Ini Jawaban Kadis PK NTT Terkait Pemecatan 15 Guru Komite di SMKN 1 Wae Ri’i

Bagikan Artikel ini

Laporan Alvaro S.Marthin
Ruteng, NTTOnlinenow.com – Terkait polemik pemecatan 15 orang Guru Komite di SMKN 1 Wae Ri’i, kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) oleh Kepala Sekolah, Yus Maria D Romas rupanya kian memanas. Kasus itu telah dilaporkan ke Polres Manggarai belum lama ini.

Bermula dari aksi unjukrasa solidaritas sejumlah guru di sekolah itu yang merupakan gabungan guru PNS dan Komite pada sekolah tersebut, Senin (13/7/2020) lalu yang menuntut keadilan pada Kepala Sekolah atas gaji guru Komite yang hanya sebesar Rp.150 ribu hingga Rp.200 ribu perbulannya selama masa pandemic covid 19.

Selain itu juga menuding Kepala Sekolah, Yus Maria D Romas otoriter, tidak transparan dan sering mengintimidasi sejumlah guru komite di sekolah itu.

Kasus ini ternyata menyita perhatian serius dari Pemerintah Provinsi NTT, dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Namun pasalnya, sejauh ini Dinas PK NTT, belum memahami betul substansi persoalannya yang berujung pada pemecatan 15 orang guru komite di sekolah tersebut. Hal itu diungkapkan Kadis PK NTT, Linus Lusi dalam menjawab pertanyaan sejumlah awak media, usai memimpin rapat koordinasi bersama seluruh para Kepala SMK, SMA, SLB, Ketua Yayasan dan Para Ketua Komite Sekolah Se-Kabupaten Manggarai yang berlangsung di Aula SMK Sadar Wisata Ruteng, Jum’at (4/9/2020).



Lusi mengaku, pihaknya pertama kali mendapatkan informasi dari media social.

“Yang dipecat itu siapa, lalu kenapa dipecat? Lalu sisi regulasinya seperti apa. SK-nya itu, SK Kepala Dinas atau SK Kepala Sekolah atau SK Komite? Atau regulasi seperti apa? Dan setahu kami, proses pecat memecat itu, kami baru tahu dari media social. Tetapi mudah-mudahan sebentar ada klarifikasi yang bagus, elegan dari sahabat-sahabat yang mau menjadi guru di sekolah itu,” ujar Linus Lusi kepada wartawan.

Tugas guru, kata Lusi adalah melatih dan membelajar siswa-siswi dan membangun tim kerja utuh di sekolah tersebut.

Dirinya berjanji, Pihaknya akan mengkaji dengan baik, sehingga menghasilkan keputusan yang seimbang dan tidak akan mengambil keputusan berdasarkan informasi media social.

“Kami akan mendalami sekali lagi substansi persoalan dan cara pandang dari saya punya adik-adik guru seperti apa terhadap sebuah keputusan. Dan juga kepala sekola melaksanakan leadership seperti apa. Ini kita dengan secara keseimbangan. Kami tidak mengambil sebuah keputusan berdasarkan penilaian media social, berdasarkan sebuah kritik social, tetapi kami sangat menghargai karena itu sebagai pintu masuk. Kita akan dengar apa kata teman-teman guru. Karena saya sendiri mengambil sebuah keputusan harus mendengar dari kedua belah pihak,” terangnya.

Dirinya berharap, ada klarifikasi yang baik dan elegan dari kedua belah pihak. “Mudah-mudahan sebentar ada klarifikasi yang bagus, elegan dari sahabat-sahabat yang mau menjadi guru di sekolah itu,” tukasnya.