Terbawa Arus ke Perairan Timor Leste, Dua Nelayan WNI Dideportasi Melalui PLBN Wini

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Kantor Penghubung Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Dili, di Oecusse Timor Leste berhasil memulangkan dua nelayan WNI asal kabupaten Timor Tengah Utara, Yohanes Nabu (36 tahun) dan Primus Taunais (24 tahun) pada Selasa (07 /07/2020) pukul 13.00 Waktu Timor-Leste/WTL (atau pukul 12.00 Waktu Indonesia Tengah/WITA).

Keduanya berasal dari Desa Oepuah Utara, Kolamtua, Mena, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT) – Indonesia.

Siaran Pers KBRI Dili yang diterima NTTOnlinenow.com usai deportasi, menyebutkan Yohanes Nabu dan Primus Taunais dipulangkan bersama dengan perahu motornya yang rusak, melalui pos perbatasan Sacato di Oecusse ke Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Wini di TTU. Mereka dan dua rekan lainnya sempat dinyatakan hilang sejak tiga hari lalu.

Yohanes dan Primus selamat, sedangkan dua lainnya, kakak beradik Jefrianus Naiheli dan Yanirius Naiheli belum ditemukan. Tim Basarnas Kabupaten TTU dan Provinsi NTT masih terus melakukan pencarian.

“Pemulangan kedua nelayan dan perahunya berhasil dilakukan dalam satu hari atas koordinasi dan kerja sama yang baik dengan Pemerintah Timor-Leste, khususnya Komandan Imigrasi Oecusse, Polisi Perbatasan Timor-Leste, Bea Cukai dan Dinas Kesehatan Oecusse. Koordinasi juga dilakukan dengan petugas Pos Lintas Batas Negara Wini (PLBN Wini) di Kabupaten TTU,” jelas Marya Onny Silaban, Kepala Kantor Penghubung KBRI Dili dalam siaran persnya.

Menurut Onny Silaban, pihak KBRI tidak saja memulangkan dua nelayan WNI dalam keadaan sehat, tetapi asset merekapun dijamin tetap dalam kondisi baik saat dipulangkan.

“KBRI berusaha agar WNI dalam keadaan sehat dan asset-asetnya aman dan dapat dipulangkan dengan baik kembali ke Indonesia’ sambung Onny Silaban.

Sementara pihak Imigrasi Oecusse menyebutkan kedua nelayan dimaksud murni mengalami musibah bukan terlibat kegiatan melanggar hukum sehingga bisa langsung dipulangkan ke Indonesia.

Keterangan Foto : Suasana Deportasi dua nelayan WNI dan asset berupa Perahu dan pukat

“Pihak kepolisian Timor-Leste memastikan bahwa kedua nelayan murni mengalami musibah atau kecelakaan dalam kerja, bukan terlibat kegiatan melanggar hukum, sehingga bisa segera dipulangkan ke Indonesia,” tandas Adelaida Da Rosa, Komandan Imigrasi Oecusse.

Sesuai kronologi berita terdahulu, kedua nelayan ditemukan warga setempat terdampar di pantai Pante Macassar Oecusse, pada hari Minggu, (05/07/2020) sekitar pukul 23.00 WTL (atau pukul 22.00 WITA). Saat ditemukan, kondisi kedua nelayan sangat lemah dan mengalami luka ringan di perut karena tergesek pelampung pukat. Mereka terseret arus dan ombak selama hampir satu hari lamanya, hingga sampai ke bibir pantai di perairan Oecusse, Timor-Leste.

Perahu motor yang mereka pakai rusak terseret arus dan terdampar di tepi pantai Oecusse, yang berjarak 40 km dari lokasi nelayan terdampar.

Untuk memastikan kesehatan dan keselamatan kedua nelayan, Pemerintah Otoritas Oecusse segera membawa kedua nelayan ke akomodasi khusus karantina Covid-19 dan berada di sana selama dua hari sejak 05 Juli – 07 Juli 2020 dengan akomodasi dan logistik secara cuma-cuma dari Pemerintah Timor-Leste, sambil menunggu proses pemulangan ke Indonesia.

Baca juga : Empat Nelayan Di TTU Hilang Diduga Terbawa Arus

Selama enam bulan terakhir, sudah terdapat tiga kasus nelayan asal NTT yang terdampar di perairan Distrik Oecusse, Timor-Leste. Oecusse berbatasan dengan dua kabupaten di NTT, yaitu Kabupaten Timor Tengah Utara dan Kabupaten Kupang.

Ketiga kasus tersebut diselesaikan dengan baik dan para nelayan dapat dipulangkan ke Indonesia bersama dengan perahunya. Ombak tinggi, arus laut yang kuat dan angin kencang di perairan sekitar NTT dan Timor-Leste menyebabkan banyak nelayan WNI terdampar di perairan Timor-Leste.

Untuk diketahui bahwa Oecusse merupakan wilayah enclave (kantong) di ujung Timor-Leste bagian barat dengan sistem administrasi wilayah otonom. Oecusse merupakan satu-satunya distrik dari 13 distrik di Timor-Leste yang diberikan mandat oleh konstitusi Timor-Leste untuk mengatur wilayahnya sendiri sejak tahun 2015.

Jumlah penduduk Oecusse per 2018 mencapai 64.000 orang dengan 70% penduduk berusia produktif. Mereka hidup tersebar di wilayah pesisir pantai di Pante Macassar sampai ke Citrana, dan wilayah pegunungan di Oesilo dan Passabe, dengan mata pencaharian utama petani, peternak dan nelayan.

Dalam 5 tahun ini, infrastruktur di Oecusse semakin bagus, seperti pembangkit listrik kapasitas 14.000 megawatt, jalan raya, jembatan, waduk sampai bandara yang bertaraf internasional. Seluruh infrastruktur di Oecusse dikembangkan oleh badan usaha Indonesia antara lain Adhi Karya, Waskita Karya, Hutama Karya, Wijaya Karya dan Wartsila Indonesia.

Keterangan Foto : Kerjasama Pemerintah Timor Leste dan Indonesia dalam pemulangan 2 nelayan melalui PLBN Wini