Merdeka Belajar di Masa Pandemi

Bagikan Artikel ini

Oleh Dewi Sekarsari
Wabah covid-19 yang melanda negara Indonesia sampai saat ini sangat mempengaruhi seluruh sektor di Indonesia, khususnya sektor pendidikan. Wabah ini merebah tepat ketika Ujian Sekolah (US) dan Ujian Nasional (UN) tahun pelajaran 2019-2020 akan dilaksanakan. Hal ini mengakibatkan pelaksanaan US dan UN bagi peserta didik tidak dapat dilaksanakan. Begitu pula untuk pelaksanaan ujian semester genap.

Dalam peringatan Hari Guru tahun 2019, Mendikbud melontarkan gagasan tentang “Merdeka Belajar”. Merdeka belajar ini bermakna memberikan kesempatan belajar secara bebas dan nyaman kepada peserta didik untuk belajar dengan senang dan gembira tanpa stres dan tekanan dengan memperhatikan bakat alami yang mereka miliki, tanpa memaksa peserta didik untuk mempelajari atau menguasai suatu bidang pengetahuan di luar hobi dan kemampuan mereka masing-masing. Dengan demikian masing-masing peserta didik tumbuh dan berkembang sesuai potensi dan kemampuannya masing-masing. Jika kemerdekaan belajar ini dapat terpenuhi, maka akan tercipta “pembelajaran yang merdeka” dan lembaga pendidikanya disebut sekolah yang merdeka. Perasaan dan suasana nyaman ini harus diciptakan oleh seluruh komponen yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan, baik di sekolah, rumah, maupun masyarakat.

Peserta didik yang belajar dalam kondisi menyenangkan diyakini dapat memberikan dampak positif dalam berbagai aspek. Kondisi menyenangkan yang dialami peserta didik akan memicu timbulnya perasaan menyenangkan dalam diri peserta didik. Secara psikologis perasaan senang menjadi landasan penting dalam membangun kecintaan pada proses belajar dan dapat mewujudkan ketahanan belajar. Peserta didik akan cenderung mau mempelajari semua materi yang ada dan mampu belajar dalam jangka waktu yang relatif lebih lama. Peserta didik tidak merasa cepat bosan dan tidak mudah berputus asa ketika menghadapi materi yang menantang. Ide-ide akan mengalir, sehingga memunculkan kreatifitas di dalam diri peserta didik. Proses belajar yang dijalani secara menyenangkan dapat memungkinkan siswa mampu mengingat materi lebih banyak dan lebih lama atau tingkat retensinya lebih kuat.

Implikasi peranan guru, orang tua, atau para pelaku pendidikan dalam mewujudkan merdeka belajar adalah sebagai fasilitator yang harus menciptakan kondisi menyenangkan bagi peserta didik. Hal ini dapat dilakukan dengan pendekatan personal, penggunaan metode, dan media pembelajaran yang dapat mewujudkan kegiatan belajar yang menyenangkan dan terbebas dari perasaan tertekan.

Program yang diluncurkan menteri pendidikan dan kebudayaan Nadiem Anwar Makarim yaitu merdeka belajar ini menjadi salah satu solusi untuk tetap berjalannya pendidikan di Indonesia. Prinsip merdeka belajar yang dilaksanakan adalah pembelajaran yang dilaksanakan berpusat pada peserta didik, dilakukan dalam proses literasi, dengan menghadirkan kedekatan antara pendidik dan peserta didik.

Merdeka belajar ini juga dirasakan oleh peserta didik di Nusa Tenggara Timur. Khususnya di Kabupaten Manggarai Barat. Selama masa pandemi covid-19 melada pembelajaran yang dilaksanakan adalah secara daring dan luring. Di Kabupaten Manggarai Barat ini tidak semua sekolah memiliki koneksi jaringan internet dengan kategori baik. Seperti di Desa Sukakiong Kecamatan Kuwus. guru dan peserta didik sekolah menengah pertama di desa ini harus pandai-pandai mengatur waktu dalam melaksanakan dan mengikuti pembelajaran secara daring dan luring.



Dengan kondisi minimnya sinyal di desa ini tidaklah menjadi penghalang bagi peserta didik untuk terus belajar. Di sekolah ini telah menerima bantuan internet gratis dari pemerintah. Sehingga peserta didik dapat memanfaatkan koneksi wifi dari sekolah untuk mengikuti pembelajaran. Guru pun juga demikian. Namun jangkauan sinyal wifi ini tidak mencakup seluruh desa, sehingga bagi guru atau peserta didik yang tidak terjangkau sinyal internet wifi dapat mencari sinyal-sinyal yang sering disebut sinyal pohon di daerah ini.

Tak jarang guru saat akan mengupload bahan ajar untuk peserta didik. Harus mendaki bukit dan memanjat pohon. Hal ini dilakukan demi mendapat sinyal dengan kualitas bagus agar materi bahan ajar bisa sampai kepada peserta didik. Bagi peserta didik yang tidak terjangkau sinyal internet wifi, biasanya mereka harus mencari sinyal sembari pergi ke kebun untuk mencari kayu bakar atau membantu orang tuanya dikebun. Materi bahan ajar mereka download terlebih dahulu. Sehingga ketika sampai dirumah, mereka dapat mempelajarinya secara ofline. Materi bahan ajar juga dapat dibagikan dengan cara shareit dan via bluetootd, tentunya dengan memperhatikan protokol kesehatan.

Sekolah dikawasan ini juga memperoleh bantuan dana bos afirmasi. Sehingga bagi peserta didik yang tidak memiliki gaget, dapat menggunkan tablet milik sekolah untuk belajar. Di dalam tabet ini telah terinstal aplikasi rumah belajar yang dapat menjadi sumber referensi peserta didik dalam belajar. Portal rumah belajar ini dapat diakses secara online di http://belajar.kemdikbud.go.id maupun secara ofline. Banyak fitur yang terdapat didalamnya, seperti sumber belajar, laboratorium maya, bank soal, kelas digital, buku sekolah elektronik, peta budaya, wahana jelajah angkasa, dan pengembangan keprofesian berkelanjutan.

Guru di masa pandemi covid-19 saat ini dituntut untuk semakin kreatif dan inovatif. Tidak selalu menyalahkan keadaan, namun bagaimana mencari solusi dari keterbatasan. Sekarang ini bukan jamannya lagi terus menerus menunggu pemerintah memberi bantuan untuk berkembang. Tidak sedikit guru yang kini menjadi youtuber untuk menyampaikan materi bahan ajarnya kepada peserta didik. Banyak juga guru yang kini menjadi pembuat game edukasi yang dapat digunakan untuk mengevaluasi pembelajaran yang telah dilaksanakan. Inovasi-inovasi yang lahir dari ide kreatif para guru ini membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan.

Tidak dapat dipungkiri perubahan gaya belajar dan mengajar ini memang membutuhkan waktu. Tidak semua pihak bisa menerima dan dapat mengikutinya. Namun jika tujuannya untuk kebaikan, sebaiknya kita dapat menyesuaikannya. Demi berlangsungnya pendidikan di Indonesia. Bagi guru-guru yang berada di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), mari terus berkreasi dan berinovasi. Walaupun kondisi yang di alami serba terbatas, namun inovasi dan kreatifitas kita jangan sampai terbatas. Dari tangan kecil kitalah generasi penerus bangsa ini terbentuk. Salam merdeka belajar dari NTT. (Dewi Sekarsari, S.Pd.,Guru SMPN 1 Lembor, Labuan Bajo)