Judi Sabung Ayam Marak di Kabupaten TTU, Penjudi Mengaku Sering Jadi ATM Oknum Aparat

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Warga kampung Haunaen, Desa Letneo Induk, Kecamatan Insana Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) kian resah, akibat maraknya praktik judi sabung ayam di desa mereka.

Salah satu warga, ES menjelaskan praktik perjudian itu sudah berjalan beberapa bulan terakhir.

“Mereka main judi di sini, ada jadwalnya. Banyak orang lalu lalang pakai kendaraan masuk keluar kampung kami”, ungkap ES.

Ia kecewa lantaran banyak pihak yang tahu tapi pura – pura diam membiarkan aktifitas haram itu berlanjut.

“Warga di sini tahu ada aktifitas judi, tapi mereka diam saja tidak berani buka mulut. Pemuka agama, polisi, tentara juga diam. Masa’perjudian begini terbuka dan marak digelar dua kali seminggu lolos dari pantauan”, ujar ES kesal.

Kekesalan ES dianggapnya sangat beralasan, lantaran lokasi perjudian bebas itu sudah pasti ada Bhabinkamtibmas yang ditugaskan di sana.

“Sulit diterima logika sehat, jika ada perjudian berjalan aman hinga berbulan – bulan tanpa diketahui aparat.
Kita jenuh dengan keadaan ini, diduga ada uang keamanan makanya semua diam”, tukas ES.

Warga lain membeberkan dalam praktik di lapangan, para penjudi wajib menyetor Rp50 ribu setiap ayam dilepas. Lamanya waktu yang dibuka sejak siang hingga magrib memberi keuntungan tersendiri bagi pihak yang menarik retribusi dari judi bebas tersebut.

“Jadi kesepakatannya, setiap ayam dilepas untuk bertarung potnya Rp50 ribu. Biasanya judi sabung ayam dibuka mulai siang sampai sore. Waktunya sama untuk hari Minggu dan Kamis,” pungkasnya.

Kapolsek Insana Iptu Ketut Suta, ketika dikonfirmasi Jumat (4/9/2020), membenarkan jika praktik judi benar adanya dan terjadi di kampung Haunaen, Desa Letneo Induk. Informasi tentang sabung ayam tersebut diakuinya masih melingkupi wilayah hukum Polsek Insana dan baru diketahuinya kemarin sore.



Atas informasi tersebut, pihaknya pun tengah berkoordinasi. Hal itu dilakukan agar pihaknya terbantu dalam proses penertiban. Pasalnya, jika penertiban dilakukan pihaknya diyakini selalu luput lantaran para penjudi telah mengenal dan selalu mengetahui jika hendak dilakukan penertiban.

Disinggung terkait informasi adanya bekingan oknum anggota kepolisian Polsek Insana, Suta dengan tegas membantahnya. Menurutnya, sejauh ini tidak ada aparat yang terlibat membekingi aktivitas judi tersebut. Ia pun berjanji segera menertibkan judi di wilayah hukum Polsek Insana.

Pantauan NTTOnlinenow.com, judi jenis permainan lainpun, bola guling, kuru – kuru, kartu, masih terus berlangsung di dalam kota Kefamenanu, dengan melibatkan orang yang sama. Perjudian berlangsung di rumah – rumah warga dalam kota, di wilayah Tunbakun, Kenari, dan seputaran Pasar Baru. Beberapa kali penjudi diciduk pihak kepolisian namun dilepas dengan dalil kurang bukti.

Kendati demikian, tidak sedikit penjudi yang mengeluh karena sering jadi target oknum aparat yang memeras mereka.

“Kami pernah kena gerebek saat sedang judi sabung ayam. Uang sebagai Barang Bukti tidak didapat, teman – teman kabur ke dalam hutan. Akhirnya motor dan ayam kami diambil. Itu motor ojek, kami kehilangan pekerjaan. Bagaimana mau ojek, motor sudah kena sita”, kisah PG seorang pemuda di Kefamenanu.

Ia malah terang – terangan mengatakan, belum ada keuntungan dari berjudi tapi harus setor lagi ke oknum polisi supaya selamatkan motornya yang diambil.

PG membenarkan adanya uang tebusan yang harus dikasih ke oknum polisi oleh semua penjudi yang motornya disita.

“Kami di Kefa waktu kena gerebek main judi ayam di pemakaman umum Bijaesunan beberapa waktu lalu, polisi sita motor kami karena tidak dapat uang taruhan. Beberapa ekor ayam juga polisi ikat di motor bawa ke Polres. Sekitar 11 motor waktu itu. Dua minggu kemudian kami dipanggil satu per satu dan disuruh bawa surat – surat motor dan KTP. Ternyata ketika kami sampai di kantor polisi kami diinterogasi kemudian disuruh pulang dan kembali bawa uang 500 ribu rupiah. Dan itu untuk uang tebusan ambil kembali motor. Karena saya dan kawan – kawan lain perlu motor ya terpaksa kami semua bayar Rp500 ribu sebagai uang tebusan. Artinya kami bebas dan tidak diproses hukum karena kami sudah kasih uang tebusan ke oknum polisi”, beber PG.

“Penggerebakan judi sabung ayam di desa dan dalam kota selama ini terkesan sandiwara belaka.
Oknum polisi ambil motor kami kemudian dipulangkan dengan meminta uang tebusan. Ini namanya oknum aparat jadikan kami penjudi sebagai ATM mereka. Mereka parkir berjejer motor – motor kami, ayam dan barang lain yang disita, semua difoto untuk apa. Setelah terima uang tebusan foto – foto barang bukti dihapus dan pasti tidak ada laporan ke pimpinan”, sambung salah satu penjudi yang enggan disebutkan namanya.