Memasuki Usia Yang ke-20 RPK Lakukan Terobosan Dengan Memberikan Pelatihan Bagi Kelompok Dampingan

Bagikan Artikel ini

Kupang, NTTOnlinenow.com – Memasuki usia yang ke-20, Rumah Perempuan Kupang yang merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang punya kepedulian terhadap masalah Perempuan, Anak, memberikan pelatihan ketrampilan hidup kepada kelompok dampingan.

Demikian dikatakan Direktris Rumah Perempuan Kupang (RPK), Libby Ratuarat-Sinlaeloe kepada wartawan di Kantor RPK, selasa (15/08/2020).

Menurut Libby, pelatihan yang diberikan kepada kelompok dampingan RPK adalah pelatihan ketrampilan usaha ekonomi produktif berupa pelatihan pembuatan Susu Jelly Kelor, Kue Bahagia Kelor, Salon Kecantikan, dan Pelatihan Menjahit.

Libby mengaku, tujuan dari pelatihan ini untuk meningkatkan kapasitas perempuan, khususnya kelompok dampingan agar bisa punya kemapuan mandiri secara ekonomi di tengah pandemi covid 19 yang terjadi saat ini.

Libby mengatakan, Rumah Perempuan berdiri sejak 15 Sepetember tahun 2000 sebagai bentuk respon terhadap maraknya kasus kekerasan terhadap perempuan di Kota Kupang.

Pada tanggal 15 September 2000 Yayasan Sanggar Suara Perempuan (SSP) yang berkantor di Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) mendirikan Rumah Perempuan di Kota Kupang, sebagai Women Crisis Centre (WCC) dan bersifat organisasi nirlaba.

“Pembentukan Rumah Perempuan Kupang dilatarbelakangi adanya ketidakadilan gender dalam ranah keluarga, masyarakat dan negara yang melahirkan berbagai persoalan,” katanya.



Libby mengaku, Persoalan lebih banyak dialami oleh perempuan, anak dan masyarakat miskin seperti tingginya kekerasan terhadap perempuan, kematian ibu hamil melahirkan, busung lapar, gizi buruk, buta huruf, penggangguran dan lain-lain.

Hal ini yang kemudian membawa beberapa individu yang memiliki kepedulian terhadap persoalan ketidakadilan gender sehingga mendirikan Rumah Perempuan Kupang. Berbeda dengan organisasi induknya yang beroperasi di Kabupaten TTS. Rumah Perempuan Kupang lebih memfokuskan area kerjanya di wilayah Kota Kupang dan Kabupaten Kupang.

“Pendirian Rumah Perempuan Kupang bertujuan untuk merespon berbagai tindak kriminal yang terjadi di Kota Kupang dengan memberikan pelayanan dan pendampingan langsung terhadap perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan,” kata Libby.

Libby mengatakan, pada pertengahan tahun 2005 Rumah Perempuan Kupang melakukan perencanaan strategis lembaga untuk melihat kembali posisinya terhadap berbagai persoalan sosial kemasyarakatan di Kota Kupang.

Melalui perencanaan strategis, Rumah Perempuan Kupang memutuskan untuk tidak lagi jadi Women Crisis Centre (WCC) walaupun isu kekerasan terhadap perempuan dan anak korban kekerasan tetap menjadi salah satu isu yang dikerjakan Rumah Perempuan Kupang. Isu lain yang menjadi fokus perhatian Rumah Perempuan Kupang adalah persoalan kesehatan ibu dan anak serta isu trafficking.

Libby juga mengaku, capaian Rumah Perempuan sejak tahun 2020 hingga Saat ini Data Dampingan rumah terhadap kasus perempuan dan anak sudah sebanyak 4.143 Kasus. (NTT-YM)