Lima Pengacara Dampingi Korban Penganiayaan dan Salah Tangkap Eduardus Fouk, Laporkan Brigpol Gerry Taslulu Cs Ke Propam Polres TTU

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Korban salah tangkap yang dianiaya lima oknum anggota Buser Polres TTU, Eduardus Fouk (17) pada Jumat (08/05/2020) siang tadi ditemani lima pengacara mengadukan Brigpol Gerry Taslulu Cs ke Propam Polres Timor Tengah Utara (TTU).

Lima pengacara itu secara sukarela menyatakan menjadi team kuasa hukum bagi Eduardus Fouk, anak yang menjadi korban salah tangkap dan penyiksaan oleh Brigpol Gerry Taslulu, Cs. Team kuasa hukum ini terdiri dari Yoseph Maiser,S.H, Magnus Kobesi, S.H, Joni Tulasi S.H, Risal Timo S.H, dan Dionisius Opat S.H. Turut mendampingi korban, Viktor Manbait, S.H, Direktur Lembaga Advokasi Anti Kekerasan Masyarakat Sipil (Lakmas) NTT dan kakak korban, Martinus Bouk.

Laporan pengaduan diterima Bripka Robert de Rosari dan Bripka Djoni di ruang pemeriksaan.

Sebelum melapor ke Propam Polres TTU, team kuasa hukum menemani korban ke RSU Leona untuk mengambil hasil visum et repertum yang dibuat dua pekan Ialu.

“Sebenarnya ada beberapa pengacara dari Jakarta yang sudah menyatakan ikut bergabung dengan team kuasa hukum di Kefamenanu. Mereka berasal dari Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (LBHI) Jakarta, Kontras dan Lokataru Foundation. Namun karena kendala Pandemi Covid-19, mereka belum hadir di Kefamenanu. Namun secara moril mereka mendukung dan terus memantau serta meminta laporan perkembangan kasus ini,” jelas Manbait.

Pekan lalu, kata Manbait, petugas Bidpropam Polda NTT telah mengambil keterangan dari korban Eduardus Fouk dan tiga orang saksi lainnya.

“Dari pemeriksaan petugas Polda NTT, ditemukan fakta yang tidak terbantahkan bahwa Brigpol Gerry Taslulu Cs telah melakukan penyiksaan atas korban salah tangkap serta menyalahi prosedur hukum,” papar Manbait.

Keterangan Foto : Pertemuan Tim Koalisi Pemerhati Anak yang berlangsung di Dekenat Kefamenanu.

Berita terdahulu, Eduardus Fouk (17) siswa kelas 1 SMA Negeri 2 Atambua melapor ke Polres Timor Tengah Utara (TTU), Senin (27/04/2020) malam. Ia menjadi korban salah tangkap dan dikeroyok hingga babak belur oleh 5 anggota Polsek Biboki Anleu, Minggu (26/4/2020) sekitar pukul 02.00 dini hari lantaran dituduh ikut terlibat dalam aksi pengrusakan motor dan pengeroyokan anggota Polsek Biboki Anleu.

Eduardus berdomisili di RT 07/RW 03/ Dusun III Desa Kota Foun, Kecamatan Biboki An|eu. Selama ini bersekolah di SMA Negeri 2 Atambua. Kemudian pulang ke kampung halamannya di Kota Foun untuk berlibur akibat Pandemi Covid-19.

“Benar. Saya sekarang dampingi korban untuk melapor ke SKPT Polres TTU. Karena korban penganiayaan adalah anak di bawah umur. Turut temani, Pak Dirno Opat, S.H, kuasa hukum dari keluarga korban,”jelas Direktur Lembaga Anti Kekerasan Masyarakat Sipil (Lakmas) NTT, Viktor Manbait, S.H, ketika dihubungi wartawan via telepon genggamnya, Senin (27/4/2020) malam lalu.

Dua hari sebelum Brigpol Gerry Taslulu Cs dilaporkan, pada Rabu (06/05/2020) bertempat di Dekenat Kefamenanu Koalisi Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Timor tengah Utara, telah berlangsung pertemuan menyikapi dugaan salah tangkap dan penyiksaan anak oleh Brigpol Gery Taslulu Cs.

Hadir dalam pertemuan Koalisi, Deken Dekenat Kefamenanu Romo Gerardus Salu Pr, Pemuda GMIT Kefamenanu, Perwakilan Mudika Kota Kefamenanu, Yayasan Amnaut Bife Kuan, PLBH Timor, Advokat Keluarga Eduardus Fouk dan Lembaga Advokasi Anti Kekerasan Terhadap Masyarkat Sipil Lakmas Cendana Wangi NTT.

Sejumlah fakta terkait dugaan Salah tangkap dan penyiksaan di bahas dan dikritisi menjadi surat yang akan di sampaikan kepada Kapolres TTU dan sejumlah lembaga terkait dalam melakukan perlindungan terhadap anak korban salah tangkap dan penyiksaan serta penegakan hukum terhadap para terlapor dugaan penyiksaan terhdap anak.

Sesuai rencana, surat koalisi ini akan disampaikan kepada Kapolres TTU dalam Audiens pada hari Senin Tanggal 11 Mei 2020 nanti.

Dalam diskusi tersebut juga bergabung para advokat yang dengan suka rela menawarkan jasa pendampingan hukum bagi anak dan para saksi serta keluarga korban. Hingga kini tercatat 6 orang advokat dari kantor hukum Dyrno’sv Lawyer, PLBH Timor dan Lakmas Cendana Wangi NTT yang akan menjadi pendamping hukum korban .Telah terkonfirmasi juga beberapa pengacara dari Kupang dan dari Jakarta pada YLBHI Jakarta, Kontras Dan Lokataro yang telah dikomunikasikan untuk bergabung dalam team kuasa hukum ini.