagai wilayah Terluar, Terdepan, dan (semakin) Tertinggal (3T).

Sebagian besar oto ojek digunakan untuk mengantar penumpang yang berasal dari wilayah luar kota. Memperhatikan topografi wilayah Kabupaten Belu yang sebagian besar berbukit-bukit hingga pegunungan dengan beberapa bagian wilayah dipisahkan oleh sungai, opsi berkendara menggunakan pickup bukan pilihan yang bebas resiko. Selain fitur kendaraan yang dirancang terbuka, struktur yang ringan, jumlah beban muatan dan medan tempuh yang menantang dapat menjadi faktor-faktor yang bisa mendorong terjadinya kecelakaan.

Oto ojek berhasil mengatasi keterbatasan mobilisasi akibat kelangkaan sarana transportasi, namun hal itu terbatas pada fungsi primer alat transportasi yaitu sekedar mengantarkan orang dari satu tempat ke tempat lain. Fungsi yang sangat dasar yang juga dapat diemban oleh alat transportasi tradisional seperti pedati dan becak. Sementara, jaminan keamanan dan kenyamanan yang juga merupakan komponen pelayanan utama diabaikan sehingga mengantar masyarakat ke masa ketertinggalan.

Selain berdampak pada keselamatan penumpang dalam melakukan perjalanan, kehadiran oto ojek juga berkontribusi pada tingginya pencemaran udara. Resiko terpapar karbondioksida (C02) yang diproduksi kendaraan tidak hanya dialami oleh pengguna jalan terlebih lingkungan. Dikutip dari Kementerian Lingkungan Hidup, sektor transportasi masih mendominasi penyebab utama pencemaran udara perkotaan di Indonesia (2011).

Jika daya tampung 4 unit oto ojek sebanding dengan 1 unit bus maka emisi yang dikeluarkan oleh aktifitas mengantar manusia dari satu tempat lain dapat ditekan melalui penertiban fungsi jenis kendaraan ini. Sayangnya, ketiadaan regulasi mendorong pertumbuhan jumlah oto ojek sehingga berkontribusi terhadap besarnya jumlah karbondioksida yang terperangkap di udara. Ketiadaan regulasi juga mengidikasikan rendahnya komitmen daerah terhadap perubahan iklim dan pemanasan global yang menjadi isu besar dunia.

Dampak lain penggunaan oto ojek sebagai substitusi dari kendaraan pengangkut masa seperti bus atau angkot adalah hilangnya prospek pemasukan daerah yang potensial melalui sumber pemberian perijinan dan pungutan atas pelayanan. Memberikan ijin bagi pickup untuk menjadi alat transportasi masa tentunya tidak perlu dibahas karena menyalahi ketentuan, sementara membiarkan dengan sengaja mobil pickup dengan ijin pengangkut barang beralih fungsi sebagai pengangkut masa mematikan potensi berkembangnya usaha layanan bus dan angkot.

Ketidakjelasan dalam pengambilan kebijakan ini berakibat pada terbatasnya potensi pemasukan dari sektor transportasi dan berimbas pada rendahnya pelayanan publik dalam penyediaan akses dan sarana prasarana transportasi. Semakin tinggi retribusi, semakin besar prospek perbaikan dan penyediaan akses transportasi, semakin besar manfaat yang diterima bagi pengguna maupun penyedia jasa angkutan dan sebaliknya.

Meningkatnya value kendaraan pickup sebagai alat pengangkut masa juga tidak sejalan dengan menurunnya martabat wilayah sebagai kota yang layak huni (liveable city). Ketersedianan transportasi masa yang dapat diandalkan bersama beberapa indikator lain seperti ketersediaan kebutuhan dasar yang meliputi perumahan, air bersih, jaringan listrik, sanitasi dan fasilitas pelayanan kesehatan menentukan kualitas hidup pada suatu wilayah. Dengan arus urbanisasi yang semakin besar dari tahun ke tahun, arah kebijakan yang mempertimbangkan jumlah pengguna layanan transportasi dan ketersediaan layanan transportasi serta sarana prasarana yang memadai dapat menjadi alat kontrol terhadap potensi kekacauan yang lebih besar di masa depan.

Kehadiran oto ojek sebagai salah satu substitusi kendaraan pengangkut masa seperti bus seolah-olah menjadi jawaban atas terbatasnya alat transportasi. Namun kehadirannya sebagai solusi membawa serta berbagai dampak susulan. Kemampuan mengenal dampak dan isu yang disebabkan oleh kehadiran oto ojek dan komitmen yang kuat terhadap pengendalian dan penertiban fungsi alat transportasi ini semoga dapat mengantarkan kita pada suatu rumusan kebijakan layanan transportasi yang aman dan layak, ramah lingkungan, berdaya ekonomi tinggi dan terlebih bermartabat.

Nama: Flora Bere Leki ( Pemerhati Sosial )

Alamat: Jl. Proklamasi No. 20, Kelurahan Bardao, Atambua Selatan