Ketiadaan APD Terpaksa Gunakan Popok Bayi

Bagikan Artikel ini

Laporan Alvaro S. Marthin
Ruteng, NTTOnlinenow.com – Sungguh ironi! “Tak ada batang, akarpun jadi”. Ya, mungkin itulah pepatah yang tepat untuk ditujukan kepada tim penanganan covid-19 desa Mata Wae, kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini.

Bagaimana tidak? Ditengah makin ganasnya serangan virus Corona yang kian mewabah dihampir seluruh pelosok negeri ini, desa yang merupakan sebagai salah satu garda terdepan ditingkat bawah dalam upaya memerangi penyebaran virus mematikan itu terus dipacu untuk turut serta dalam memutuskan mata rantai penyebarannya.

Namun sayangnya, spirit yang dimiliki itu tak dibarengi dengan kesiap siagaan negara akan ketersediaan fasilitas yang memadai untuk digunakan oleh berbagai pihak, terutama pihak yang terlibat langsung dalam menghalau penyebaran virus berbahaya itu. Mulai dari pihak medis, gugus tugas tingkat kabupaten hingga desa, termasuk masyarakat umum. Salah satunya yang paling dibutuhkan saat ini adalah Alat Pelindung Diri (APD) atau yang paling sederhana seperti masker.

Kesulitan mendapat masker masih terjadi. Seperti yang dilakukan Pj. Kepala Desa Mata Wae, Martinus Jemalur, saat berposko di Nte’er jalur Trans Flores Ruteng-Labuan Bajo, Kamis, 16 April 2020. Akhibat ketiadaan APD jenis masker, maka tanpa malu sedikitpun, dirinya terpaksa menggunakan popok bayi sebagai pengganti masker.

“Ya, mau bilang apa? Ini tugas kemanusiaan. Kita kesulitan mendapatkan masker, terpaksa gunakan popok ini. Kita jangan menunggu masker, yang terpenting ada kain yang bisa dijadikan sebagai masker,” ujar Pj. Kepala Desa Mata Wae itu kepada wartawan, disela-sela kegiatan pendataan warga baru tiba dari luar daerah siang itu.

Pendataan itu dilakukan sebagai tindaklajut dari instruksi pemerintah Kabupaten Manggarai terhadap setiap warga/ masyarakat yang baru tiba dari luar daerah, terutama dari daerah yang positif terpapar virus corona, seperti Malaysia, Kalimantan, Papua, Jakarta, Jawa, Bali dan Makassar.

Disusul pula dengan jadwal masuknya kapal Motor (KM) Tilongkabila dari Makassar dan KM Binaiya dari Denpasar-Bali di pelabuhan Labuan Bajo, Kamis dini hari.

Seluruh pelaku perjalanan (penumpang travel dari arah Labuan Bajo, termasuk dengan kendaraan roda dua/sepeda Motor) yang hendak ke kecamatan Satar Mese Utara diberhentikan sejenak di posko covid-19 di Nte’er untuk dilakukan pendataan terlebih dahulu oleh petugas, sekaligus sosialisasi terkait pentingnya social distancing guna mencegah penyebaran virus corona.

Kegiatan itu didampingi oleh Sekcam Satar Mese Utara, Leksi Obo, Bhabinsa, Serda Kusumaningrat, Pendamping Kecamatan, Yopi Lobo, ketua BPD, Damianus Sadur bersama sejumlah perangkat desa Mata Wae.

Pada kesempatan itu, Leksi Obo mengatakan, pendataan ini penting dilakukan selain menindaklanjuti instruksi Bupati Manggarai, juga dalam rangka untuk memudahkan pihak medis ditingkat Puskesmas dalam melakukan pemantauan nantinya.

Menurutnya, keberadaan Posko Covid-19 di Nte’er sebagi jalur Trans Flores Ruteng-Labuan Bajo harus diambil alih oleh pemerintah kabupaten karena merupakan salah satu pintu masuknya para pelaku perjalanan dari luar daerah yang hendak masuk ke Kabupaten Manggarai dengan mensiagakan petugas medis khusus untuk melakukan screening terhadap setiap orang yang datang dari wilayah positif terpapar corona.

“Mestinya disini harus dibangun posko oleh pemerintah kabupaten karena sebagai pintu masuk utama dari luar daerah, terutama dari Labuan Bajo, kabupaten Manggarai Barat. Semua pelaku perjalan discreening disini dulu,” ungkapnya.

Kepada seluruh pelaku perjalan yang telah didata diminta untuk mengikuti instruksi pemerintah tentang social distancing dan wajib melaporkan diri ke posko covid-19 yang ada di desa masing-masing atau langsung mendatangi Puskesmas setempat apabila mengalami gejala batuk, demam, pilek atau flu.

“Kalau mengalami sakit demam, batuk, pilek dan flu harus segera mendatangi puskesmas atau melaporkan ke posko covid-19 yang ada didesa masing-masing,” tutup Leksi Obo.