Badai Corona dan Ketakutan Kita

Bagikan Artikel ini

Oleh Jacob Rebong
In the depth of winter, I finally learned that there was in me an invincible summer— Albert Camus.
Di tengah badai virus Corona, kalimat bertuah dari penulis Prancis diatas, kiranya layak kita renungkan. Dalam bahasa Indonesia kira2 bunyi kalimatnya sebagai berikut. Di kedalaman musim dingin, saya akhirnya menemukan bahwa di dalam diri saya ada musim panas yang tak terkalahkan.

Musim panas dan musim dingin disini dipakainya secara simbolis. ‘Winter’ adalah kesusahan atau penderitaan sedangkan ‘Summer’ adalah kebalikannya, kelegaan, suka cita.

Badai Corona sudah cukup lama. Cina dan Korea Selatan yg sempat diberitakan berhasil mengatasi badai itu, belakangan ini kembali diamuknya. Korsel, konon menghadapi gelombang baru Corona yg bahkan tanpa gejala dan umumnya dibawa kalangan muda usia. Negeri kita sendìri, seperti juga banyak negeri lain, belum jelas kapan titik puncak penderitaan ini.

Tapi kembali ke Camus, yg penting adalah ini. Sudahkah kita temukan ‘the invincible summer’ dalam diri masing2 kita?

Corona menebar ketakutan. Yang masih sehat takut ketularan, yg sudah terjangkit takut kesakitan dan puncaknya, takut mati.

Jadi yg kita cari adalah jaminan bahwa kita pasti selamat.

Camus sudah menemukan itu dalam dirinya. Dia manusia yg sama seperti kita. Maka ‘The invincible summer’ itu pasti ada dalam diri setiap kita.*** (Penulis adalah mantan Wartawan Senior).