Lagi, Pendropingan Batako Untuk Rumah Bantuan di TTU Rusak. Pekerja Mengaku, 1 Sak Semen Dipaksakan Hasilkan 70 an Batako

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Lagi – lagi bahan bangunan berupa batako yang diturunkan supplier untuk pembangunan rumah bantuan ke 41 KK di Desa Maurisu Selatan Kecamatan Bikomi Selatan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) bermasalah.

Temuan NTTOnlinenow.com di Desa Maurisu Utara, Rabu (17/06/2020) batako yang dikirim supplier ke masyarakat penerima bantuan Program Bedah Rumah Rakyat Tidak Layak Huni (Berarti) yang diperuntukkan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) sangat tidak layak pakai. Hal itu dibenarkan sejumlah pekerja batako, bahwa dari campuran 1 sak semen dipaksakan menghasilkan hampir 70 buah batako.

Pengakuan tersebut juga diungkapkan salah satu pengurus (bendahara) pelaksana desa Maurisu Selatan, Palkorus Tnomel.

“Ini batako tahap pertama yang diantar, kualitasnya tidak bagus, banyak yang hancur. Kami tanya batako darimana, jawab sopir dari Oenak, Kecamatan Noemuti. Sementara di desa sini masih ada percetakan warga yang hasilnya lebih berkualitas. Namanya Pengurus itu berarti ada tim persiapan, pelaksana, teknis. Dan ketua KMPS juga itu tugasnya mereka semua teliti lagi, karena ketua KMPS yang survey bahan dan harga ke supplier “, tandas Tnomel.

Salah satu warga penerima bantuan, bapak Silvester Kefi juga mengakui kualitas batako yang tidak bagus.

“Ini batako kita tidak tahu siapa punya, katanya diturunkan dari Oenak Kecamatan Noemuti. Tahap pertama harusnya diturunkan 800 buah batako tapi ini hanya diturunkan 400 batako saja. Saat kasih turun juga kami tidak tahu, kami ada di sawah. Bagaimana kita tahu jumlahnya 400 buah kalau tidak ada yang mengawas saat batako diturunkan, ditambah lagi banyak batako hancur,” kesal Kefi.

Ia dan istrinya bersama sekelompok masyarakat yang ditemui media ini menolak menggunakan batako yang dikirim supplier.

“Kami tolak, kami minta diganti dengan batako yang lebih berkualitas. Jangan bodohi kami dengan bantuan 1 unit rumah tapi bahan bangunan dikasih yang tidak baik. RAB kami tidak dikasih, Daftar Rencana Belanja Bahan Bangunan juga kami tidak pegang, apakah kami tidak berhak dapat”, sambung Kefi.

Sementara warga penerima bantuan lainnya protes lantaran sesuai informasi yang disampaikan pengurus, pendropingan batako tahap pertama menggunakan batako dari Oenak dan tahap kedua akan dipakai dari lokasi yang berbeda.

Baca juga : Supplier Droping Batako Bedah Rumah Tak Layak Pakai. Dinas PRKPP TTU, Tutup Mata. Masyarakat tuntut Ganti Bahan Bangunan

“Kita terima bahan saja sudah kurang, rusak lagi. Di sini ada percetakan, pengurus bilang milik CV Kramat Jati dan mungkin itu yang supplier di desa Maurisu Selatan sini. Hanya kami tidak mau pakai juga karena batako hasil cetaknya tidak kuat. Itu untuk 1 sak semen dipaksakan menghasilkan 70 lebih bahkan hampir 80 buah batako. Bagaimana kami bisa dapat batako yang berkualitas. Kalau keseluruhan bahan bangunan diturunkan dengan kualitas buruk, kami yakin nominalnya tidak sampai Rp25 juta sesuai hak per KK Rp25 juta”, beber salah satu penerima bantuan.

Gurat kesedihan terlihat pada wajah warga penerima bantuan yang berdiri di antara tumpukan batako yang hancur terkena air hujan malam itu.

Temuan lapangan di desa lainnya di kecamatan Bikomi Selatan, di desa Maurisu Tengah, pendropingan bahan bangunan tahap 1 masih sangat kurang. Semisal daftar kebutuhan semen 50 sak, diturunkan hanya 40 sak dengan alasan yang disampaikan ke penerima bantuan, kekurangannya akan dilengkapi pada pendropingan bahan tahap kedua. Akibatnya, penerima bantuan yang sudah mendapat semen, terpaksa harus meminjamkan semen beberapa sak untuk KK lain sehingga bisa mulai membangun fondasi rumah bantuan. Selain semen, bahan bangunan lainnya yakni besi beton dengan ukuran 8 dan 10 mm tahap 1 pun belum lengkap diturunkan.

Untuk desa Maurisu Utara pun masih kekurangan bahan bangunan yang diantar pada tahap pertama.

Sesuai informasi yang diterima media ini, untuk desa Maurisu Selatan Program Berarti ini dikerjakan Supplier dari CV Kramat Jati. Desa Maurisu Tengah, Toko Duta Bangunan dan Desa Maurisu Utara, UD Sion.

Diketahui, khusus untuk Kecamatan Bikomi Selatan, terdata penerima bantuan sebanyak 115 KK dengan rincian, desa Maurisu Utara 18 KK, Maurisu Tengah 56 KK dan Maurisu Selatan 41 KK. Total anggaran pelaksanaan Program Berarti di tiga desa tersebut sebesar Rp2 miliar 875 juta.

Keseluruhan anggaran untuk pembangunan rumah bantuan di 25 desa yang tersebar di Kabupaten TTU sebesar Rp29 miliar dan per KK berhak atas Rp25 juta untuk bangun baru rumah berukuran 6 x 8 m.

Diberitakan sebelumnya, Program Berarti tahap pertama, hanya berjalan di 25 desa dengan anggaran sebesar Rp29 miliar. Jumlah awal desa penerima bantuan di kabupaten TTU sebanyak 65 desa, namun di tengah perjalanan 40 desa dipending pelaksanaannya lantaran dari anggaran sebesar Rp84 miliar lebih sekitar Rp55 miliar dialihkan sepihak pemerintah dengan dalil untuk mendukung penanggulangan Covid 19.