106 Remaja Ikut Peneguhan Sidi di Gereja GMIT Polycarpus Atambua

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Sebanyak 106 remaja di Kabupaten Belu mengikuti peneguhan Sidi di Gereja GMIT Polycarpus Atambua wilayah Timor Barat perbatasan RI-RDTL, Rabu (1/7/2020).

Ibadah peneguhan Sidi 106 remaja dibagi dalam tiga tahap yakni, tahap pertama pukul 07.00 Wita sebanyak 35 remaja, tahap kedua pukul 09.00 Wita sebanyak 36 remaja dan tahap III pukul 11.00 Wita sebanyak 35 remaja.

Diketahui, peneguhan Sidi merupakan bagian dari pengakuan iman dalam gereja-gereja Protestan dimana setelah seseorang usai melakukan Katekisasi. Upacara ibadah peneguhan Sidi 106 anak menerapkan protokol kesehatan Covid-19.

Ketua Majelis Jemaat Polycarpus Atambua, Pdt Elisabeth Saek-Meza dalam khotbahnya memimpin ibadah pengukuhan Sidi tahap pertama mengatakan, hari ini adalah hari yang bersejarah bagi 106 anak dalam jemaat Gereja Polycaprpus Atambua yang mengikuti peneguhan Sidi. “Jam 07 ada 35 anak, jam 09 ada 36 anak dan jam 11 ada 35 anak,” terang dia.

Dituturkan bahwa, ada 35 anak yang berdiri dihadapan Tuhan dan jemaat untuk membuat sebuah pengakuan akan tiga hal penting, pertama ingat baik-baik kelakuan dan janji yang pernah diucapkan dihadapan Tuhan, yaitu percaya kepada Allah, Allah Bapak Anak dan Roh Kudus dengan segenap hati tidak ada Allah lain.

Kedua, percaya bahwa keselamatan telah kita terima oleh anugerah Tuhan dan berjanji untuk setia mengikuti Tuhan Yesus sebagai juru selamat baik dalam suka maupun duka sampai mati. Ketiga, berjanji untuk menjadi anggota gereja Protestan di Indonesia dan GMIT.

“Anak-anak yang mengikuti Sidi sangat diharapkan bahwa pengakuan dari janji yang diucapkan benar-benar lahir dari hati yang mengenal Kristus, yang hidup dalam kehidupan kita yang sarat bahwa disinilah rumah kita tempat kita belajar tentang kasih Tuhan,” ujar Pdt. Elisabeth.

106 Remaja Ikut Peneguhan Sidi di Gereja GMIT Polycarpus Atambua

“Yakin bahwa GMIT menjadi rumah, yakin bahwa GMIT adalah gereja yang telah bersama-sama mengukuhi imanmu sampai pada saat kami siap berdiri dan mengaku, bukan sekedar formalitas,” sambung Pdt. Elisabeth.

Ditegaskan bahwa, pengakuan yg dilakukan dihadapan Tuhan harus komitmen. Orang yang dewasa dalam iman, percaya dalam hati mengaku dalam sebuah pengakuan yang dilakukan pada saat dia berdiri dihadapan Tuhan secara dewasa tapi itu saja belum cukup.

“Masih ada yang harus dilakukan oleh setiap kita yang percaya dan mengakui imannya dengan sungguh dihadapan Allah, yaitu bahwa sikap hidup kita harus benar-benar menggambarkan bahwa kita adalah pengikut Kristus yang setia,” ucap dia.

Lanjut Pdt. Ekisabeth, yang dewasa di dalam iman, bukan sekedar dewasa karena usia tetapi harus berani bertanggungjawab sebagai seorang pengikut Yesus yang dewasa dalam iman. Oleh karena itu langkah yang harus dilakukan anak-anak kita adalah bagaimana membuktikan pengakuan yang diucapkan hari ini.

“Jaga kekudusan hidup kita.Hal penting untuk diingat adalah baca benar-benar firman Tuhan agar kamu memiliki prinsip iman. Pegang prinsip iman, jadikan firman Tuhan itu sebagai filter dalam kehidupan kita sehingga kita tidak mudah diganggu atau diomabang-ambingkan oleh apapun mengganggu iman kita,” tandas dia.

Kesempatan itu, Pdt Elisabeth mengutarakan bahwa, para orang tua pasti ada kebanggaan anak-anak yang mengucapkan janji. Namun, diingatkan bahwa tugas orang tua belum berakhir, tugas untuk mewariskan iman yang benar kepada anak anak belum berakhir.

“Tugas kita belum berkahir, sebagai orang tua tetaplah mengajarkan anak-anak dan jadilah teladan bagi anak-anak,” pinta dia.