Aliansi Penghapusan Kekerasan Terhadap Anak Kabupaten TTU, Beberkan 15 Fakta Temuan Penganiayaan Anak oleh Oknum Anggota Polres TTU.

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Aliansi Penghapusan Kekerasan Terhadap Anak Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) menemukan 15 fakta yang sadis dan menyedihkan terkait kasus salah tangkap dan penyiksaan anak di bawah umur, Eduardus Fouk.

Penyiksaan itu dilakukan Brigpol Gerry Taslulu Cs pada Minggu, 26 April 2020, sebagaimana Laporan Polisi Nomor: STL-141/IV/2020/RES TTU tanggal 27 April 2020.

Fakta-fakta ini terangkum dalam surat bernomor: 01/APKTA/V/TTU yang disampaikan aliansi kepada Kapolres TTU, AKBP Nelson Filipe Dias Quintas, S.I.K, saat melakukan audiens, Senin (11/5/2020) siang. Audiens ini dihadiri Pastor Paroki Gereja St. Theresia Kefamenanu, Romo Gerardus Salu, Pr yang juga menjabat Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB)di TTU.

Pertama, bahwa pada hari Minggu tanggal 26 April 2020 sekitar pukul 02.00 wita telah terjadi penyiksaan terhadap anak 17 tahun Eduardus, korban di Abanat Desa Birunatun Kecamata Biboki Feotleu yang di duga kuat di lakukan oleh Brigpol Gery Taslulu Cs dengan cara dipukul, ditinju, ditampar pada wajahnya, ditendang pada tulang rusuk, dipukul dengan popor pistol pada tulang rusuk dan lutut, dijambak rambutnya, dipukul pada sekujur tubuh dengan menggunakan kayu pikulan air dan dahan kayu, disuruh berlutut dan diborgol kedua tangan ke belakang lalu di tendang pada tulang rusuknya.

Kedua, dalam kejadian penyiksaan tersebut, korban dipaksa untuk mengakui keterlibatannya dalam kasus pemukulan dan pelemparan sekelompok orang dengan aparat kepolisian Polsek Biboki Anleu pada hari Rabu tanggal 22 April 2020, di Desa Kota Foun, Kecamatan Biboki Anleu Kabupaten TTU, yang sama sekali tidak di ketahui oleh Korban.

Ketiga, dalam perjalanan dari lokasi kejadian penyiksaan di Pondok Kebun Abanat, Desa Birunatun Kecamatan Biboki Feotleu menuju ke Polsek Lurasik, Kecamatan Biboki Utara, Korban ditanya maksud kedatangannya ke Desa Birunatun oleh Brigpol Gery Cs yang dijawab oleh korban adalah untuk mengambil handphonenya yang dipinjam ponakannya Yudit Manehat.

Keempat, bahwa dalam perjalanan menuju ke rumah Yudit Manehat korban dalam keadaan diborgol kedua tangan ke belakang tersebut masih mengalami penyiksaan dengan dipukul pada leher bagian kiri hingga jatuh terguling oleh salah seorang yang mata sebelahnya rusak. Dan pada jalan sempit menanjak kurang lebih 8 meter, korban ditarik rambutya dari depan dan diperintahkan untuk berjalan lebih cepat oleh Brigpol Gery Cs. Dan saat menunggu kedatangan kendaraan penjemput, korban di suruh berlutut lalu orang yang memakai jaket coklat dan mata sebelahnya rusak, menodongkan pistol ke arah korban dengan mengatakan agar korban jujur dan berkata benar jika tidak Korban ditembak. Kemudian ia menghitung untuk menembak,…satu ….. dua….dua setengah….. namun tidak jadi menembak korban, bersamaan dengan datangnya mobil penjemput.

Kelima, korban diperintahkan untuk menunjuk rumah Yudit Manehat dan Brigpol Gery Taslulu Cs melakukan pengambilan barang berupa Handphone milik korban dari peminjam Yudit Manehat, tanpa surat perintah penyitaan barang.

Keenam, sebelum melakukan pengambilan barang handphone milik korban di rumah Yudit Manehat, Brigpol Gery Cs, mendatangi, memasuki dan menggeledah rumah Servasius Asa secara illegal tanpa surat perintah penggeledahan mencari orang yang bernama Blasius. Meski Servasius Asa tidak pernah melihat orang yang dicari Brigpol Gery Taslulu Cs itu.

Ketujuh, dalam perjalanan menuju ke Lurasik, di Kampung Barabae, Desa Lokomea, handphone Korban yang telah di sita dan di pegang oleh salah satu orang dari kelompok Brigpol Gery Cs, ditelpon oleh Blasius yang sedang dicari oleh Brigpol Gery Cs. Selanjutnya korban dijadikan sebagai umpan untuk menangkap Blasius yang mereka cari -cari itu.

Baca Juga : Ketua FKUB TTU, Romo Gerardus Salu, Serahkan Temuan Kasus Penganiayaan Anak dan Tuntutan APKTA Usai Audiens dengan Kapolres TTU 

Kedelapan, dalam arahan Brigpol Gery Cs, korban melakukan komunikasi pertelepon dengan Blasius dan bertemu di tempat yang dijanjikan, namun beberapa saat akan ditangkap Blasius berhasil melarikan diri. Brigpol Gerry Cs dengan pistol menembak satu kali ke atas, dan korban yang takut dengan ancaman Brigpol Gery Cs, sebelumnya bahwa akan menembak mati korban bila Blasius tidak ditemukan, maka korban lari menyelamatakan diri ke arah Desa Kota Foun. Tiba di Kali kering dan merasa aman, korban menelpon orang tuanya menjemputnya pulang ke rumah.

Kesembilan, sekitar 30 menit setelah korban tiba di rumah di mana telah berkumpul keluarga dan tetangga yang mengkhawatirkan keadaan Korban, datang anggota polisi bernama Karlito yang bertugas di Polsek Biboki Anleu-Ponu, yang mengalami pemukulan dan pelemparan oleh kelompok orang pada tanggal 22 April 2020.

Kesepuluh, bahwa kedatangan polisi Karlito untuk mengenali apakah korban merupakan satu dari kelompok orang yang melakukan pemukulan dan pelemparan terhadap dirinya. Namun setelah melihat penyintas, polisi Karlito justru berbicara soal kekerabatan di antara keluarga Manehat dengan dirinya lalu menelpon tiga anggota polisi lainnya untuk datang ke rumah Korban yang juga untuk memastikan apakah korban merupakan bagian dari kelompok orang pelempar polisi Karlito. Dan setelah melihat korban, saat akan pulang, dalam percakapan polisi Karlito dengan tiga orang Polisi lainya itu, terdengar salah satu di antara mereka yang berkaos you can warna Putih dan bercelana pendek memegang senjata laras panjang mengatakan, “Kita Salah Tangkap”.

Kesebelas, setelah pergi dari tempat tinggal penyintas kurang lebih 20 menit sampai dengan 30 menit kemudian polisi Karlito datang lagi ke tempat tinggal korban bersama-sama dengan Kepala Desa dan Babinsa Desa Kota Foun. Saat itu Babinsa dan Kepala Desa Kota Foun, menyampaikan agar persoalan yang di alami oleh korban untuk diselesaikan secara damai. Namun ditolak oleh keluarga korban saat itu. Karena korban yang tidak tahu menahu telah disiksa sedemikian rupa.

Keduabelas, selama keluarga korban melakukan pelaporan kasus pada Polres TTU telah terjadi upaya menghalangi keluarga korban untuk melaporkan kasus tersebut dari Kasat Reskrim Polres TTU, serta ancaman dan intimidasi terhadap korban sebagai bagian dari kelompok orang yang melakukan pelemparan terhadap anggota polisi Karlito di Kota Foun.

Ketigabelas, ketika korban dibawa ke RSUD Kefamenanu untuk divisum, kondisi rumah sakit dalam keadaan gelap, sementara listrik pada rumah warga sekitarnya tetap menyala seperti biasa. Akibat padamnya listrik ini, pihak RSUD Kefamenanu tidak dapat melakukan pelayanan visum bagi Korban, dokter jaga IGD mengatakan bahwa jikapun listriknya tidak padam, pihak RSUD tetap kesulitan untuk melakukan penanganan sesuai permintaan visum yang dibutuhkan karena alat rongentnya tidak berfungsi sehingga pemeriksaan visum di rekomendasikan ke RS Leona Kefamenanu.

Keempatbelas, setelah dilakukan rontgen di RS Leona Kefamenanu, korban masih mengalami kesulitan bernapas, pusing-pusing, merasa nyeri pada dada, dan pungung, sulit berjalan karena lututnya bengkak akibat dipopor dengan pistol, serta luka lecet pada beberapa bagian tubuh.

Kelimabelas, setelah dirawat di RS Leona dari hari Senin malam, 27 April 2020 hingga tanggal 28 April 2020, keluarga korban mengalami kesulitan pembiayaan oleh karena BPJS tidak mengcover pasien peristiwa tak terduga seperti yang dialami korban, sehingga korban terpaksa tidak lagi menjalani pengobatan dan perawatan di RS Leona sejak tanggal 29 April 2020.

Kapolres TTU, AKBP Nelson Filipe Dias Quintas, S.I.K, yang dikonfirmasi NTTOnlinenow.com di Polres TTU, Senin (11/05/2020) usai audiens dengan APKTA hanya menyampaikan bahwa kasus tersebut sudah diambil alih oleh Polda NTT sehingga ia tak bisa terlalu banyak menjelaskan, namun berharap proses hukumnya berjalan seadil – adilnya.

“Kalau menyangkut kasus itu, bisa ditanyakan langsug ke Polda NTT karena kasusnya sudah ditangani Polda NTT. Intinya kasus ini harus diproses seadil – adilnya sampai ada kepastian hukum”, lanjutnya.