Kasus Pengeroyokan Anak oleh Oknum Polisi, Prosesnya ‘Jalan di Tempat’, Korban dan Ayahnya Tanya Pengawas Penyidik Polda NTT

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Eduardus Fouk dan ayahnya Yakobus Asten mendatangi Markas Polda Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (7/8/2020) siang. Sang ayah mempertanyakan sejauhmana progres penanganan kasus pengeroyokan enam anggota polisi dari Polres Timor Tengah Utara (TTU) terhadap anaknya, Eduardus Fouk.

Kedatangan ayah dan anaknya ini didampingi Aliansi Perlindungan Anak Korban Kekerasan NTT, Benyamin Leu, Pendamping Anak dari Lakmas Cendana Wangi NTT, Victor Manbait, S.H, den 2 orang pengacaranya, Dyonisius Opat, S.H dan Rizan Timo, S.H.

”Jadi kasus dugaan penganiayaan dan pengeroyokan terhadap korban itu, tetap diproses. Ini karena lagi Pandemi Covid-19 dan kesibukan lain, kasus ini seakan tercecer. Namun tetap akan diproses,” tandas salah satu staf Pengawas Penyidik Polda NTT, Dody, ketika menerima kedatangan korban dan ayahnya di ruang kerja Propam Polda NTT, Jumat siang.

la mengungkapkan, sebenarnya akan digelar perkara secara luas terhadap kasus dugaan pengeroyokan dan penganiayaan oknum polisi terhadap korban namun penyidik yang menangani perkara tersebut mutasi ke Polres Lembata, jadi masih menunggu koordinasi untuk penanganan selanjutnya.

Korban Eduardus Fouk dan ayahnya, Yakobus Asten, juga mengungkapkan oknum penyidik dan mantan Kasatreskrim Polres TTU mencoba mengancam korban sebagai saksi sekaligus adanya upaya kriminalisasi kepada korban.

“Anak saya tidak berada di TKP tetapi di tidur di rumah. Tapi polisi memaksa memeriksa anak saya sebagai saksi dan pelaku tindak pidana melempari polisi. Saya menilai ini upaya kriminalisasi,” jelas Yakobus Asten, dibenarkan dua pengacaranya.



“Kami heran sekali, korban diperiksa terus-menerus oleh penyidik Polres TTU padahal klien kami tidak berada di TKP saat kejadian pelemparan anggota polisi,” tambah Dyonisius Opat, S.H, dan Rizan Timo, S.H.

Sebelumnya diberitakan, Eduardus Fouk (17) siswa kelas 1 SMA Negeri 2 Atambua melapor ke Polres Timor Tengah Utara (TTU), Senin (26/1/2020) malam. la menjadi korban salah tangkap dan dikeroyok hingga babak belur oleh 5 anggota Polsek Biboki Anleu, Minggu (26/4/2020) sekitar pukul 02.00 dini hari.

Eduardus berdomisili di RT 07/RW 03/ Dusun III Desa Kota Foun, Kecamatan Biboki Anleu. Selama ini bersekolah di SMA Negeri 2 Atambua. Kemudian pulang ke kampung halamannya di Kota Foun untuk berlibur akibat Pandemi Covid-19.

Kasus ini diadukan korban ke Propam Polda NTT. Namun Tim Buser Polres TTU melapor balik Eduardus Fouk sebagai pelaku pengeroyokan anggota polisi. Diduga keras ini adalah upaya kriminalisasi dan balas dendam kepada korban yang telah mengadu ke Propam Polda NTT.

Keterangan Foto : Yakobus Asten, ayahanda dari Eduardus Fouk (kedua dari kiri) bersama pendamping dan tim pengacara bertemu pengawas penyidik Polda NTT, Jumat (7/8/2020) siang