Workshop Penyusunan Rencana Aksi Desa Penanggulangan HIV dan AIDS Berbasis SALT

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – CD Bethesda Yakkum Cabang Belu menggelar workshop untuk penannggulangan HIV dan AIDS berbasis hasil kunjungan Tim SALT di Kantor Desa Leosama, Kamis (26/11/2020).

Kegiatan tersebut kerjasama dengan Pemerintah Desa Leosama dan Warga Peduli AIDS (WPA), Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu wilayah Timor Barat perbatasan RI-RDTL.

Hadir Sekretaris Desa dan stafnya, BPD, Kepala Dusun, kader kesehatan, RT, RW, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, WPA, Tim SALT.

Demikian Koordinator CD Bethesda Yakkum Belu, Yosefat Ician kepads media, Jumat pagi (27/11).

Dijelaskan bahwa, workshop yang digelar bertujuan untuk membahas hasil kunjungan Tim SALT ke rumah ODHA (Orang dengan HIV dan AIDS) dan OHIDHA (Orang yang Hidup dengan ODHA) pada September 2020 lalu untuk menggali informasi tentang potensi, kekuatan, aset yang mereka miliki.

“Harapan ke depan serta, upaya yang akan dilakukan oleh mereka untuk mencapai harapan tersebut,” ujar Yosefat.

Tujuan lainnya untuk penyusun Rencana Aksi Desa untuk Penanggulangan HIV dan AIDS 2020-2024.



Lanjut Yosefat, rencana Aksi Desa disusun berdasarkan informasi yang diperoleh oleh Tim SALT tentang potensi dan kekuatan yang dimiliki ODHA dan OHIDHA fokus kegiatan yang mereka lakukan saat ini.

“Harapan mereka ke depan, dan bagaimana cara mencapai harapan atau mimpi tersebut,” tambah dia.

Dikatakan, melalui workshop ini, telah disusun RAD Desa Silawan tahun 2020-2024 dengan aktivitas antara lain pengurangan stigma dan diskriminasi melalui sosialisasi rutin HIV dan AIDS di masyarakat, Perdes pencegahan dan penanggulangan HiV dan AIDS, tes HIV, pemberian modal usaha.

“Untuk anggaran kegiatannya tersebut bersumber dari APBDes,” sebut Yosefat.

Sebelumnya, Workshop Penyusunan RAD untuk Penanggulangan HIV dan AIDS juga dilakukan di Desa Silawan (23/11/2020) dan Desa Tukuneno (25/11/2020).

Dengan meningkatnya kasus HIV dan AIDS dan alokasi anggaran terbatas di Kabupaten Belu, partisipasi desa dan warga dibutuhkan untuk aktif mencegah ada kasus baru kare, mengurangi kematian karena AIDS serta tidak ada stigma dan diskriminasi bagi ODHA .

Dengan keaktifan semua pihak bisa menurunkan peringkat Kabupaten Belu dengan kasus HIV dan AIDS nomor dua sesudah Kota Kupang dan kasus kematian nomor satu di NTT.