Tumpang Tindih Penerbitan Sertifikat, Agustinus Lafu Minta Penjelasan Ke BPN TTU

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Agutinus Lafu, warga kota Kefamenanu kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) terpaksa harus menghentikan proses pengukuran tanah miliknya di Kelurahan Kefamenanu Selatan.

Proses pemeriksaan dan pengukuran tanah terhenti, lantaran pihak Badan Pertanahan Nasional kabupaten TTU menemukan sertifikat Hak Milik Nomor 596 atas nama Maksimus Banu. Sehingga berkas Nomor 5609 / 2020 proses SK Pemberian Hak Milik Perorangan atas nama Agustinus Lafu tidak bisa dilanjutkan prosesnya karena tumpang tindih dengan Hak Milik Nomor 00596 atas nama Maksmimus Banu.

Atas kejanggalan tersebut, Agustinus Lafu melayangkan surat klarifikasi ke BPN TTU, karena berawal dari penjelasan Kepala Seksi Hukum Kantor BPN TTU, Agustinus Eko, S. Sos bahwa belum ada sertifikat tanah untuk Maksimus Banu.

“Penjelasan pak Agustinus Eko, bahwa belum ada sertifikat tanah untuk Maksimus Banu karena tidak ada dalam semua file dan buku tanah di kantor BPN TTU. Sehubungan dengan itu saya disarankan supaya mengajukan permohonan pengukuran sendiri. Tapi yang terjadi malah sangat bertolak belakang”, ungkap Agustinus Lafu penuh tanda tanya kepada sejumlah awak media, Sabtu (15/08/2020).

Ia merasa tertipu, karena pengukuran tanah miliknya tidak bisa diteruskan dan sia – sia biaya pengukuran yang disetornya.

“Saya merasa tertipu karena dengan ditemukan sertifikat di lokasi pengukuran tanah maka pengukuran tidak diteruskan dan menjadi sia – sia dan akhirnya biaya pengukuran yang saya setor ke Bank NTT hilang percuma”, kesalnya.

Iapun menjelaskan tumpang tindihnya sertifikat No. 596 atas nama Maksimus Banu.



Bahwa sertifikat No. 596 yang diterbitkan BPN TTU untuk Maksimus Banu didalamnya tergabung dua bidang tanah termasuk tanah miliknya yang mempunyai bukti hak tersendiri. Diantara tanah Paulus Uskono dengan tanah Agustinus Lafu ditulis tanah sengketa dalam sertifikat tersebut, padahal diantara kami tetangga yakni Paulus Uskono, Agustinus Lafu dan Maksimus Banu tidak pernah ada masalah tanah.

“Dengan demikian, sertifikat atas nama Maksimus Banu adalah sertifikat yang isinya tidak benar dan harus ditarik kembali dari Maksimus Banu. Atau mungkin petugas BPN yang mengetahui soal sengketa siapa dengan siapa diantara kami, tolong jelaskan”, pinta Agustinus Lafu.

Menurutnya, sertifikat dengan nomor 596 bermasalah itu dapat menimbulkan keinginan Maksimus Banu dan keluarga untuk mengklaim tanah tetangga dan bisa menciptakan konflik dalam hidup bertetangga di wilayah RT 041 Faub Indah.

Sehingga perlu ditarik kembali karena isinya tidak benar dan proses pengukuran tanah miliknya harus berjalan kembali.

Sedangkan Maksimus Banu harus mengurus surat jual beli tanah dulu dengan Yakob Bani sebagai penjual sertifikat tanah yang dibeli Maksimus Banu.

“Ini sangat tumpang tindih dan sudah tidak benar”, protes Lafu.

Sementara Kepala BPN TTU, belum berhasil dikonfirmasi. Beberapa kali didatangi awak media di kantor BPN, namun tidak berada di tempat.