Polemik Excavator Bantuan KKP RI Untuk Nelayan Atapupu Ditemukan Kondisi Rusak di AMP

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Polemik alat berat excavator bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia tahun 2016 silam untuk kelompok nelayan Atapupu, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu akhirnya terjawab.

Alat berat bantuan Kementerian atas pengajuan proposal pihak Paroki Stella Maris Atapupu untuk nelayan yang kemudian diterima Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Belu ditemukan dalam kondisi rusak di sebuah AMP.

Terungkapnya excavator rusak itu saat Ketua Komisi II DPRD Belu, Theo Manek didampingi Anggota DPRD (Komisi II) bersama Pastor Paroki Atapupu Romo Yoris Giri, Pr, pengurus DPP serta umat (nelayan) datangi AMP diduga milik Willy Lay yang terletak di Hudi Metan, Desa Derok Faturene, Kecamatan Tasifeto Barat, Kamis (3/9/2020) usai audiensi.

Di lokasi AMP, Ketua Komisi II bersama Anggota, Pastor Paroki serta pengurus dan umat kaget melihat alat berat bantuan yang tidak pernah dimanfaatkan kelompok nelayan dan menjadi polemik didapati dalam keadaan rusak berat dan terparkir.

Excavator merek Komatsu bantuan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya tahun 2016 harusnya digunakan oleh kelompok nelayan Atapupu sesuai proposal.

Namun, fakta yang terjadi kelompok nelayan tidak pernah gunakan karena hingga kini belum sempat diserah terimakan ke kelompok nelayan Atapupu dan alatnya ditemukan telah rusak.

Polemik Excavator Bantuan KKP RI Untuk Nelayan Atapupu Ditemukan Kondisi Rusak di AMP

Frans Saik Lopez salah seorang umat paroki Atapupu menuturkan, kedatangan mereka bukan tujuan atau maksud terkait politik. Hanya kebetulan pada situasi begini mereka mau menegakkan harga diri dan Paroki Atapupu yang telah dicabik-cabik seperti yang dituliskan di medsos.



Dikatakan, sebagai warga Kabupaten Belu mereka sangat menghargai Pemerintah Kabupaten Belu dan sama sekali tidak mendiskreditkan Pemerintah.

Jelas Lopez, mantan pastor paroki Stella Maris Atapupu, Alm. Romo Maximus Alo Bria, Pr semasa hidup di tahun 2016 lalu telah bahwa akan ada bantuan 1 excavator dari Pemerintah yang diberikan kepada kelompok nelayan bentukan Paroki Atapupu.

Dari kelompok itulah diserahkan proposal dan telah diberikan excavator dari Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk dimanfaatkan para kelompok nelayan di wilayah pantai Atapupu. Akan tetapi sampai dengan saat ini alatnya tidak pernah diterima paroki.

“Namun dalam perkembangannya, tahu tow kami di kampung ini. Lihat barang ini tidak ada. Dan tidak ada penerimaan dari paroki. Kami usul di Romo Maxi untuk minta tapi almarhum katakan kita masih ada harga diri. Jangan minta karena orang tidak kasih. Jangan paksa diri,” ujar Lopez.

Lanjut dia, persoalan alat berat excavator bantuan dari Kementeriaan itu sudah dilupakan mereka. Namun mereka merasa terusik dengan postingan sebuah akun di grup Facebook yang telah menginjak-injak harga diri dan martabat umat serta pasti Paroki Atapupu terkait bantuan excavator.

Menyikapi itu, Ketua Komisi II Theo Manek mengatakan sesuai hasil rapat dengar pendapat bersama nelayan umat paroki bahwa, sesuai dengan mekanisme, usulan dari warga ke pemerintah pusat melalui dinas perikanan kabupaten administrasinya memenuhi.

“Tapi ketika bantuan itu direalisasi dalam bentuk fisik yaitu satu buah excavator untuk kelompok nelayan, yang ketika barang itu tiba di pemerintah daerah dilakukan penitipan di tempat yang bukan milik pemerintah daerah tapi milik pribadi,” kata Manek.