Sejumlah Meteran Gratis Di Desa Mata Wae Terancam Dicabut PLN

Bagikan Artikel ini

Laporan Alvaro S. Marthin
Ruteng, NTTOnlinenow.com – Tujuh meteran gratis bantuan Pemerintah di desa Mata Wae, kecamatan Satar Mese Utara, Kabupaten Manggarai, NTT terancam dicabut oleh pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN) Rayon Ruteng.

Meteran-meteran itu telah dipasang selama hampir dua tahun lamanya, tetapi sampai saat ini tidak menyala karena belum dialiri arus listrik.

Disaksikan, Media ini, Rabu (13/5/2020), sejumlah petugas PLN Rayon Ruteng menyambangi 7 (Tujuh) rumah di desa Mata Wae untuk bertemu dengan pemiliknya dan mencabut meteran tersebut.

Namun warga merasa keberatan karena sejak dipasangnya meteran itu sampai saat ini belum menikmati penerangan listrik.

Kepada petugas PLN, Warga meminta solusi terbaik agar meteran tidak dicabut, tetapi ada langkah solutif yang bisa ditempuh sehingga masyarakat bisa menikmati penerangan listrik nantinya.

Salah satu petugas PLN Rayon Ruteng, Videntus Haukilo, kepada warga menjelaskan, Pihaknya datang melaksanakan perintah PLN Rayon Ruteng untuk menertibkan seluruh meteran bodong.

“Kami menjalankan perintah PLN. Karena ini masuk kategori meteran-meteran bodong. Harus segera ditertibkan agar tidak disalah gunakan oleh masyarakat. Tidak bisa diaktifkan karena tidak sesuai dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK) Subsidi. Sehingga selama ini tidak bisa menyala,” terang Videntus Haukilo.

Diduga proses pengurusan meteran-meteran itu sebelumnya menggunakan NIK orang lain yang bukan termasuk NIK Subsidi, dalam hal ini Pemilik NIK tidak terdaftar sebagai penerima bantuan Subsidi dari Pemerintah.

Agar tidak dicabut atau ditertibkan, pihak PLN menawarkan kepada warga untuk melanjutkan prosesnya dengan mengurus meteran baru dengan daya 900 Watt seharga Rp. 1,2 juta rupiah.

Tawaran itu ternyata disambut baik oleh warga. “Kami bukan tidak bisa bayar meterannya. Tetapi yang terpenting kami bisa menikmati penerangan listrik. Karena ini meteran bantuan gratis dari Pemerintah dulu sehingga kami menerima, tetapi ternyata sampai saat ini belum juga menyala,” tandas Vinsen Burhan salah satu pelanggan meteran tersebut di kampung Gejar.

Setelah dilakukan sosialisasi oleh petugas PLN, warga akhirnya menerima dan seluruh meteran tidak jadi di cabut, tetapi tetap melanjutkan proses meteran baru dengan menaikan dayanya, dari 450 Watt, ke 900 Watt dengan harga 1,2 juta rupiah termasuk SLO, tetapi belum termasuk instalasi.

Rencanya pengatifan meteran-meteran tersebut bisa secepatnya tergantung kesiapan warga atau pelanggan.

“Kita bisa nyala dalam satu atau dua hari kedepan, semua itu tergantung kesiapan warga,” tambah Videntus Haukilo.