Mantan Pemain Perkesa Kembali Tampil Dalam Satu Tim

Bagikan Artikel ini

Laporan Frans Watu
Jakarta, NTTOnlinenow.com – Mantan punggawa Perkesa Mataram (Perkesa 78) akan tampil bersama memperkuat tim Perkesa All Star, lawan yang akan dihadapi adalah mantan pemain tim nasional Indonesia yang tergabung dalam Bojong Gede All Star pada laga persahabatan di lapangan Semail, Bantul, Yogjakarta, Sabtu (20/9).

“Ini hanya membangkitkan semangat persaudaraan antar mantan pemain Perkesa dan mantan pemain Timnas, seperti reunian sajalah, setelah lama berpisah ada saatnya kita kumpul sambil bernostalgia,” ujar Singh Betay legenda Perkesa yang mengkoordinir mantan pemain Perkesa yang tersebar diberbagai daerah.

Perkesa All Star akan didampingi Pelatih Dananjaya dan Erens Pahalerang yang senantiasa mendampingi Iswadi Idris ketika menukangi Perkesa Mataram.

Selain Singh Betay, Perkesa akan diperkuat nama-nama seperti Doddi Kusuma, Yusuf Bachtiar, Fredy Muli, Agusman Riyadi, Abdul Muluk, Inyong Lolombulan, Nusyadera, Hary Liwe, Agustinus Maufa, Frans Watu, Mudyanto, Taufik Sugirianto. M.Hayatul Fauzy, Yayat Hidayat, Guntur, Ismail, Suwarto.

Sementara mantan pemain Timnas Indonesia yang tergabung dalam tim Bojong Gede All Star akan diperkuat oleh Ruli Nere, Rajab Lestaluhu, kamarudin Betay, M.Yunus.

“Momentum ini kita kumpul disamping bernostalgia, kita berdiskusi tentang sepakbola, berbagi pengalaman antar mantan pemain karena ada beberapa yang sampai saat ini masih aktif di sepakbola baik sebagai coach maupun pengurus”, tegas Doddi Kusuma.

Bicara Perkesa tidak lepas dari rekam jejak perjalanan karir Mayjen TNI (Purn.) Acub Zainal. Mantan Panglima Kodam (Pangdam) XVII Cendrawasih yang juga mantan Gubernur Irian Jaya (1973-1975).



Acub mendirikan Perkesa 78 cikal bakal peserta Kompetisi Galatama (Liga Sepakbola Utama) pada tanggal 17 Maret 1978 dengan memboyong talenta sepakbola dari Bumi Cendrawasih.

Nama Perkesa merupakan kependekan dari asal daerah itu: Persatuan Sepakbola Kebayoran dan Sekitarnya. Klub ini awalnya hanya sebuah Klub amatir, untuk mengikuti Kompetisi Galatama maka berubahal menjadi sebuah Badan Usaha (Perseroan Terbatas) pada November 1978. Perseroan Terbatas ini langsung dipimpin sang jenderal Acub Zainal sebagai direktur utama, Martalegawa sebagai direktur pemasaran, R.A.S. Kartawidjaja sebagai direktur umum dan Wijatno Darman sebagai direktur keuangan.

Tampil dengan talenta sepakbola dari tanah Papua seperti Salim Alkatiri, Salim Permana, Saul Sibi, Fredrik Sibi, Tonny B, Alo T, Onny Mayor, Yulius Wolff, Bertus, Erren SP, Baco Ivac Dallon dan Jafeth Sibi menjadikan Perkesa sebagai klub yang cukup disegani.

“Boys, kamu semua main bukan buat Irian, bukan buat Bogor atau siapapun. Kamu main buat meningkatkan sepakbola Indonesia. Oke, everybody happy?” kata Acub.

Acub sangat memahami karakter anak-anak Papua, dengan gemblengan dan disiplin ala militer nampak cukup menjanjikan sebagai sebuah klub semiprofessional. Namun harapan itu pupus kala mental para pemain tak mampu menahan godaan suap dari Bandar judi. Media Tempo, 14 Juli 1979, melaporkan para pilar Perkesa 78 disogok Rp1,5 juta untuk mengalah dari tim Cahaya Kita dalam laga di Stadion Menteng, Jakarta pada 5 Juni 1979.

“Bagaimana tidak sakit ? Saya mencari pemain langsung ke Irian. Bukan mengambil orang yang sudah jadi, bukan! Tapi setengah jadi. Malah yang belum setengah jadi! Saya bawa ke sini. Saya didik di sini, sampai berkembang. Tetapi akhirnya kena suap juga. Bayangin gimana enggak sedih?” kata Acub dalam biografinya, Acub Zainal: I Love the Army.

Kejadian ini membuat Acub harus memindahkan home base Perkesa dari Bogor ke Sidoarjo pada tahun 1980 (Perkesa Sidoarjo) dan pada tahun 1987 dipimpin Iswadi Idris dan asisten coach Dananjaya dan Erens Pahalerang, Perksea menempati home base di Yogjakarta dan sejak saat itu berganti nama menjadi Perkesa Mataram hingga kompetisi Galatama berakhir pada tahun 1994.