Dugaan Korupsi Dana Hibah Rp4 M, Ketua Yayasan Frans Uskono : Ada Alasan SPI Unimor Lakukan Audit Internal, Bukan Yayasan Yang Mengaudit

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Ketua Yayasan Pendidikan Cendana Wangi (Sandinawa) Kefamenanu, kabupaten Timor Tengah Utara, Fransiskus Uskono, meluruskan beredarnya informasi hasil audit Yayasan terhadap dugaan korupsi dana Hibah Yayasan sebesar Rp4 milyar ke Universitas Timor (Unimor) pada 28 April 2015 lalu.

Menurut Uskono, Yayasan tidak pernah mengaudit dokumen penggunaan hibah uang Rp4 milyar dan aset – aset lain yang sudah diserahkan ke Unimor.

“Yayasan tidak pernah mengaudit dokumen pengadaan dan penggunaan dana hibah Rp4 milyar juga aset lain milik Yayasan yang sudah diserahkan ke Unimor, itu bukan kewenangan Yayasan”, tandas Uskono.

Uskono menjelaskan, selama dana dan semua aset diserahkan sejak tahun 2015, tidak pernah ada laporan pertanggungjawaban penggunaan keuangan dan semua aset sehingga ia sebagai Ketua Yayasan, menyurati Rektor Unimor Ir. Arnoldus Klau Berek, M.P, Ph.D (Alm) dengan perihal Pengembalian asett. Berdasarkan surat tersebut barulah SPI ditugaskan Rektor Arnoldus melakukan audit internal untuk beberapa item sesuai permintaan Yayasan.

“Penyerahan aset berupa hibah uang Yayasan Sandinawa kepada Unimor tertuang dalam Berita Acara Nomor : 42/SB.20/P/YS/IV/2015 dan ditanda tangani oleh saya sebagai pihak pertama yang menyerahkan dan pihak kedua yang menerima, Rektor Unimor saat itu Sirilius Seran.

Dengan demikian segala urusan dan tanggungjawab yang berkaitan dengan pembiayaan di lingkungan Unimor, menjadi tanggung jawab Prof. Dr. Sirilus Seran, SE, M.Si (Rektor Unimor saat itu).

Dan karena selama menjabat sebagai Rektor, Sirilius Seran tidak pernah menunjukkan laporan pertanggungjawaban penggunaan dana maka saya menyurati Rektor Unimor periode 2019 – 2023 Arnold Klau (Alm) memohon pengembalian aset lantaran hingga berakhir masa jabatan sebagai Rektor, Sirilius Seran tidak pernah menyerahkan beberapa aset ke Pemerintah setelah Penegrian Unimor. Yayasan minta dikembalikan melalui surat Nomor : 07/SB.20/P/YS/TIV/2019.

Laporan akhir penggunaan dana itu baru diserahkan ke Yayasan setelah dilakukan audit internal oleh Satuan Pengawas Internal Unimor di tahun 2019, setelah kita terima hasil auditnya dan belum sempat selesai diperiksa ternyata sudah ada laporan ke Kejaksaan terkait dugaan Korupsi dana hibah Rp4 milyar dan kami juga sudah diperiksa pihak Kejaksaan Negeri Kefamenanu terkait laporan itu”, beber Uskono.

Disinggung mengenai hibah aset berupa uang yang sudah tertuang dalam berita acara, Uskono menegaskan bahwa tidak ada niat rampas merampas aset yang sudah dihibahkan sejak awal. Ia hanya kecewa uang yang dihibahkan ternyata masuk ke rekening pribadi Sirilus sehingga wajib dilaporkan penggunaan dananya saat masih dibawah penyelenggaraan Yayasan.

Baca Juga : Diduga Korupsi Dana Hibah Yayasan Sebesar Tiga Miliar Rupiah, Mantan Rektor Unimor Dilaporkan ke Kejari TTU

“Kami menilai bahwa semua aset yang dihibahkan Waktu itu, tidak diserahkan ke negara dan tidak disimpan di dalam rekening DIPA tapi disimpan di rekening mantan Rektor, Sirilius Seran sehingga tidak ada salahnya juga kami minta mereka menyampaikan hasil penggunaan ke Yayasan. Berbeda kalau sudah dimasukan ke rekening pemerintah setelah Penegrian Unimor.
Jadi itu alasan kami meminta pengembalian aset berupa uang hibah dan aset lainnya”, lanjut Uskono.

Diakhir wawancara, Uskono juga mengakui bahwa Sirilius Seran setelah selesai masa jabatannya sebagai Rektor Unimor, sempat menemui dirinya dan mengatakan sisa dari hibah uang sebesar Rp4 Milyar masih ada di rekening pribadinya.

“Saat itu bertepatan dengan selesai masa jabatannya, Sirilius Seran datang ke Yayasan menemui saya, ia datang menyampaikan secara lisan bahwa dana hibah Rp4 M itu masih ada sisa dan masih tersimpan di rekening pribadinya.

Sehingga kami dari Yayasan berpikir, kalau uang itu tidak dimasukan ke rekening pemerintah kembalikan saja ke Yayasan karena kita juga butuh biaya untuk mendukung pembangunan Sekolah yang baru”, aku Uskono kepada NTTOnlinenow.com, Senin (04/05/2020) di Kefamenanu.

Sebelumnya diberitakan, Diduga korupsi Rp3 miliar dari total Rp 4 miliar dana hibah dari Yayasan Pendidikan Cendana Wangi (Sandinawa) Tahun Anggaran 2015, mantan Rektor Universitas Negeri Timor (Unimor), Prof. Sirilius Seran, dilaporkan ke Kejaksaan Negeri Timor Tengah Utara (TTU), Kamis (12/12/2019).

Laporan pengaduan disampaikan secara tertulis dilampiri sejumlah bukti oleh Kepala Sub Bagian (Kasubag) Penjaminan Mutu Unimor, Robertus Kefi.

Selain dugaan korupsi dana hibah, beberapa aset yang diduga digelapkan mantan Rektor Sirilius Seran, diantaranya 15 unit komputer yang dibeli pada bulan September – Oktober 2014, 1 unit kendaraan roda empat jenis Kijang Inova DH 1662 SK yang dibeli bulan Oktober 2014, Keuangan yang ada di rekening Yayasan dan rekening FKIP dan Berita Acara Penyerahan Keuangan dari Yayasan Sandinawa ke Rektor Unimor tanggal 27 April 2015.

Semua aset yang diminta untuk dikembalikan itu tidak diserahkan ke negara dan tidak diketahui kejelasannya setelah Unimor berubah status. Dari semua aset yang diduga digelapkan di atas, Yayasan Sandinawa baru menerima kembali kursi kuliah sebanyak 600 buah dan 4 unit komputer yang masih berfungsi baik, aset yang lainnya belum dikembalikan.

Sementara audit internal SPI Unimor berdasarkan Surat Tugas Rektor Arnoldus Klau Berek (Alm) Nomor : 021/UN60/TU/2019 diantaranya, Dokumen pengadaan dan penggunaan dan kondisi terakhir mobil Kijang Inova DH 1661 SK, 15 unit komputer, Status Rekening Giro FKIP yang dikelola Unimor, Status Rekening Giro Rektor Unimor yang dikelola oleh Unimor, Dokumen dan Pengelolaan Keuangan yang diserahkan dari Yayasan Sandinawa kepada Rektor Unimor saat itu.