MENDUKUNG LEMBAGA AGAMA, MEMBANGUN KARAKTER UMAT

Bagikan Artikel ini

OLEH JOSEPH FRANKY L. BERE, SH.MH
SEBUAH TEROBOSAN BARU DARI PEMDA MALAKA
Sebanyak sepuluh Paroki Katolik, satu (1) Gereja GMIT dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Malaka menerima bantuan hibah mobil operasional dari Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Malaka. Acara penyerahannya dilaksanakan di Aula Kantor Bupati Malaka di Betun. Mobil Hibah tersebut diserahkan langsung Bupati Malaka, dr. Stefanus Bria Seran, MPH dan diterima oleh masing – masing lembaga agama. Kegiatan penyerahan tersebut dihadiri dan disaksikan oleh Uskup Atambua, Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr, Ketua DPRD Kabupaten Malaka, Adrianus Bria Seran, SH. Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Malaka, Devi Hermin Ndolu, SH Kapolres Malaka, AKBP Albertus Neno, SH., yang diwakili Kabag OPS, Kompol Yance Seran, SH Sekda Malaka, Donatus Bere, SH bersama para Kepala Perangkat Daerah.

Bupati Malaka pada kesempatan tersebut mengatakan; Pemda Malaka sangat berterima kasih kepada pimpinan dan seluruh anggota DPRD Malaka yang telah menyetujui dan menetapkan APBD bersama pemerintah daerah yang salah satu pointnya adalah pengadaan mobil hibah kepada lembaga agama. Pimpinan gereja Katolik di Kabupaten Malaka, Belu dan TTU dalam hal ini Uskup Atambua, Mgr. Dr. Dominikus Saku,Pr dalam sambutanya mengapresiasi kemajuan yang telah dicapai di Kabupaten Malaka selama berdirinya DOB Malaka, terutama selama kepemimpinan Bupati Malaka perdana, dr. Stefanus Bria Seran, MPH. “ Ini adalah terobosan baru. Dalam Undang – Undang negara kita, pembinaan akhlak menempati tempat tertinggi, dan karena itu setiap insan yang berbudi luhur perlu mendukung pembinaan karakter manusia sehingga menjadi pribadi yang beriman kuat.



KONSEP PELAYANAN PUBLIK

Pelayanan publik cenderung menjadi konsep yang sering digunakan oleh banyak pihak, baik praktisi maupun ilmuwan, dengan makna yang berbeda – beda. Dalam sejarah perjalanan administrasi publik, pelayanan publik semula dipahami secara sederhana sebagai pelayanan yang diselenggarakan oleh pemerintah. Seiring berjalannya waktu maka telah terjadi perubahan paradigma yaitu kolaborasi peran pemerintah dan non pemerintah dalam penyelenggaraan layanan yang menjadi hajat hidup orang banyak. Seyogyanya praktik pelayanan publik perlu mengadopsi nilai – nilai yang selama ini berkembang di sektor bisnis, seperti entrepreneurship, kepedulian pada pengguna, serta orientasi pada revenue generating dan penghasilan, telah mendorong terjadinya perubahan – perubahan yang sangat berarti dalam praktik penyelenggaraan layanan publik.

Undang – Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik pasal 1 ayat (1) Pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang – undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan / atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. Dalam rangka memperbaiki dan membangun karakter bangsa Indonesia dengan melaksanakan revolusi mental yang mengacu pada nilai – nilai integritas, etos kerja, dan gotong royong untuk membangun budaya bangsa yang bermartabat, modern, maju, makmur, dan sejahtera berdasarkan Pancasila maka Pemerintah Daerah sebagaimana Instruksi Presiden Nomor 12 Tahun 2016 tentang Gerakan Nasional Revolusi Mental, mengambil langkah – langkah yang diperlukan sesuai tugas, fungsi dan kewenangan masing – masing untuk melaksanakan Gerakan Nasional Revolusi Mental, dengan mensukseskan lima program utama yakni: pertama, program gerakan Indonesia melayani. Kedua, program Indonesia bersih. Ketiga, program gerakan Indonesia tertib. Keempat, program Indonesia mandiri. Kelima, program gerakan Indonesia bersatu.
Pemerintah Daerah Malaka memberikan perhatian kepada semua agama dengan tidak diskriminatif. Semua agama memiliki peran yang sama penting bagi pemerintah.

Pemerintah Kabupaten Malaka telah mengawali pembangunan religius dengan memperbaiki, merenovasi ataupun membangun tempat ibadah bagi semua agama. Mengapa harus membangun? tempat ibadah merupakan tempat berhimpun umat beragama untuk membina pembinaan iman dan karakter umat.

Hibah mobil operasional bagi semua lembaga agama, dasar pikirannya adalah: umat beragama apapun yang ada di Kabupaten Malaka tinggal di berbagai pelosok wilayah Kabupaten Malaka oleh karena itu sebagai pemimpin agama tidak hanya berada di belakang meja (ditempat) melainkan harus keluar mengunjungi, bertemu dan melayani semua umat di berbagai wilayah. Semua tokoh agama dapat berperan membina karakter umat, dengan begitu umatnya kuat maka Malaka pun menjadi kuat untuk menatap masa depan dan mengahadapi tantangan hari esok.

(JOSEPH FRANKY L. BERE, SH.MH DOSEN ILMU ADMINISTRASI NEGARA STISIP FAJAR TIMUR ATAMBUA)