Mahasiswi Kedokteran Asal Kefamenanu TTU, Positif Covid-19

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Seorang mahasiswi kedokteran di sebuah perguruan tinggi di Kota Semarang, Jawa Tengah, dinyatakan positif Covid 19, setelah pulang berlibur ke Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur, 6 Juli 2020 lalu.

Informasi ini langsung menyebar di medsos sehingga menimbulkan kecaman kepada Satuan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 yang bertugas di Bandara El Tari Kupang hingga beberapa titik pemeriksaan di perbatasan kota dan kabupaten yang dilewati sang mahasiswi kedokteran.

“Selamat datang di kota kami!,” tulis warganet dengan nada kesal dan marah. Umumnya mereka mengecam sang mahasiswi yang tidak jujur menjelaskan bahwa baru tiba dari daerah kategori ‘merah’. Akibatnya virus jahat itu menyebar kemana-mana.

Sang mahasiswi dijemput ibu kandungnya bersama beberapa kerabat lainnya di Bandara El Tari, Kupang.

Sang mahasiswi dijemput ibu kandungnya bersama beberapa kerabat lainnya di Bandara El Tari, Kupang. Bupati Timor Tengah Utara (TTU), Raymundus Sau Fernandes, S.Pt, membenarkan informasi tersebut.

“Memang benar, salah satu mahasiswi kedokteran asal Kefamenanu, Kabupaten TTU telah dinyatakan positif mengidap covid-19. Ia tiba di Kefamenanu, 3 Juli 2020 dan pemberitahuan resmi dari Pemprov Jateng baru disampaikan kepada kami 6 Juli 2020,” jelas Fernandes.


Pemkab TTU melalui Satuan Gugus Tugas Penangangan Covid-19 telah mengevakuasi sang mahasiswi kedokteran dan anggota keluarganya untuk dikarantina di sebuah Rusunawa di Kawasan BTN.

”Sedangkan kerabat dan tetangga yang kontak flsik dengan sang mahasiswi kami undang untuk menjalani rapid test dan dan diambil swab-nya,” tambah Fernandes.

Sang ayah dari mahasiswi kedokteran itu juga diperiksa dan menjalani rapid test serta swab karena sempat berkantor di Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (PPO) Kabupaten TTU.

“Kita lakukan tracking, siapa saja staf di Kantor Dinas PPO Kabupaten TTU yang melakukan kontak fisik dengan ayah kandung sang mahasiswi tersebut. Kita undang untuk menjalani rapid test dan swab,” jelas Fernandes.

Bupati TTU 2 periode ini mengaku sangat kesal karena sang mahasiswi dan keluarganya tidak jujur kepada petugas di pintu perbatasan saat diadakan pemeriksaan.

“Kalau dia jujur baru tiba dari darah kategori merah, pasti langsung dievakuasi dan dikarantinakan di Rusunawa BTN. Sehingga tidak menyebar kemana-mana,” tukas Fernandes kesal.