Legenda Perkesa Dan Timnas Tampil Menghibur Dalam Laga Reuni Mantan Galatama

Bagikan Artikel ini

Laporan Frans Watu
Bantul, NTTOnlinenow.com – Di saat kompetisi Liga Indonesia masih terhenti karena pandemi virus Covid-19, pecinta sepakbola di Kabupaten Bantul, Yogjakarta mendapat sedikit hiburan dari para legenda sepakbola Indonesia yang tergabung dalam tim Perkesa All Star dan Bojong Gede All Star. Bertempat di lapangan Smail, Bantul minggu pagi (20/9/2020) kedua tim tampil memukau dan menghibur.

Para legenda sepakbola Indonesia itu menampilkan sisa-sisa kemampuannya sehingga menjadi hiburan bagi masyarakat Smail yang sudah sangat familiar dengan Perkesa Mataram satu-satunya klub galatama di kota gudeg.

Kalau lapangan Smail bisa berceritera tentu banyak memori yang bisa terlintas. Di tempat ini merupakan tempat bagi anak-anak asuhan Iswadi Idris bersimbah peluh dalam mempersiapkan diri menghadapi kompetisi liga sepakbola utama (Galatama).

Pagi itu sejumlah legenda sepakbola nasional menunjukkan sisa-sisa kehebatannya. Laga yang bertajuk Reuni Perkesa turut dihadiri dua arsitek legendaris Perkesa Danan Jaya dan Erens Pahalerang.

Para legenda Perkesa mulai dari era 1980-an hingga 2000-an ikut ambil bagian. Mulai dari Agusman Riyadi, Singh Betay, Doddy Kusumah, Inyong Lolongbulan, Heri Liwe, Taufik S, Guntur, Fauzy, Yayat, Frans Watu, Kuncoro, Slamet Sumatri, Lafran, Sunardi C, Warto, Mudyanto, Alip Imam hingga Permana Sawor ikut menghibur pecinta setia Perkesa.

Para legenda Perkesa datang dari Kalimantan, Jakarta, Pemalang, Blora, Kudus, Rembang, Solo, Sidoarjo, Surabaya.

“Momentum yang luar biasa setelah kami berpisah lebih dari 20 tahun. Ini ajang silaturahmi dan kebetulan masih masa covid segala aktivitas sepakbola lagi libur. Perkesa punya sejarah panjang dari Bogor, Sidoarjo, Yogjakarta hingga akhirnya pindah ke Cirebon. Waktu dihubungi teman-teman untuk kumpul lawan Rully Nere cs, saya senang sekali dan rasanya ingin segera terbang ke Yogjakarta. Ini kesempatan bagus, kami kembali dapat merajut kebersamaan sebagai keluarga besar yang sudah terbangun sejak di Perkesa,” ujar mantan striker yang kini berdomisili di Kalimantan Selatan, Agusman Riyadi.

Lawan Perkesa kali ini adalah Bojong Gede All Star yang diperkuat legenda timnas seperti Rully Nere, Rajab Lestaluhu, Louis Mohidin dan Komarudin Betay. Tim yang dipimpin Azis Samual sebelumnya telah menjalani tour ke Jawa Barat dan Jawa Timur melawan mantan pemain di daerah tersebut.

Disaksikan masyarakat Desa Smail dan para pendukung setia Perkesa, laga melawan Bojong Gede All Star berakhir dengan kemenangan Perkesa 3-2.

Penampilan energik Rully Nere, Louis Mohidin, Rajab Lestaluhu, Komarudin Betay, Azis Samual mampu diimbangi anak-anak Perkesa yang dimotori Inyong Lolongbulan, Yance Metmey dan Fauzy.

Sehari sebelumnya tim yang digawangi H.Azis Samual berhasil menekuk tim asuhan legenda sepakbola Melius Mau PSIM All Star dengan skor 2-1 di lapangan YIS Yogjakarta.



Era Galatama, Kompetisi Sangat Kompetitif, Menghibur Dan Bermutu

Kompetisi sepakbola Indonesia terus berputar walaupun diterpa badai silih berganti dari perkelahian antar pemain, pemukulan terhadap wasit dan perangkat pertandingan hingga pengaturan skor. Hingga kini pengaturan skor masih pekerjaan rumah PSSI, meskipun sudah ada satgas mafia sepakbola yang dibentuk Kepolisian RI.

Sebelumnya kita mengenal dua jalur kompetisi, ada Perserikatan yang lebih mengedepankan semangat kedaerahan, dibiayaain dari APBD sedangkan Liga Sepakbola Utama (Galatama) yang dihuni klub dengan pembiayaan secara mandiri oleh sang pemilik klub.

Dari sisi kualitas kompetisi Galatama lebih kompetitif, menghibur dan sangat bermutu. Sederet nama legenda sepakbola Indonesia seperti, Heri Kiswanto, Rully Nere, Bambang Nurdiansyah, Yusuf Bchtiar, Fredy Muli, Agusman Riyadi, Singh Betay, Mecky Tata, Widodo Cahyono Putra, Aji Santoso dan sederet nama beken lainnya merupakan produk yang lahir dari kompetisi Galatama.

Dedikasi pemain Galatama terhadap sepakbola tidak diragukan lagi karena mereka adalah pemain profesional yang menggantungkan hidupnya di sepakbola, walaupun pendapatnya tidak sebesar pemain Liga Indonesia saat ini.

Kompetisi Galatama pertama kali diputar tahun 1978 dan sejumlah Klub yang pernah terlibat di kompetisi Galatama seperti Warna Agung, Pelita Jaya, Krama Yudha Tiga Berlian, Bandung Raya, Arseto, Perkesa, Niac Mitra, Arema, Caprina, Medan Jaya, Semen Padang, Aceh Putra, Pupuk Sriwijaya, Lampung Putra, Makasar Utama, Pupuk Kaltim, Barito Putra.

Dari sejumlah Klub tersebut hingga kini masih tersisa dua klub Arema (Malang) dan Barito Putra (Banjarmasin) yang masih survive dan bertahan di tengah keranya oersaingan Liga Indonesia. Ada beberapa Klub peserta Liga Indonesia yang lahir dari merger atau akuisisi klub Galatama.

Sementara itu untuk memupuk semangat kebersamaan mantan pemain Perkesa Galatama membentuk Paguyuban Mantan Pemain Perkesa Galatama. Doddy Kusuma dan Mudiyanto ditunjuk sebagai Ketua dan Wakil Ketua, sedangkan Guntur dan Singh Betay dipercaya sebagai Sekretaris dan Bendahara. Dijajaran Pembina/Penasehat ada Frans Watu, Danan Jaya, Erens Pahalerang.

“Paguyuban ini akan menjadi media komunikasi antar mantan pemain, sehingga kami tahu perkembangan teman-teman yang kini sudah terpisah dengan kesibukannya masing-masing. Kami berharap dengan adanya perkumpulan ini komunikasi antar mantan pemain terus terjalin dan kami saling mensuport”, tegas Ketua Paguyuban Doddy Kusuma.