Isak Tangis Keluarga Pasien Corona di Cireng Warnai Proses Pemakaman

Bagikan Artikel ini

Laporan Alvaro S.Marthin
Ruteng, NTTOnlinenow.com – Sesaat setelah RJ (57) Pasien Covid-19, asal Cireng, desa Poco Likang, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, NTT dinyatakan meninggal dunia, di RSUD dr. Ben Mboi Ruteng, Kamis, 20 Agustus 2020, Pihak RS langsung melakukan pemulasaran jenasah dan dimasukannya kedalam peti jenasah, kemudian diantar menggunakan Ambulance menuju tempat pemakaman umum di kampung halamannya untuk dikebumikan.

Tak banyak rombongan yang ikut mengantarkan jenasah RJ ke peristirahatan terakhirnya.

Namun, isak tangis keluarga (isteri dan anak beserta kerabat dekat) RJ pecah mewarnai proses pemakaman berlangsung, terlebih saat sejumlah para petugas berpakaian khusus mengeluarkan peti jenasah dari dalam mobil Ambulance hendak memasukannya kedalam liang lahat. Isterinya beberapa kali jatuh pingsan tak sadarkan diri. Namun sejumlah orang berusaha menenangkannya agar ikhlas dengan kepergian suaminya itu untuk selamanya.

Proses pemakaman menjadi tontonan warga, Aparat TNI dan Polri terus berjaga.

Sejumlah aparat TNI dan Polri terlihat serius mengawal jalannya proses pemakanan itu. Proses pemakaman menjadi tontonan warga setempat. Sebagaian warga mengintip dari kejauhan, dan sebagiannya lagi menyusuri semak hanya untuk menyaksikan proses pemakanan RJ. Mereka memadati sekitar area pekuburan umum kampung Cireng mulai dari orang tua hingga anak-anak.

Sesekali mereka ingin mendekati pekuburan itu, namun aparat yang tengah berjaga-jaga melarangnya untuk tidak mendekat.

Seluruh petugas pemakaman, termasuk warga yang terlibat dalam pemakaman itu mengenakan masker dan pakaian khusus yang telah disiapakan oleh pihak medis dari RSUD dr. Ben Mboi Ruteng.

Pemakaman berjalan aman dan lancar tanpa hambatan apapun.

Usai pemamakan, seluruh petugas disemprot menggunakan disinfektan guna mencegah penyebaran virus corona.



Warga setempat tak melayat karena takut covid.

Sementara itu, situasi di rumah duka terlihat begitu sepih. Nyaris tak ada pelayat yang datang.

Sejumlah warga yang juga merupakan keluarga dekat pasien RJ, kepada wartawan mengaku, tak melayat di rumah duka karena takut dengan corona.

Warga lebih memilih berdiam diri di rumahnya masing-masing guna menghindari penyebaran virus corona.

“Ya, sedih sekali. Kami tidak melayat ke rumah duka karena taku korona. Mau pegang Bapak Gius (Almarhum) tetapi kami takut. Kami hanya bisa berdoa kepada Tuhan, semoga almarhum mendapat tempat yang layak disisi Tuhan,” tutur Praksedis, keluarga dekat RJ.

Warga Cireng lainnya mengaku, selain karena takut corona, pasalnya mendapat larangan dari pihak terkait agar tidak mendekat.

“Kami juga dilarang oleh petugas tadi untuk tidak terlalu dekat. Makanya kami juga lebih memilih dirumah saja,” ujar warga yang enggan dimediakan namanya itu.

Kepada Pihak terkait, Praksedis meminta agar segera melakukan pemeriksaan terhadap dirinya dan keluarganya, termasuk warga lainnyabyang pernah berkontak dengan RJ untuk memastikan terbebas dari virus mematikan itu.

“Sehari sebelumnya, Bapak Gius (RJ) ini pernah pinjam kunci inggris di kami. Saya mohon petugas periksa kami juga,” harap Praksedis.